Sobat, perhatikan Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 75:
مَّا ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ وَأُمُّهُۥ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ ٱلطَّعَامَ ٱنظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ ٱلْءَايَٰتِ ثُمَّ ٱنظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Artinya:
“Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. KEDUANYA BIASA MEMAKAN MAKANAN. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahli Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (oleh keinginan mereka).”
Perhatikan penggalan ayat di atas yang berhuruf kapital:
“KEDUANYA BIASA MEMAKAN MAKANAN.”
Yaitu Nabi Isa dan Ibunya (Maryam) adalah manusia biasa yang juga sehari-hari memakan makanan, sama seperti manusia pada umumnya.
Satu hal lagi yang hampir tidak terpikirkan oleh kita adalah: Nabi Isa dan Maryam biasa memakan makanan, berarti apa? Berarti keduanya juga BUANG AIR BESAR (BAB), sama seperti manusia pada umumnya.
Apakah pantas keduanya dijadikan tuhan?
Sungguh indah ya gaya bahasa Al-Qur’an. Haluuus sekali… bahkan untuk mengungkapkan sesuatu dianggap “kotor” dan “tabu” dengan pilihan kata yang suci dan indah.

