Ketenangan dalam Menerima Takdir

Sahabatku yang sedang menata hati…

Tulisan ini bukan sekadar bacaan, melainkan pengingat lembut di tengah lelah yang sering tak terucap.

Mari sejenak kita membacanya dengan tenang…

bacaan-shalat-maghrib-untuk-mualaf-belajar-salat
[Klik gambar untuk membeli ebook BUKU PEGANGAN SHALAT MAGHRIB]

Ada satu hal dalam hidup yang sering luput kita sadari: ketenangan batin tidak selalu lahir ketika semua berjalan sesuai rencana.

Ia justru hadir ketika rencana runtuh, dan hati memilih berserah.

Iman pun tidak diuji saat segalanya terasa mudah.

Ia diuji ketika usaha telah maksimal, doa telah lama dipanjatkan, namun hasilnya datang dengan arah yang berbeda dari harapan. Bukan saat berhasil, tetapi ketika gagal.

Bukan ketika lapang, tetapi saat sempit.

Bukan ketika dipuji, tetapi saat kenyataan terasa menyakitkan.

Di titik inilah Islam mendidik jiwa dengan adab yang agung: menjaga lisan dari satu kata yang tampak sederhana, namun berbahaya: “seandainya…”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, janganlah berkata, ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu.’ Akan tetapi katakanlah: Qadarullah wa maa syaa’a fa’ala, karena kata ‘seandainya’ membuka pintu amalan setan.” (HR. Shahih Muslim)

Ucapan “seandainya” bukan sekadar penyesalan. Ia sering menjadi pintu masuk kegelisahan, rasa bersalah, dan duka yang tak kunjung reda.

Padahal, segala yang terjadi telah ditulis dengan ilmu Allah yang sempurna, dengan keadilan-Nya yang mutlak, dan dengan hikmah yang sering baru kita pahami setelah waktu berlalu.

Pesawat yang tertinggal, peluang yang hilang, atau rencana yang gagal, belum tentu musibah…

Boleh jadi itulah bentuk perlindungan Allah, menjauhkan kita dari bahaya yang tak pernah kita lihat, atau menyelamatkan kita dari keburukan yang jauh lebih besar.

Tawakal bukan pasrah tanpa usaha. Ia adalah ketenangan setelah ikhtiar, ketundukan hati setelah doa,
dan keikhlasan menerima keputusan Rabb semesta alam,
yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Ketika lisan mengucap, “Qadarullah wa maa syaa’a fa’ala,” sejatinya hati sedang berkata:

“Ya Allah, aku ridha Engkau yang mengatur hidupku.”

Inilah ibadah yang sunyi, hanya Allah dan engkau yang mengetahuinya. Amalan ini berat timbangannya. Inilah yang disebut amalan hati.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Di situlah ketenangan bermula: saat hati diberi petunjuk, lalu yakin kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan akhirnya tenang.

Baarokallaahu fiikum

Visited 6 times, 1 visit(s) today
cara-sholat-bacaan-shalat-untuk-mualaf
[Klik gambar untuk membeli ebook BUKU PEGANGAN SHALAT MAGHRIB]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *