Wahai Anakku Sayang, Sungguh Allah Maha Lembut

يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللهُ ۚ إِنَّ اللهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata), “Wahai anakku sayang, sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Teliti.” (QS. Luqman: 16)

Ketenangan dalam Menerima Takdir

Sahabatku yang sedang menata hati…

Tulisan ini bukan sekadar bacaan, melainkan pengingat lembut di tengah lelah yang sering tak terucap.

Mari sejenak kita membacanya dengan tenang…

Ada satu hal dalam hidup yang sering luput kita sadari: ketenangan batin tidak selalu lahir ketika semua berjalan sesuai rencana.

Ia justru hadir ketika rencana runtuh, dan hati memilih berserah.

Iman pun tidak diuji saat segalanya terasa mudah.

Ia diuji ketika usaha telah maksimal, doa telah lama dipanjatkan, namun hasilnya datang dengan arah yang berbeda dari harapan. Bukan saat berhasil, tetapi ketika gagal.

Bukan ketika lapang, tetapi saat sempit.

Bukan ketika dipuji, tetapi saat kenyataan terasa menyakitkan.

Di titik inilah Islam mendidik jiwa dengan adab yang agung: menjaga lisan dari satu kata yang tampak sederhana, namun berbahaya: “seandainya…”

Continue reading Ketenangan dalam Menerima Takdir

3 Perniagaan yang Tak Pernah Merugi

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, baik secara rahasia maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah memenuhi pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh Dia Maha Pengampun Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29–30).

Dari ayat di atas, ada 3 amal saleh yang Allah sifatkan dengan perniagaan yang takkan pernah rugi, selalu untung:

  1. Senantiasa membaca Al-Quran.
  2. ⁠Mengerjakan Shalat.
  3. ⁠Sedekah.

Banghen

Bersegera Mendatangi Amal Ketaatan

Bersegera mendatangi amal ketaatan tidaklah termasuk tergesa-gesa yang dicela, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan pada kita:

“Pelan-pelan dalam sesuatu itu baik, kecuali terkait amal akhirat.” (HR. Abu Dawud).

Betapa indah sifat yang disandang Yunus bin Ubaid rahimahullah, bahwa tidaklah satu perintah Allah datang kecuali ia telah siap menjalankannya. Contohnya, ia selalu dalam kondisi suci agar tidak terlambat shalat sunnah atau shalat wajib. Ia juga zuhud di dunia. Ia telah menulis wasiatnya sebagai bentuk kesiapan menyambut mati.

Dikutip dari buku Panduan Lengkap Shalat Khusyuk, oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani

Continue reading Bersegera Mendatangi Amal Ketaatan

Amalan-Amalan Hati yang Dapat Kita Jaga

Sobatku yang baik hatinya, baru saja saya teringat perkataan Abu Bakar Al-Muzani di bawah ini.

Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu,

“Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau shalat, akan tetapi karena iman yang bersemayam di dalam hatinya.”

Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut, Ibnu ‘Aliyah mengatakan, “Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat (ingin terus memberi kebaikan) terhadap (sesama).” (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab, 1:225).

***

Sobatku, para Sahabat Nabi, mereka istimewa dari semua sisi. Salah satunya amalan-amalan hati yang mereka jaga.

Ini motivasi untuk kita, agar senantiasa menjaga amalan-amalan hati, seperti:

  1. Rasa cinta kepada Allah dan Rasul-nya.
  2. Rasa cinta kepada kaum Muslimin, dan selalu menghendaki kebaikan untuk mereka. Memudahkan urusan-urusan mereka.
  3. Menjaga pandangan mata.
  4. Menjaga hati dari hasad dan dengki.
  5. Selalu berusaha memaafkan orang lain yang menyakiti kita. Ingat kan kisah seorang Sahabat Nabi yang dijamin masuk surga? Ternyata sang Sahabat tersebut setiap hari selalu memaafkan orang lain.
  6. Menjaga hati dari ujub, sombong, dan berbangga diri.
  7. Ridha dengan takdir Allah.
  8. Qana’ah.

Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Satu hal, amalan-amalan hati sungguhlah berat, tapi seberat apa pun, apabila dilatih dan ditempa dengan keras setiap hari—sembari meminta pertolongan Allah—tentulah kita akan terbiasa dengannya.

Banghen

Doa Nabi untuk Menguatkan Iman, Penentram Hati, dan Pelindung dari Musibah

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menceritakan:

Jarang sekali Rasulullah ﷺ bangkit dari suatu majelis, kecuali beliau terlebih dahulu mendoakan para sahabatnya dengan doa-doa berikut:

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ
وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ
وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا

ALLAAHUMAQSIM LANAA MIN KHOSY-YATIKA MAA YAHUULU BAINANAA WA BAINA MA-’AASHIIKA
WA MIN THOO-‘ATIKA MAA TUBALLIGHUNAA BIHI JANNATAKA
WA MINAL YAQIINI MAA TUHAWWINU BIHI ‘ALAINAA MUSHIIBAATID-DUN-YAA

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menjadi penghalang antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu. Karuniakan pula kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya Engkau menyampaikan kami ke surga-Mu. Dan anugerahkan kepada kami keyakinan yang dengannya Engkau ringankan atas kami musibah-musibah dunia.

وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا
وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا
وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا
وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا

WA MAT-TI’NAA BI ASMAA-‘INAA WA ABSHOORINAA WA QUWWATINAA MAA AHYAITANAA
WAJ-‘ALHUL WAARITSA MIN-NAA
WAJ-‘AL TSA’RONAA ‘ALAA MAN ZHOLAMANAA
WAN-SHURNAA ‘ALAA MAN ‘AADAANAA

Berilah kami kenikmatan pada pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau masih menghidupkan kami, dan jadikanlah semuanya itu tetap melekat hingga akhir hayat kami. Jadikanlah pembalasan kami tertuju kepada orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami.

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا
وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

WALAA TAJ-‘AL MUSHIIBATANAA FII DIININAA
WALAA TAJ-‘ALID-DUN-YAA AKBARO HAMMINAA WALAA MABLAGHO ‘ILMINAA
WALAA TUSALLITH ‘ALAINAA MAN LAA YARHAMUNAA

Jangan Engkau jadikan musibah terbesar kami pada agama kami, jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak cita-cita kami dan batas ilmu kami, dan jangan Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak memiliki kasih sayang kepada kami. (HR. At-Tirmidzi)

Satu Ciri Penghuni Surga Saat Mereka di Dunia

Sobatku yang baik hatinya…

Ada satu sifat khas penghuni surga yang telah mereka latih ketika hidup di dunia.

Sifat ini tidak lahir dari keadaan yang mudah, tetapi dari hati yang besar.

Sebelum membahasnya, mari kita renungi firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salam:

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dia (Yusuf) berkata: Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni kalian. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 92)

Continue reading Satu Ciri Penghuni Surga Saat Mereka di Dunia

Sungguh Menakjubkan Urusan Seorang Mukmin

Dari Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang Mukmin. Apabila ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim, no. 2999 — dari Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu, hadis sahih, termasuk hadis yang hanya diriwayatkan oleh Muslim tanpa Al-Bukhari).

Continue reading Sungguh Menakjubkan Urusan Seorang Mukmin

5 Prinsip Seorang Muslim

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ «لَوْ» تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada masing-masing keduanya terdapat kebaikan.

Bersungguh-sungguhlah dalam perkara yang mendatangkan manfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah.

Apabila suatu hal menimpamu, janganlah engkau berkata, “Seandainya aku melakukan ini dan itu, tentu tidak akan terjadi demikian dan demikian.”

Namun katakanlah, “Ini adalah ketetapan Allah, dan apa yang Allah kehendaki, Allah lakukan.”

Karena sesungguhnya ucapan “seandainya” membuka pintu bagi godaan setan.

(HR. Muslim)

Continue reading 5 Prinsip Seorang Muslim

Nabi Isa dan Maryam biasa memakan makanan, artinya apa?

Sobat, perhatikan Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 75:

مَّا ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ وَأُمُّهُۥ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ ٱلطَّعَامَ ٱنظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ ٱلْءَايَٰتِ ثُمَّ ٱنظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Artinya:
“Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. KEDUANYA BIASA MEMAKAN MAKANAN. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahli Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (oleh keinginan mereka).”

Perhatikan penggalan ayat di atas yang berhuruf kapital:

“KEDUANYA BIASA MEMAKAN MAKANAN.”

Yaitu Nabi Isa dan Ibunya (Maryam) adalah manusia biasa yang juga sehari-hari memakan makanan, sama seperti manusia pada umumnya.

