adakah riba pada gopay gojek

Riba pada GOPAY dan GOJEK, Adakah?

Apakah ada riba pada layanan GO-PAY dan GO-JEK? Ini adalah pertanyaan yang sekarang lazim ditanyakan oleh kaum muslimin yang peduli tentang halal dan haram layanan ojek online ini. Tulisan tentang hukum GO-PAY ini insya Allah akan saya perbaharui jika ada informasi terbaru (silakan lihat pada bagian bawah artikel ini).

***

[Update: per Mei 2017, saya cek langsung ke website resmi GO-JEK Indonesia, ternyata ketentuan Go-Pay sudah berubah. Sekarang saldo Go-Pay bisa ditarik tunai dan bahkan bisa ditransfer antar rekening Go-Pay, sehingga konsekuensi hukumnya pun berubah, silakan lihat update keterangannya di bagian bawah, terutama keterangan dari ustadz Dr. Erwandi Tarmizi dan ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri]

***

Permasalahan tentang adakah riba pada layanan ojek online ini tambah menghangat akhir-akhir ini di Facebook, sejak adanya publikasi artikel dari Sekolah Muamalah mengenai keharaman layanan Go-Pay ini.

Sebenarnya, apakah benar ada riba pada layanan Go-Pay dan Go-Jek?

Sekarang, kita lihat dulu di transaksi Go-Pay, apakah ada akad hutang? Sekolah Muamalah menjelaskan bahwa di transaksi Go-Pay ada akad hutang piutang. Berikut ini analisa dari Sekolah Muamalah (link: http://sekolahmuamalah.com/riba-pada-ojek-online/):

akad riba hutang piutang di go-pay

riba pada gopay gojek

Kembali pada pertanyaan sebelumnya, apakah memang ada akad hutang piutang di transaksi Go-Pay?

Pada halaman Frequently Asked Questions pada website resmi Go-Pay, dijelaskan bahwa Go-Pay yang sebelumnya bernama Go-Jek Wallet adalah dompet virtual untuk menyimpan Go-Jek Credit yang itu nanti bisa digunakan untuk membayar seluruh transaksi yang ada pada seluruh layanan Go-Jek (Go-Ride, Go-Card, Go-Food, Go-Send, Go-Mart, Go-Box, Go-Massage, Go-Clean, Go-Glam, Go-Tix, dan lain-lain). Dengan menggunakan Go-Pay ini maka konsumen tidak perlu membayar dengan uang tunai setiap kali bertransaksi menggunakan layanan-layanan tersebut. Konsumen cukup membayar dengan menggunakan saldo yang ada di akun Go-Pay mereka.

Ada satu poin penting yang menjadi titik kunci apakah di Go-Pay ada transaksi riba hutang piutang? Yaitu pada poin pertanyaan berikut ini:

apakah ada riba-gopay gojek

Ternyata saldo Go-Pay tidak bisa diuangkan (untuk saat ini).

[Update: per Mei 2017, saya cek langsung ke website resmi GO-JEK Indonesia, ternyata ketentuan ini sudah berubah. Sekarang saldo Go-Pay bisa ditarik tunai dan bahkan bisa ditransfer antar rekening Go-Pay, sehingga konsekuensi hukumnya pun berubah, silakan lihat update keterangannya di bagian bawah, terutama keterangan dari ustadz Dr. Erwandi Tarmizi dan ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri]

Saya mencoba untuk menyimpulkan dan menautkan benang merah permasalahan ini dengan menggunakan tulisan ustadz Ammi Nur Baits “Go Pay itu Riba?” di KonsultasiSyariah.com Yufid Network.

