Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nashir

Arti Hasbunallah wani’mal wakil

***

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL

Artinya:
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran: 173)

Yaitu sesungguhnya Allah Yang Maha Mencukupi dalam seluruh urusan; tidak satu pun keburukan kecuali Allah Maha Kuasa untuk menjauhkannya; dan tidak pula satu kebaikan kecuali Allah Maha Kuasa untuk mendekatkannya.

***

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL

Adalah kalimat agung nan indah yang mengandung tawakal, berserah diri sepenuhnya dengan tulus kepada Allah.

***

Khasiat dan Cara Mengamalkan Hasbunallah wani’mal wakil

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL

Dianjurkan diucapkan oleh seorang muslim agar mendapatkan rahmat Allah dan berbagai kebaikan yang diinginkan. Dalilnya adalah QS. At-Taubah ayat 59:

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللهُ سَيُؤْتِينَا اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللهِ رَاغِبُونَ

Sekiranya mereka benar-benar rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 59)

***

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL

Juga dianjurkan untuk diucapkan oleh seorang muslim agar terhindar dari keburukan, musibah, kesulitan, dan semua hal yang dikhawatirkan.

***

Ayat dan Hadis tentang Hasbunallah wani’mal wakil

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL

Diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain QS. At-Taubah ayat 59 yang menjadi dalil mengucapkan hasbunallah wani’mal wakil agar mendapatkan rahmat Allah dan berbagai kebaikan yang diinginkan, ada dalil lainnya dari Al-Quran, yaitu QS. Ali-Imran ayat 173 yang menjadi dalil mengucapkannya agar terhindar dari keburukan, musibah, kesulitan, dan semua hal yang dikhawatirkan.

Ada pula dalil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mari kita baca hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: حَسْبُنَا اللهُ ونِعْمَ الوَكِيلُ قالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقالَهَا مُحَمَّدٌ صلَّى اللهُ عليه وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا: إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Dari Ibnu Abbas: Hasbunallaah wani’mal wakiil diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika dilemparkan ke dalam api. Diucapkan pula oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (perkataan) itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” [QS. Ali Imran: 173] (HR. Bukhari)

***

مِن صِدقِ الإيمانِ أنْ يَتيقَّنَ المؤمنُ أنَّ اللهَ هوَ كافِيه ما أهمَّه وألَمَّ بِه، وأنَّه نِعْمَ الكافي لِذلكَ، ويَتمثَّلُ هذا في القَولِ بِصِدقٍ: حَسبُنا اللهُ وَنِعْمَ الوَكيلُ؛ فهوَ حَسبُنا وكافينا ونِعمَ المَولى ونِعمَ النَّصيرُ

Di antara bentuk kejujuran iman seorang mukmin, ia meyakini bahwa Allah cukup untuk melindunginya dari semua yang menyusahkan dan menyakitinya. Sesungguhnya Allah Yang Maha Mencukupi untuk melindunginya. Hal ini tergambarkan dalam satu ucapan dengan penuh ketulusan:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

وفي هذا الحَديثِ يُخبِرُ عبدُ اللهِ بنُ عَبَّاسٍ رضِيَ اللهُ عنهما أنَّ كلمةَ: «حَسبُنا اللهُ ونِعمَ الوَكيلُ» -ومعناها: أنَّ اللهَ هوَ الكافي في الشُّؤونِ كُلِّها؛ فَما مِن سُوءٍ إلَّا هو قادرٌ على أنْ يُبعِدَه، وَما مِن خَيرٍ إلَّا هوَ قادرٌ أنْ يُقرِّبَه- قد قالها إبراهيمُ عليه السَّلامُ عِندَما رَماهُ قَومُه في النَّارِ بعْدَ أنْ حَطَّمَ أصنامَهُم، فَكانتِ النَّارُ بَردًا وسَلامًا عليه؛ قال تعالى: {قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ * قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ} [الأنبياء: 68، 69]، وقالَها مُحمَّدٌ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم حينَ قالوا: {إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ} [آل عمران: 173]، وَكانَ ذَلكَ عَقِبَ غَزوَةِ أُحدٍ؛ حَيثُ قيلَ: إنَّ المُشركينَ سَيَرجِعونَ إليكُم لِيُكمِلوا حَربَهُم، فَقالَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: حَسبُنا اللهُ ونِعمَ الوَكيلُ، فَكفاهُ اللهُ ذَلكَ؛ فمَنِ انتَصَرَ بِاللهِ نَصَرَهُ اللهُ عزَّ وجلَّ، ومَن تَوكَّلَ على اللهِ فهوَ حَسبُه

Dalam hadis di atas, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan bahwa ucapan 

حَسْبُنَا اللهُ ونِعْمَ الْوَكِيلُ

HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL

diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika kaumnya melemparkannya ke dalam api, setelah Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala mereka. Kala itu, api yang seharusnya membakar Nabi Ibrahim menjadi dingin dan penyelamat bagi beliau.