Satu hal lagi yang hampir tidak terpikirkan oleh kita adalah: Nabi Isa dan Maryam biasa memakan makanan, berarti apa? Berarti keduanya juga BUANG AIR BESAR (BAB), sama seperti manusia pada umumnya.

Apakah pantas keduanya dijadikan tuhan?

Sungguh indah ya gaya bahasa Al-Qur’an. Haluuus sekali… bahkan untuk mengungkapkan sesuatu dianggap “kotor” dan “tabu” dengan pilihan kata yang suci dan indah.

Sabar Menunggu Terkabulnya Doa

Boleh jadi Allah menundanya darimu, karena Allah menghendaki sesuatu yang jauh lebih indah
daripada apa yang seandainya datang lebih cepat.

Ada doa kita yang Allah tunda waktu pengabulannya di dunia. Bukan karena terlambat, tapi Allah Maha Mengetahui kapan saat yang tepat.

Ada pula doa kita yang Allah berikan pengabulannya di akhirat, karena itulah saat yang tepat.

Tidak semua penundaan adalah penolakan.

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…” (QS. Ghafir: 60)

Ada waktu-waktu ketika Allah menahan sesuatu, bukan karena kita tidak layak, melainkan karena yang akan datang kelak lebih matang, lebih baik, dan lebih tepat bagi kita.

Kesabaran hari ini sering kali adalah pintu bagi keindahan esok hari.

Doa Agar Dicintai dan Mencintai Allah

Dahulu termasuk doa Nabi Dawud ‘alaihissalam adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي، وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA HUBBAKA WA HUBBA MAN YUHIBBUKA WAL ‘AMALALLADZII YUBALLIGHUNII HUBBAKA

ALLAAHUMMAJ-‘AL HUBBAKA AHABBA ILAI-YA MIN NAFSII WA AHLII WAMINAL MAA-IL BAARID

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amal yang dapat mengantarkanku kepada cinta-Mu.

Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih aku cintai daripada diriku sendiri, keluargaku, dan bahkan daripada air dingin.

Perawi berkata:
Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Nabi Dawud, beliau menceritakan tentangnya seraya bersabda: “Beliau adalah manusia yang paling ahli beribadah.” (HR. At-Tirmidzi)

Mengapa Allah Mengizinkan Aku Terluka?

Sahabatku yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Pernahkah engkau bertanya dalam diam, mengapa ujian seakan tak memberi jeda?

Mengapa luka datang silih berganti, sementara doa-doa telah lama dipanjatkan?

Mari sejenak kita duduk tenang, membaca renungan singkat ini dengan hati yang jujur.

Sering kali kita menyangka bahwa hidup yang sempurna adalah tanda kasih sayang Allah.

Padahal, tidak jarang Allah justru memperkenalkan diri-Nya kepada kita bukan di puncak tawa, melainkan di lembah air mata yang paling sunyi.

Bukan ketika tubuh sehat dan hari terasa lapang kita benar-benar mengenal Sang Penyembuh, melainkan saat jiwa dan raga runtuh tak berdaya. Remuk redam…

Bukan ketika merasa diri selalu benar kita mengenal Allah Sang Maha Pengampun, melainkan saat dada sesak oleh kesadaran akan dosa.

Dan bukan pula ketika hidup ramai dan penuh perhatian kita merasakan kasih sayang-Nya, melainkan saat kita jatuh bangun sendirian, tanpa sandaran selain doa.

Maka renungkanlah, jika hidup ini selalu mudah dan sempurna, apakah hati kita masih akan sungguh-sungguh bersujud?

Apakah kita masih merasa benar-benar memerlukan-Nya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Setiap sakit, setiap keterpurukan, adalah cara Allah meruntuhkan kesombongan yang halus dalam diri kita.

Agar kita sadar, bahwa kita ini lemah, dan sesungguhnya tidak memiliki siapa-siapa selain Dia.

Menahan perih dalam kesabaran dan ketaatan bukanlah tanda kelemahan.

Justru di sanalah letak kekuatan seorang hamba: ketika ia memilih tetap bersama Allah meski hatinya sedang terluka.

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)

Jika engkau sedang terluka hari ini, mungkin bukan karena Allah menjauh darimu, melainkan karena Dia sedang mendekatkanmu dengan cara yang paaling dalam.