Ustadz Ammi Nur Baits, pengasuh KonsultasiSyariah.com, setelah melihat ketentuan dan aturan main pada transaksi Go-Pay tersebut, beliau memberikan kesimpulan bahwa pada akad transaksi Go-Pay bukan merupakan akad hutang piutang. Dengan menimbang 2 poin di atas:

apakah gopay gojek riba

Ustadz Ammi Nur Baits menyatakan bahwa akad pada Go-Pay bukanlah akad hutang piutang dan tidak bisa disamakan dengan akad hutang piutang, karena saldo Go-Pay tidak bisa diuangkan atau dikembalikan kepada konsumen sebagai pemilik uang. Berbeda halnya dengan akad hutang piutang yang tentu saja kita semua tahu bahwa orang yang berhutang harus mengembalikan uang yang dia hutangi kepada pemilik uang.

Jadi, Go-Pay adalah akad ijarah, yaitu akad jual beli jasa. Dalam transaksi Go-Pay konsumen mengisi saldo akun Go-Pay mereka terlebih dahulu (top-up). Sekarang yang jadi pertanyaan, apakah boleh dalam akad ijarah konsumen atau pembeli membayar di muka sebelum melakukan mendapatkan jasa? Jawabannya, tentu saja boleh.

Mari kita baca penjelasan ustadz Ammi Nur Baits berikut ini:

akad ijarah gopay bayar dimuka

Apabila konsumen atau pengguna jasa Go-Pay mendapatkan diskon, apakah ini boleh?

Pada penjelasan di atas, sudah jelas bahwa dalam transaksi Go-Pay tidak ada akad hutang piutang. Akad Go-Pay adalah akad ijarah yang disegerakan (konsumen bayar di muka). Oleh karena itu pembahasan benefit diskon pada Go-Pay tidak lagi pada konteks transaksi hutang piutang (yang mana kaidah dalam Fiqih adalah: Setiap Hutang yang mengambil manfaat adalah riba). Namun pembahasan fitur diskon ini (jika ada) adalah pada konteks transaksi ijarah yang disamakan dengan akad salam. Mari kita simak penjelasan ustadz Ammi Nur Baits berikut ini:

diskon gopay apakah riba

diskon pada gopay apakah riba

Kemudian ustadz Ammi menyimpulkan dari penjelasan Ibnu Qudamah dan Ibnul Mundzir di atas, bahwa sebagaimana ketentuan akad salam di atas berlaku terhadap barang, juga berlaku terhadap jasa. Jadi, boleh bagi konsumen Go-Pay untuk memanfaatkan fasilitas diskon yang mereka dapatkan sebagai konsumen Go-Pay.

CATATAN PENTING:
Kesimpulan di atas berlaku apabila bentuk transaksi pada Go-Pay sebagaimana yang kami paparkan di atas. Apabila bentuk dan ketentuan transaksi di Go-Pay berubah maka perlu peninjauan ulang dan diteliti kembali apakah ada riba atau tidak.

***

[Update: per Mei 2017, saya cek langsung ke website resmi GO-JEK Indonesia, ternyata ketentuan ini sudah berubah. Sekarang saldo Go-Pay bisa ditarik tunai dan bahkan bisa ditransfer antar rekening Go-Pay, sehingga konsekuensi hukumnya pun berubah, silakan lihat update keterangannya di bagian bawah, terutama keterangan dari ustadz Dr. Erwandi Tarmizi dan ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri]

***

***UPDATE HUKUM GO-PAY, 9 MEI 2017***

hukum gopay, apakah ada riba pada gopay, gopay haram?

Ada perubahan pada halaman Ketentuan Penggunaan Fitur di laman resmi GO-PAY. Perubahan ini cukup signifikan, yaitu pengguna GO-PAY dapat menarik tunai uang yang sebelumnya mereka Top-Up, dan bahkan pengguna GO-PAY dapat mentransfer dana ke akun pengguna GO-PAY yang lainnya. Dan ini mengubah konsekuensi hukum layanan GO-PAY ini secara syariat.

Untuk lebih jelasnya, silakan Anda tonton video penjelasan ustadz Dr. Erwandi Tarmizi berikut ini.