Allah berfirman,

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ * قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Mereka berkata, “Bakarlah dia (Ibrahim) dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak berbuat.” Kami (Allah) berfirman, “Wahai api, jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS. Al-Anbiya: 68 – 69)

حَسْبُنَا اللهُ ونِعْمَ الْوَكِيلُ

HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL

juga diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada orang-orang yang mengatakan,

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (perkataan) itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran: 173)

Kejadian ini setelah perang Uhud. Ketika itu dikatakan kepada beliau bahwa kaum musyrikin Quraisy akan kembali menyerang kalian untuk menuntaskan peperangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Hasbunallaahu wani’mal wakiil.” Oleh sebab itu, Allah melindungi beliau. Barang siapa yang meminta pertolongan kepada Allah, niscaya Allah menolongnya. Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.

Jadi, ada dua khasiat hasbunallahu wani’mal wakil, yaitu: (1) agar mendapatkan rahmat Allah dan berbagai kebaikan yang diinginkan, juga (2) agar terhindar dari keburukan, musibah, kesulitan, dan semua hal yang dikhawatirkan.

Kedua khasiat tersebut terhimpun di dalam surah Az-Zumar ayat 38:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” niscaya mereka menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Kalau begitu, terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya orang-orang bertawakal berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38)

Semoga bermanfaat.

Penyusun dan penerjemah: Hendri Syahrial (Banghen.com)

***

Daftar Pustaka:

Jangan Paksa agar Nasihatmu Diterima!

Ibnu Hazm Al-Andalusi rahimahullah mengatakan,

لَا تَنْصَحُ عَلَى شَرْطِ الْقَبُوْلِ مِنْكَ، فَإِنْ تَعَدَّيْتَ هَذِهِ الْوُجُوهَ، فَأَنْتَ ظَالِمٌ لَا نَاصِحٌ، وَطَالِبُ طَاعَةٍ لَا مُؤَدِّي حَقِّ دِيَانَةٍ وأُخُوَّةٍ، وَلَيْسَ هَذَا حُكْمَ الْعَقْلِ وَلَا حُكْمَ الصَّدَاقَةِ، وَلَكِنْ حُكْمَ الْأَمِيْرِ مَعَ رَعِيَّتِهِ وَالسَّيِّدِ مَعَ عَبِيْدِهِ

“Janganlah engkau menasihati orang lain dengan mengharuskannya menerima nasihatmu. Jika engkau berbuat demikian, berarti engkau menzalimi, bukan menasihati; engkau minta ditaati, bukan menunaikan hak agama dan ukhuah. Yang demikian itu bukanlah kearifan orang yang berbudi dan welas asih, melainkan paksaan seorang penguasa terhadap rakyatnya dan tuan terhadap budaknya.” (Rasail Ibnu Hazm)

*) Terjemahan di atas adalah hasil diskusi saya dengan ustadz Agus Waluyo, ustadz Bayu Pratomo, dan ustadz Daris Musthofa.

Bacaan Doa Iftitah Nabi ketika Salat Tahajud

Ini adalah bacaan iftitah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau Salat Tahajud:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيْهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَن تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

ALLAAHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MIIKAA-IILA WA ISROOFIILA FAATHIROS-SAMAAWAATI WAL ARDH ‘AALIMAL GHOIBI WASY-SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAINA ‘IBAADIKA FIIMA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN IHDINII LIMAKH-TULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK INNAKA TAHDII MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTHIM MUSTAQIIM

“Ya Allah, tuhannya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil, Zat Yang menciptakan langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata. Engkaulah hakim bagi hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan. Dengan izin-Mu, tunjukkan kebenaran padaku dalam perkara yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkau Yang memberi petunjuk menuju jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki.” (HR. Muslim)

