Tips Latihan (Drills) Bahasa Arab

Bagi Anda yang sedang menekuni bahasa apa pun, bisa Anda praktikkan metode ini. Misalnya, Anda sedang menekuni bahasa Arab. Minimal setiap hari:

PERTAMA

13 menit mendengar ceramah syaikh yang fasih bahasa Arab fusha-nya. Saya sendiri mendengar Syaikh Labib Najib, Syaikh Sa’id al-Kamali, Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar, Syaikh Shalih al-Ushaimi, Syaikh Muhammad al-Ma’yuf, Syaikh Hasan al-Bukhari, Syaikh Shalih Sindi, Syaikh Muhammad al-Fajr (Mastering Arabic). Terkadang menonton video Muhammad Ghanayim (Youtuber), dan beberapa YouTuber lainnya yang berbahasa Arab fusha. Ditambah dengan mendengarkan materi kuliah yang memang berbahasa Arab.

KEDUA

7 menit membaca teks berbahasa Arab. Ketika membaca, usahakan Anda keraskan suara. Baca dengan 2 versi: setiap huruf akhir diharokati dan juga disukun. Membaca dengan keras ini adalah faidah yang saya dapatkan dari ustadz Fajar ketika dulu saya kuliah di Ma’had Ali, ini membantu melincahkan lidah dan bibir dalam mengucapkan kalimat.

Usahakan Anda tiru style dari Syaikh yang Anda biasa dengar. Anda tiru saja habis-habisan agar Anda terbiasa berbicara seperti layaknya orang Arab berbicara.

KETIGA

5 menit menulis yang sudah Anda dengar dan baca (lihat poin 1 dan 2 di atas). Catat seluruh ungkapan dan kosa kata baru yang Anda sudah peroleh setiap hari.

KEEMPAT

5 menit Anda ngobrol dengan bahasa Arab. Kalau saya, di rumah ngobrol dengan istri yang kebetulan dia thalibah dan senang bahasa Arab. Jika Anda tidak punya partner untuk diajak ngobrol, maka Anda bisa ngobrol dengan dirimu sendiri, rekam suaramu, kemudian nanti dengarkan lagi, dst.. atau Anda ajak istri Anda ngobrol dengan bahasa Arab kemudian Anda terjemahkan ke bahasa Indonesia, dst…

Ketika ngobrol, usahakan Anda siapkan kamus, pakai aplikasi kamus saja. Ketika obrolanmu mentok karena tidak tahu kosa katanya, segera lihat kamus, lalu ulang kembali percakapannya.

Banghen

Mengapa Teori dan Praktik Belajar Bahasa itu Penting?

“Ilmu tanpa praktik seperti pohon tanpa buah.”

Ungkapan ini terdengar sederhana, namun membawa pesan mendalam bagi siapa saja yang sedang belajar, khususnya dalam bidang bahasa seperti nahwu, shorof, balaghah, atau ‘arudh. Banyak orang terjebak dalam pola pikir bahwa menguasai teori saja sudah cukup, tanpa menyadari bahwa teori yang tidak dipraktikkan bisa menjadi penghalang dalam mencapai kefasihan berbahasa.

Mari kita renungkan pernyataan Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berikut:

لَوْ أَرَادَ الإِنْسَانُ أَنْ يُرَاعِيَ كُلَّ هَذِهِ القَوَاعِدِ فِي كَلاَمِهِ لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَتَكَلَّمَ

“Andaikan manusia ingin menjaga semua kaidah ini dalam setiap ucapannya, maka pasti dia tidak mampu berucap.” (Syarh al-Balaghah, hlm. 194)

Teori: Fondasi yang Sangat Penting, Tapi Tidak Cukup

Teori adalah fondasi dalam pembelajaran bahasa, seperti nahwu yang mengajarkan struktur kalimat, shorof yang membimbing kita memahami perubahan kata, serta balaghah yang memoles keindahan bahasa.

Namun, apa yang terjadi jika teori ini hanya dikuasai tanpa pernah dipraktikkan?

