Satu Cara Mudah Hidup Penuh Berkah

Seorang ulama salaf berkata:

كلما زاد حزبي من القرآن، زادت البركة في وقتي، ولا زلت أزيد حتى بلغ حزبي عشرة أجزاء

“Semakin banyak bacaan Al-Quranku, bertambah pula keberkahan dalam waktuku. Aku pun terus menambah bacaan harian Al-Quranku, hingga mencapai sepuluh juz perhari.”

Sobat, Al-Quran adalah kitab yang penuh berkah. Salah satu dalilnya, Allah berfirman dalam Al-Quran:

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, PENUH DENGAN BERKAH, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29)

Sobat, jika ingin hidup berkah, mendekatlah kepada Al-Quran: bacalah, renungkan ayat-ayatnya, dan amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yuk, kita ganti scrolling media sosial dengan reading Al-Quran.

Setiap selesai shalat 5 waktu, bacalah minimal 4 halaman (2 lembar), berarti setiap hari kita membaca 1 juz Al-Quran (20 halaman atau 10 lembar). Maka, insya Allah dalam sebulan kita selesai membaca 30 juz Al-Quran.

Sobat, apabila target di atas dirasa terlalu banyak, bacalah minimal setengah halaman perhari. Insya Allah dalam sebulan Anda telah membaca 15 halaman Al-Quran.

Setelah membacanya, duduklah sejenak untuk membaca terjemahannya. Renungkan makna-maknanya. Inilah bagian dari tadabur Al-Quran. Oleh karena itu, kami anjurkan Sobat menggunakan mushaf Al-Quran yang ada terjemahannya.

Baarokallaahu fiikum

Amal Saleh Itulah Syukur

Sobatku yang baik hatinya…

Allah pernah memerintahkan satu hal yang sangat sederhana, tetapi maknanya dalam sekali:

وَاشْكُرُوا لِلَّهِ
“Dan bersyukurlah kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 172)

Perintahnya singkat. Hanya satu kata: bersyukur.

Namun, bagaimana sebenarnya bentuk syukur itu?

Apakah cukup dengan mengucap alhamdulillah?

Para ulama menjelaskan, syukur tidak berhenti di lisan. Ia dimulai dari hati, lalu mengalir ke ucapan, dan akhirnya tampak dalam amal.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

Artinya, apa pun yang kita miliki hari ini: iman, kesehatan, keluarga, kesempatan berbuat baik, semuanya datang dari Allah.

Kesadaran inilah awal syukur. Hati mengakui: ini semua karunia dari-Nya.

Lalu lisan menyusul. Kita memuji-Nya, menyebut nikmat-Nya, dan tidak mengingkarinya.

Namun, syukur yang paling nyata terlihat dalam amal.

Karena hakikat syukur adalah ketaatan yang kita kerjakan setiap hari.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima amal kecuali yang baik. Dan Allah memerintahkan orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik, dan LAKUKANLAH AMAL SALEH.'” (HR. At-Tirmidzi)

Perhatikan, setelah perintah menikmati yang baik, Allah langsung memerintahkan amal saleh.

Seakan-akan Allah mengajarkan: nikmat itu dibalas dengan amal.

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian, dan BERSYUKURLAH kepada Allah jika benar-benar hanya kepada-Nya kalian menyembah.”
(QS. Al-Baqarah: 172)

Sobatku…

Amal saleh itulah syukur.
Dan syukur adalah obat dari penyakit hati yang sering tidak terasa: ujub, merasa hebat dengan diri sendiri.

Orang yang benar-benar bersyukur tidak akan takjub dengan amalnya. Ia tahu, semua itu terjadi karena taufik dari Allah.

Ia bisa salat karena Allah memudahkan.
Ia bisa bersedekah karena Allah melapangkan.
Ia bisa berpuasa karena Allah menguatkan.

Allah Ta’ala berfirman:

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Maka sembahlah Allah saja, dan jadilah termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az-Zumar: 66)

Orang yang bersyukur sadar betul: semua karunia berasal dari Rabbnya. Lalu, apa yang mau dibanggakan dari dirinya?

Karena itu, salah satu obat paling mujarab untuk menghilangkan ujub adalah mengingat nikmat Allah.

Engkau salat.
Engkau berpuasa.
Engkau bersedekah.
Engkau berbuat baik kepada orang lain.

Semua itu tidak terjadi kecuali karena taufik, kemudahan, dan pertolongan dari Allah.

Lalu apa yang pantas kita lakukan setelah itu? Bersyukur kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“BERAMALLAH, wahai keluarga Daud, SEBAGAI BENTUK SYUKUR. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba: 13)

Ayat ini tegas sekali: beramallah sebagai bentuk syukur.

Jadi, syukur bukan sekadar ucapan. Syukur adalah amal yang terus hidup dalam keseharian.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Dirangkum dari ceramah Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf, program Nasehat Ulama Yufid TV