***

***

HADIS

حدَّثَني أبُو سَلَمَةَ بنُ عبدِ الرَّحْمَنِ بنِ عَوْفٍ، قالَ: سَأَلْتُ عائِشَةَ أُمَّ المُؤْمِنِينَ، بأَيِّ شيءٍ كانَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ يَفْتَتِحُ صَلاتَهُ إذا قامَ مِنَ اللَّيْلِ؟ قالَتْ: كانَ إذا قامَ مِنَ اللَّيْلِ افْتَتَحَ صَلاتَهُ: اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرائِيلَ، ومِيكائِيلَ، وإسْرافِيلَ، فاطِرَ السَّمَواتِ والأرْضِ، عالِمَ الغَيْبِ والشَّهادَةِ، أنْتَ تَحْكُمُ بيْنَ عِبادِكَ فِيما كانُوا فيه يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِما اخْتُلِفَ فيه مِنَ الحَقِّ بإذْنِكَ، إنّكَ تَهْدِي مَن تَشاءُ إلى صِراطٍ مُسْتَقِيمٍ

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, beliau berkata: Aku bertanya kepada Aisyah, Ummul Mukminin, “Dengan bacaaan apa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai salat tatkala beliau bangun di malam hari?” Aisyah menjawab, “Tatkala beliau bangun di malam hari, beliau memulai salat dengan membaca:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيْهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَن تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Ya Allah, tuhannya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil, Zat Yang menciptakan langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata. Engkaulah hakim bagi hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan. Dengan izin-Mu, tunjukkan kebenaran padaku dalam perkara yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkau Yang memberi petunjuk menuju jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki.” (HR. Muslim)

***

PENJELASAN HADIS

كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يقومُ مِنَ اللَّيلِ ما شاء اللهُ له أنْ يقومَ، وكان له بعضٌ مِن السُّننِ والآدابِ في بيْتِه، وكان التَّابِعون يَحرِصون على مَعرفةِ تَفاصيلِ عِبادتِه صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم، ويَسألون عمَّا كان يَتعبَّدُ به النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في بيتِه؛ لِيَهْتَدُوا بِهَديِه، ويَسْتَنُّوا بسُنَّتِه

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam rutin bangun di malam hari untuk mengerjakan Salat Tahajud, sebagaimana yang Allah kehendaki untuk beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengamalkan sebagian sunah dan adab di rumah beliau.

Para Tabiin sangat bersemangat untuk mengetahui perincian ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sering bertanya tentang tata cara ibadah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan di rumah beliau, agar mereka mengetahui petunjuk Nabi serta meneladani sunah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وفي هذا الحديثِ يَرْوي التَّابعي أبو سَلَمةَ بنُ عبد الرَّحمنِ بنِ عَوْفٍ أنَّه سَأل عائشةَ أمَّ المؤمنين: بأيِّ أمرٍ مِن القولِ أو الفِعل كان نَبيُّ الله صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يَفتَتِحُ صَلاتَه إذا قام مِن اللَّيلِ؟ والمعنى: كيْف استفتاحُه صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم للصَّلاةِ؟ فأجابتْه أنَّه صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم كان إذا قامَ مِن اللَّيلِ افتَتَح صَلاتَه بهذا الدُّعاءِ

Pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf ini, beliau bertanya kepada ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha tentang bacaan atau perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai Salat Tahajud, tatkala beliau bangun di malam hari. Yakni, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai salat beliau?

Ibunda Aisyah menjawab bahwa manakala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di malam hari, beliau memulai Salat Tahajud dengan membaca Doa Iftitah:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيْهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَن تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

ALLAAHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MIIKAA-IILA WA ISROOFIILA FAATHIROS-SAMAAWAATI WAL ARDH ‘AALIMAL GHOIBI WASY-SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAINA ‘IBAADIKA FIIMA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN IHDINII LIMAKH-TULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK INNAKA TAHDII MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTHIM MUSTAQIIM

***

MAKNA DOA IFTITAH NABI KETIKA SALAT TAHAJUD

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبرَائِيلَ ومِيكائيلَ وإسرافيلَ، أي: أَدعُوك يا ربِّي ورَبَّ كلِّ عَظيمِ الشَّأنِ مِثلِ هؤلاء مِن الملائكةِ العُظَماءِ، وأنتَ أعظمُ مِنهم ومِن كلِّ خَلْقِكَ، فأنت جَدِيرٌ باستجابةِ الدُّعاءِ

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ

ALLAAHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MIIKAA-IILA WA ISROOFIILA

Aku berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku dan Tuhan semua makhluk yang memiliki kedudukan yang agung seperti malaikat-malaikat yang mulia tersebut (Jibril, Mikail, dan Israfil), dan Engkau ya Allah Yang paling agung daripada ketiga malaikat tersebut dan daripada seluruh makhluk ciptaan-Mu. Hanya Engkaulah yang layak mengabulkan doa.