1. Kekakuan dalam Berbicara

Seseorang yang terlalu fokus pada teori nahwu dan shorof, sering kali kaku saat berbicara. Ia ragu karena takut salah menerapkan kaidah, seperti khawatir salah dalam i’rab (tanda akhir kata). Padahal, bahasa adalah alat komunikasi, bukan sekadar kumpulan aturan.

Seseorang yang terlalu fokus pada teori nahwu–berdasarkan pengalaman pribadi–sering kali “fanatik” pada teori yang dikuasainya. Pokoknya dia tidak ingin salah dan tidak ingin terlihat salah ketika berbicara, karena baginya itu sama saja menjatuhkan reputasinya dalam ilmu nahwu.

Bicara saja! Tidak apa-apa Anda salah bicara. Itu adalah salah yang tidak dosa. Semakin banyak Anda salah, semakin banyak pula Anda belajar. Karena pelajaran dari kesalahan itu lebih melekat ke dalam hati dan pikiran, ia lebih berkesan.

2. Minimnya Keberanian untuk Berbicara

Tanpa praktik, seseorang cenderung tidak percaya diri untuk berbicara. Ia merasa belum siap atau takut dikoreksi. Misalnya, pembelajar bahasa Arab yang terus menunda-nunda mencoba berbicara dengan alasan “teori saya belum sempurna.”

3. Tidak Mengenal Konteks Nyata

Konteks bahasa sering kali berbeda dari kaidah formal. Dalam percakapan sehari-hari, penutur asli mungkin menggunakan frasa atau ungkapan yang tidak diajarkan dalam teori. Contoh, ungkapan bahasa Arab seperti:

• كيف الحال؟ (Kaifal haal? – Bagaimana kabarmu?)

• الحمد لله على كل حال (Alhamdulillah ‘alaa kulli haal – Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan).

Mengapa Praktik Itu Wajib?

Praktik adalah cara untuk menghidupkan teori. Ini seperti belajar berenang—Anda tidak akan bisa berenang hanya dengan membaca buku panduan. Anda harus mencoba masuk ke air dan melatih gerakan.

Berikut beberapa manfaat praktik:

1. Melatih Kefasihan

Ketika Anda berlatih berbicara, otak dan lidah akan terbiasa dengan pola-pola bahasa tersebut. Misalnya, Anda akan lebih mudah memahami kapan harus menggunakan fi’il madhi (kata kerja lampau) atau fi’il mudhari’ (kata kerja sekarang/masa depan).

2. Meningkatkan Kepercayaan Diri

Praktik memberi Anda keberanian untuk mencoba. Kesalahan dalam berbicara bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar. Contohnya, saat memulai belajar berbicara:

• أريد أن أتعلم اللغة العربية (Uriidu an ata’allama al-lughah al-‘Arabiyyah – Saya ingin belajar bahasa Arab).

3. Memahami Nuansa Bahasa:

Bahasa tidak hanya soal tata bahasa (gramatikal), tetapi juga nuansa dan konteks. Sebagai contoh, frasa ما شاء الله (Ma syaa Allah) memiliki arti pujian atas keindahan atau kehebatan sesuatu, tetapi penggunaannya berbeda dalam situasi formal dan non-formal.

Tips dan Trik: Menerapkan Teori ke Praktik

1. Berlatih Bicara Setiap Hari

Mulailah dengan percakapan sederhana. Jangan takut salah!

2. Gunakan Bahasa Arab dalam Keseharian

Latih diri Anda untuk mengganti beberapa istilah harian ke dalam bahasa Arab. Contoh:

• Untuk “piring,” ucapkan صحن (shohn).

• Untuk “meja,” ucapkan طاولة (thaa-wilah).

3. Rekam Suara Anda

Rekam ketika Anda membaca teks bahasa Arab atau berbicara spontan. Dengarkan kembali untuk memperbaiki pelafalan dan intonasi.

