Sahabatku yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Pernahkah engkau bertanya dalam diam, mengapa ujian seakan tak memberi jeda?
Mengapa luka datang silih berganti, sementara doa-doa telah lama dipanjatkan?
Mari sejenak kita duduk tenang, membaca renungan singkat ini dengan hati yang jujur.
Sering kali kita menyangka bahwa hidup yang sempurna adalah tanda kasih sayang Allah.
Padahal, tidak jarang Allah justru memperkenalkan diri-Nya kepada kita bukan di puncak tawa, melainkan di lembah air mata yang paling sunyi.
Bukan ketika tubuh sehat dan hari terasa lapang kita benar-benar mengenal Sang Penyembuh, melainkan saat jiwa dan raga runtuh tak berdaya. Remuk redam…
Bukan ketika merasa diri selalu benar kita mengenal Allah Sang Maha Pengampun, melainkan saat dada sesak oleh kesadaran akan dosa.
Dan bukan pula ketika hidup ramai dan penuh perhatian kita merasakan kasih sayang-Nya, melainkan saat kita jatuh bangun sendirian, tanpa sandaran selain doa.
Maka renungkanlah, jika hidup ini selalu mudah dan sempurna, apakah hati kita masih akan sungguh-sungguh bersujud?
Apakah kita masih merasa benar-benar memerlukan-Nya?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Setiap sakit, setiap keterpurukan, adalah cara Allah meruntuhkan kesombongan yang halus dalam diri kita.
Agar kita sadar, bahwa kita ini lemah, dan sesungguhnya tidak memiliki siapa-siapa selain Dia.
Menahan perih dalam kesabaran dan ketaatan bukanlah tanda kelemahan.
Justru di sanalah letak kekuatan seorang hamba: ketika ia memilih tetap bersama Allah meski hatinya sedang terluka.
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)
Jika engkau sedang terluka hari ini, mungkin bukan karena Allah menjauh darimu, melainkan karena Dia sedang mendekatkanmu dengan cara yang paaling dalam.