 

***UPDATE HUKUM GO-PAY, 12 JULI 2017***

Dr. Muhammad Arifin Badri (pakar ekonomi syariah dan pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia), beliau mengomentari tentang hukum Go-Pay dan hukum Go-Food. Komentar beliau ini senada dengan komentar Dr. Erwandi Tarmizi pada video di atas. Silakan Anda membaca kesimpulan beliau di bawah ini. Mohon Anda baca dengan cermat dan renungkan…

hukum go-food dan go-pay hukum go-food dan go-pay hukum go-food dan go-pay

[Mulai Tulisan Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri]

Polemik Seputar Go-Food, dan Go-Pay

Anda tahu, bahwa aplikasi aplikasi di atas dibuat tanpa peduli halal haram? Minimal tanpa konsultasi dengan ahli fiqih?

Jadi harap maklumi para ahli fiqh bila kini mereka menyoal semua aplikasi di atas. Salah sendiri, bikin ndak bilang bilang dulu.

Anda penasaran mengapa semua itu dipermasalahkan?

Sederhana kok, pada praktek aplikasi itu ada celah besar dan pintu lebar terjadinya praktek riba.

Anda berhutang dulu, lalu kalau pesanannya telah datang, Anda bayar.

Atau Anda menghutangi dulu (deposit) dulu, lalu dibelikan pesanan anda, dan karena anda telah deposit alias menghutangi dulu, maka anda mendapat harga special alias potongan harga, atau yang dalam istilah para ulama’ fiqih disebut dengan al-Muhabaah.

Dan jangan lupa Anda juga harus beli jasa driver ojeknya.

Jadi pada setiap anda pesan maka terjadi dua akad:

  1. Hutang piutang (talangan pembayaran)
  2. Jual beli jasa.

Kedua akad ini saling bertautan, alias driver mau ngutangi karena mengharap jasanya laku, dan Anda mau membeli jasanya karena Anda dihutangi. Alias hutang piutang yang semula berupa akad sosial kini menjadi banci alias setengah sosial setengah komersial atau bahkan malah telah beralih jenis menjadi komersial, dan inilah rahasia haramnya riba.

Akad semacam ini terlarang dalam hadits berikut:
لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ،
“Tidak halal menggabungkan antara akad hutang piutang dengan akad jual beli.” (Hadis Ahmad, Abu Dawud dll)

Belum lagi bila ditinjau dari dampak perekonomian yang begitu mengerikan:

  1. Mempercepat kapitalisasi ekonomi, mayoritas transaksi dikuasai segelintir orang.
  2. Menyebabkan banyak UKM kelimpungan.
  3. Melipatgandakan kemalasan.
  4. Mempercepat budaya buruk sistem ekonomi konvensional, yaitu belanja non tunai.
  5. Melipatgandakan budaya konsumtif yang berlebihan.
  6. Menyegerakan kematian pasar dan perdagangan tradisional.

Dan masih banyak lagi dampak buruk yang dapat merusak masa depan perekonomian rakyat.

Kesimpulan

Sejak saat ini, katakan: selamat tinggal Go-Food dan Go-Pay, dan saatnya para suami berkata kepada istri masing masing: Lets go, we are shopping together, it’s better insya Allah.

Wallahu Ta’ala A’alam bisshawab.

[Selesai teks komentar ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri]

 

Referensi:

  1. https://konsultasisyariah.com/29181-go-pay-itu-riba.html Apakah ada riba pada Go-Pay? oleh ustadz Ammi Nur Baits
  2. http://www.go-pay.co.id/faq/id Go-Pay FAQ
  3. http://sekolahmuamalah.com/riba-pada-ojek-online/ Riba pada Ojek Online, oleh Sekolah Mualamah
  4. https://pengusahamuslim.com/1555-transaksi-jual-beli-salam.html Apa itu jual beli Salam?
  5. http://pengusahamuslim.com/2652-istisna-salam-ijarah-1412.html Apakah beda Istisna’, Salam, Ijarah, Dan Muqawalah?

 


Nonton dulu yuk ^^

Ini adalah random video dari channel youtube.com/banghencom
Yuk klik tombol subscribe ini untuk mendapat info video terbaru ^^


Kata kunci:

hukum go pay, gopay riba, go pay haram, hukum gopay, hukum ojek online dalam islam, hukum gojek dalam islam...

(Visited 15,744 times, 39 visits today)
This Article Has 6 Comments
  1. Riba pada Gopay dan Gojek Reply

    Apakah Go-Pay itu Riba?

    Ustadz Ichwan Muslim:
    Sebagai ralat atas broadcast yang kami share sebelumnya, yaitu artikel yang tercantum di link berikut: http://sekolahmuamalah.com/riba-pada-ojek-online/ dengan ini kami menyampaikan bahwa:

    #1 Mekanisme pengisian Go-Pay adalah user mengisi saldo Go-Pay dengan melakukan transfer via bank atau top-up via driver. Nominal uang yang ditransfer akan diganti dengan saldo elektronik.

    #2 Deposit saldo elektronik ini yang akan digunakan untuk membayar jasa driver ojek. Pemotongan saldo disesuaikan dengan perhitungan yang berasal dari aplikasi.

    #3 Diskon atas deposit saldo elektronik yang dilakukan, tidak bisa dipandang sebagai ‘riba’ karena tidak adanya akad hutang-piutang yang terjadi dan pada dasarnya yang menjadi objek pertukaran adalah saldo elektronik dengan “jasa ojek” yang tidak termasuk sebagai komoditi ribawi. Dengan demikian hukum-hukum riba tidak dapat diberlakukan dalam transaksi ini. Demikian koreksi kami atas broadcast sebelumnya. (BC WA Ustadz Ichwan Muslim)

    ***

    Benarkah Ada Riba Pada Ojek Online?

    Hukum adalah cabang dari mindset terhadap objek hukumnya. Jika mindsetnya keliru, dipastikan kesimpulan hukumnya pun akan keliru.

    Telah viral sebuah tulisan dalam kasus muamalah yang tengah aktual sekarang ini, yaitu fitur Go Pay sebagai alat pembayaran yang diterbitkan oleh perusahaan Go Jek untuk keperluan pembayaran layanan-layanan Go Jek seperti Go Food, Go Ride, Go Mart dan lain-lain. Di dalam tulisan tersebut disimpulkan bahwa fitur Go Pay mengandung riba, jika ada manfaat yang didapatkan oleh user atau pemilik saldo diluar layanan yang semestinya.

    Kesimpulan hukum yang dibuat itu dibangun diatas mindset bahwa pembelian saldo Go Pay sama dengan qard (utang), sama halnya dengan saldo rekening di bank. Penulisnya menganggap Go Pay semacam Bank.

    Yang kiranya perlu diamati disini adalah, apakah benar saldo Go Pay sama dengan saldo di rekening bank?

    Saldo di rekening bank jelas berstatus sebagai qard. Karena ia hakikatnya adalah uang tunai yang kita simpan di bank, dan kapan saja kita bisa menariknya dalam bentuk uang tunai pula seperti pertama kali kita menyetorkannya.

    Hal ini berbeda dengan saldo Go Pay, dimana ia hanya dapat digunakan untuk biaya yang hanya berkaitan dengan layanan-layanan tertentu saja seperti yang telah dijelaskan diatas.

    Dari kesimpulan itu, hemat saya, saldo Go Pay bukan qard, pembelian saldo itu lebih dekat kepada gambaran jual beli salam. Uang yang diberikan merupakan pembayaran dimuka untuk jasa (seperti untuk pembayaran Go Ride) atau barang (seperti untuk pembayaran Go Mart) yang nanti akan diterima oleh pembeli manakala ia menggunakan saldo tersebut.

    Mengapa saldo Go Pay tidak bisa dikatakan sebagai qard? alasan paling mendasar adalah karena saldo itu tidak bisa dicairkan ke dalam uang tunai atau ditransfer kembali ke rekening bank kita, sementara pengertian qard itu sendiri adalah,

    أن يدفع المقرض للمقترض عينا معلوما من الأعيان المثلية الي تستهلك بالانتفاع بها ليرد مثلها

    “Seorang kreditur memberikan sebuah barang/uang (yang memiliki padanan) kepada seorang debitur untuk dimanfaatkan dan dikembalikan dalam bentuk padanannya.” (Ushul Fi al Riba, hal. 213)

    Berbeda dengan definisi qard diatas, saldo Go Pay tidak bisa dikembalikan dalam bentuk uang tunai. Karenanya saldo Go Pay tidak bisa dihukumi seperti qard. Ia hakikatnya seperti Kartu Belanja yang diterbitkan oleh suatu toko untuk mengikat para konsumennya.