وتَخصيصُ هؤلاء الملائكةِ بالذِّكر لِعَظِيمِ شأنِهم؛ فجِبريلُ أَمِينُ الوَحْيِ، ومِيكائيلُ أَمِينُ القَطْرِ والمَطَرِ والنَّباتِ والأرزاقِ، وهو ذُو مَكانةٍ عَليَّةٍ، ومَنزلةٍ رَفيعةٍ، وشَرفٍ عِندَ اللهِ عزَّ وجلَّ، وله أعوانٌ يَفعَلونَ ما يَأمُرُهم به بأمْرِ ربِّه سُبحانَه، وإسرافيلُ الموكَّلُ بالنَّفخِ في الصُّورِ بأمْرِ ربِّه نفْخةَ الفَزعِ والصَّعقِ، ونفْخةَ القِيامِ لربِّ العالَمينَ

Pengkhususan penyebutan ketiga malaikat tersebut dikarenakan agungnya kedudukan mereka:

  • Malaikat Jibril diamanahi membawa wahyu dari Allah kepada para Nabi dan Rasul.
  • Malaikat Mikail diamanahi mengatur dan menurunkan hujan, tumbuh-tumbuhan, dan mengurus pembagian rezeki. Mikail punya kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah. Mikail juga memiliki pembantu-pembantu yang selalu taat padanya, yaitu mereka mengerjakan segala apa yang diperintahkan kepada mereka, berdasarkan perintah dari Allah.
  • Malaikat Israfil bertugas meniup sangkakala berdasarkan perintah Allah, dengan tiupan pertama yang menakutkan dan mematikan seluruh mahkluk hidup, kemudian tiupan kebangkitan dari kematian untuk kemudian menuju menghadap Allah.

وإذا عَلِمَ الإنسانُ قدْرَ المَلائِكةِ هذا الخَلقِ العَظيمِ الكريمِ، وعَرَفَ صِفاتِهم؛ عَلِمَ عَظَمةَ خالقِهم تَبارَك وتعالَى، وعَظيمَ قُوَّتِه وسُلطانِه؛ فإنَّ عَظَمةَ المَخلوقِ مِن عَظَمةِ الخالِق، ثُمَّ شَكَرَه سُبحانَه على عِنايتِه بعِبادِه، حيثُ وكَّلَ بهم مِن هؤلاءِ الملائكةِ مَن يَحفَظُهم، ويَدْعو ويَستغفِرُ لهم ويَكتُبُ أعمالَهم، وأيضًا مَن عَرَف الملائكةَ وآمَن بهم حقًّا، أحبَّهم على ما يَقومونَ به مِن عِبادةِ اللهِ تعالَى وطاعتِه على الوَجهِ الأَكْملِ، وعلى استِغفارِهم للمُؤمنين، ونُصرتِهم لهم، وغَيرِ ذلك

Apabila manusia mengetahui kedudukan dan sifat-sifat ketiga malaikat yang mulia ini, maka tentulah mereka akan mengetahui keagungan Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi, Sang Pencipta mereka, juga mengetahui keagungan kekuatan dan kekusaan-Nya, karena keagungan yang ada pada makhluk berasal dari keagungan penciptanya. Kemudian, mereka bersyukur kepada Allah atas segala pertolongan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan cara Allah menugaskan para malaikat untuk menjaga, mendoakan, memintakan ampun, dan mencatat amal-amal mereka. 

Lagi pula, barang siapa yang mengenal dan beriman dengan tulus kepada malaikat, maka dia akan semakin mencintai para malaikat, yaitu terhadap apa yang malaikat lakukan, baik itu ibadah dan ketaatannya secara sempurna kepada Allah, permohonan ampun mereka kepada Allah untuk mukmin, pertolongan mereka untuk mukmin, dan lain-lain.

***

فَاطِرَ السَّمواتِ والأرضِ، أي: خالِقَهما ومُبدِعَهما

فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ 

FAATHIROS-SAMAAWAATI WAL ARDH

Yaitu Allah Yang Maha Pencipta langit-langit dan bumi, yang tanpa pernah ada yang menciptakan keduanya sebelumnya.