4. Baca dan Tuliskan Ayat Al-Qur’an:

Membaca Al-Qur’an tidak hanya membantu Anda melafalkan huruf hijaiyah dengan benar, tetapi juga melatih kefasihan. Cobalah tuliskan ayat pendek seperti:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

(Inna ma’al-‘usri yusroo – Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).

5. Belajar dengan Penutur Asli atau Guru

Berkomunikasi dengan penutur asli atau seorang guru dapat memberikan Anda pengalaman langsung. Ini juga membantu Anda memahami ekspresi yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya Praktik

Stephen Krashen dalam Second Language Acquisition (1982) menjelaskan bahwa bahasa paling efektif dipelajari melalui konteks nyata dan interaksi langsung. Fokus pada praktik membuat pembelajar lebih cepat memahami pola dan struktur bahasa.

Jadikan Teori sebagai Dasar, Praktik sebagai Tujuan

Teori adalah fondasi, tetapi praktik adalah jembatan menuju kefasihan. Jangan biarkan ketakutan akan kesalahan menghentikan langkah Anda. Mulailah dengan hal kecil. Gunakan bahasa Arab dalam doa, percakapan sehari-hari, atau bahkan tulisan pendek.

“Bahasa bukan hanya soal kesempurnaan, tetapi soal keberanian untuk memulai.”

Istilah Bahasa Arab Modern Kontemporer Sosial Media

Istilah bahasa arab terus berkembang menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Pantas saja, bahasa arab adalah bahasa yang sangat tua yang masih hidup bertahan hingga zaman moderen ini, bahkan hingga hari kiamat!

Semua bidang ilmu pengetahuan (tanpa terkecuali) menggunakan kosa kata (mufrodat) bahasa arab di bidangnya masing-masing, sesuai dengan konteks pada bidang ilmu pengetahuan tersebut. Termasuk yang satu ini, bahasa arab yang sudah berusia ribuan tahun ini pun digunakan di dunia social media. Tentu saja, sesuai dengan konteknya ya; karena penggunaan kosa kata (mufrodat) akan berbeda artinya antara satu susunan kalimat dengan susunan kalimat lainnya.

Istilah Bahasa Arab Modern Kontemporer yang sering di gunakan di Sosial Media

Coba Anda perhatikan, semua mufrodat yang ada di bawah ini adalah kosa kata yang telah lama ada, sudah lebih dari 1.400 tahun yang lalu. Nah, ketika kosa kata ini digunakan di social media maka beda arti, karena konteksnya sudah berbeda. Jika Anda cari di kamus bahasa arab maka Anda akan ketemu arti yang berbeda, karena konteknya berbeda 🙂

Account = حساب (Hisab)

Like = إعجاب (I’jab)

Comment = تعليق (Ta’liq)

Post = منشور (Mansyur)

Share = مشاركة (Musyarakah)

Message = رسالة (Risalah)

Page = صفحة (Shafhah)

Group = مجموعة (Majmu’ah)

Profile = صفحة شخصية (Shafhah Syakhshiyah)

Block = حظر (Hazhr)

Hashtag = وسم (Wasm)

Poke = نكز (Nakaz)

Notification = إشعار (Isy’ar)

Link = رابط (Rabith)

Icon = مناسبة (Munasabah)

Add = إضافة (Idhafah)

Mention/Tag = إشارة (Isyarah)

Status = حالة (Halah)

Wall = حائط (Haaith)

Cover = غلاف (Ghilaf)

Profile Picture = صورة شخصية (Shurah Syakhshiyah)

Time Line = يوميات (Yaumiyaat)

Note = ملاحظة (Mulahazhah)

Chat = دردشة (Dardasyah)

Tweet = تغريد (Taghriid)

Channel = قناة (Qanaah)

Setting = إعدادات (I’dadat)

Friends = أصدقاء (Ashdiqa’)

Following = متابعة (Mutaba’ah)

Followers = متابعون (Mutabi’un)

Subscribe = اشتراك (Isytirak)