    Dalam penjelasan tentang Kartu Belanja Ustadz DR. Erwadi Tarmidzi, MA hafidzahullah mengatakan,

    “Kartu belanja berbeda dengan cek, karena cek dapat dicairkan dan ditukar dengan uang tunai, sedangkan kartu belanja tercantum pada kartu tersebut, “bahwa kartu ini tidak dapat ditukar dengan uang tunai.” Hanya dapat digunakan untuk berbelanja pada toko yang menerbitkannya.” (Harta Haram Muamalat Kontemporer, hal. 587)

    Beliau juga mengatakan,

    “Dalil pendapat ini (pendapat kedua): Hakikat kartu belanja dalam tinjauan fikih adalah tanda bukti uang yang diberikan dalam akad salam, yaitu uang dimuka dan barang diterima kemudian.” Beliau kemudian menguatkan pendapat yang kedua ini. (Idem, hal. 588)

    Saldo Go Pay juga memiliki kemiripan dengan kartu pulsa.

    Ketika menjelaskan gambaran kartu pulsa, Ustadz DR. Erwandi Tarmizi, MA berkata,

    “Tidak benar bahwa kartu pulsa sama dengan dokumen utang, karena utang dalam terminology fikih harus dikembalikan barang yang sejenis, bila pinjam uang yang dikembalikan haruslah uang. Berbeda dengan kartu pulsa, yang diberikan kepada perusahaan penerbit kartu adalah uang sedangkan perusahaan tidak mengembalikan uang kepada pembeli, yang dikembalikan perusaan hanya lah jasa pelayanan telekomunikasi.” (Idem, hal. 585)

    Dalam saldo Go Pay, yang dikembalikan oleh perusahaan Go Jek sebagai penerbit fitur Go Pay adalah layanan-layanan yang tertera saja.

    Jika demikian, fasilitas yang diberikan oleh Go Jek seperti potongan harga dan lain-lain, tidak bisa disimbulkan sebagai Riba.

    Wallahu A’lam.

    Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, 10 Februari 2017

  2. elis Reply

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
    setelah beredar broadcast ttg ribanya gopay sy langsung menstop pemakaian gojek dgn menggunakan gopay, sy blm terlalu yakin apa benar gopay itu riba tapi utk kehati-hatian saya menstop pemakain gopay. setelah baca artikel diatas sy langsung baca jg terms & condition gopay terupdate. setelah saya baca ternyata utk sekarang gopay bisa bisa diuangkan http://www.go-pay.co.id/terms sy sedikit mengutip :
    Layanan GO-PAY adalah layanan yang tersedia di GO-PAY termasuk:
    Top-Up;
    Pembayaran;
    Transfer Dana;
    Penarikan Tunai; dan/atau
    Layanan lainnya yang dapat kami tambahkan dari waktu ke waktu sebagaimana disetujui oleh Bank Indonesia, atau pihak berwenang terkait.
    sekarang sy sdh yakin bahwa gopay itu riba.

    • Hendri Syahrial Reply

      Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
      Terimakasih atas info terbarunya bu Elis. Insya Allah saya update artikel ini.

      Wassalamualaikum

  3. Rony Reply

    Afwan ustad bagaimana jika di liat dari sisi driver nya?
    Apa ikut sbagai pemakan riba juga jika gopay di anggap sebagai riba?
    Sedangkan driver hanya menerima hak atas kerjaannya..
    Mohon pencerahannya ustad..
    Syukron

  4. Qistan Reply

    Gimana kalau udah terlanjur membeli saldo, solusinya gimana?

Leave a Reply