***

عالِمَ الغَيْبِ والشَّهادةِ، أي: أدْعُوك يا عالِمَ الغيبِ والشَّهادةِ، فأنت تَعلَمُ ما غاب عن العِبادِ، وما شاهَدوه وظهَرَ لهم

عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

‘AALIMAL GHOIBI WASY-SYAHAADAH

Aku berdoa kepada-Mu, wahai Zat Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata, Engkau mengetahui segala yang tersembunyi dari para hamba-Mu, juga segala yang terlihat oleh mereka.

***

أنتَ تَحكُمُ، أي: تَقْضي بالثَّوابِ والعقابِ

بيْنَ عِبادِكَ يومَ القِيامةِ فيما كانوا فيه يَختلِفون فِيه مِن أمْرِ الدِّينِ في الدُّنيا، فتُعذِّبُ أهلَ المَعاصي إنْ شِئتَ، وتُثِيبُ أهلَ الطَّاعةِ، وإنَّما اخْتَلَف النَّاسُ بعْدَ أنْ كانوا على فِطرةِ الإسلامِ، فجاءتْهم الأنبياءُ والمُرْسَلون لِهدايتِهم، فاخْتَلفوا في طَريقِ الهِدايةِ والطَّريقِ المستقيمِ الَّذي جاؤوا به، وهو الحقُّ مِن ربِّهم

أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيْهِ يَخْتَلِفُونَ

ANTA TAHKUMU BAINA ‘IBAADIKA FIIMA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN

Ya Allah, Engkau menjadi hakim pada hari kiamat, Yang memutuskan dengan memberi pahala atau hukuman antara hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan, pada urusan agama dan dunia mereka. Engkau mengazab pelaku maksiat jika Engkau berkehendak. Engkau juga memberi pahala untuk hamba-Mu yang taat.

Pada awalnya, semua manusia berada di atas fitrah, mereka memeluk agama Islam. Namun seiring dengan berlalunya waktu, manusia mulai menyimpang dari ajaran Islam. Oleh karena itu, datanglah para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah untuk berdakwah dan membimbing manusia agar tetap berada di atas fitrah mereka, yaitu agama Islam. Namun, manusia menyelisihi petunjuk dan ajaran Islam yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul, padahal itulah kebenaran sejati yang berasal dari Allah.

***

اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فيه مِنَ الحقِّ بإذنِكَ، أي: ثَبِّتْني وزِدْني الهِدايةَ إلى الطَّريقِ المُسْتَقِيمِ الَّذي دَعَا إليه الأنبياءُ والمرسَلَون، بتَوفيقِكَ وتَيْسِيرِكَ

اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ

IHDINII LIMAKH-TULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK

Ya Allah, kokohkan aku dan tambahkan hidayah kepadaku, menuju jalan yang lurus yang diseru oleh para Nabi dan Rasul, dengan taufik dan kemudahan dari-Mu.

***

إنَّك تَهدِي مَن تشاءُ إلى صِراطٍ مُستقيمٍ وهو طَريقُ الحقِّ الَّذي لا اعوِجاجَ فيه، وهو دِينُ الإسلامِ، الَّذي أرسَلَ اللهُ به محمَّدًا صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم، وسُمِّيَ صِراطًا؛ لأنَّه مُوصِلٌ للمقصودِ كما أنَّ الطَّريقَ الحِسِّيَّ كذلك، والجُملةُ تَعليلٌ لطلَبِ الهِدايةِ منه سُبحانه وتعالَى، أي: لأنَّك تَهْدي مَن تَشاءُ، وهذا الدُّعاءُ مِن كَمالِ التَّذلُّلِ للهِ سُبحانه وتعالَى

إِنَّكَ تَهْدِي مَن تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

INNAKA TAHDII MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTHIM MUSTAQIIM

Sesungguhnya Engkau, ya Allah, Yang memberi petunjuk menuju jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki, yaitu jalan kebenaran yang tidak bengkok, yaitu agama Islam yang Allah telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membawanya.

Agama Islam pada doa ini dinamakan ash-shiroth (jalan), karena ia menjadi penghubung yang mengantarkan sampai kepada tujuan. Demikian pula fungsi jalan dalam arti yang abstrak.

Kalimat ta’lil (menjelaskan alasan) untuk meminta hidayah hanya kepada Allah, yaitu:

 إِنَّكَ تَهْدِي مَن تَشَاءُ

“… karena sesungguhnya Engkau Yang memberi petunjuk (menuju jalan yang lurus) bagi siapa yang Engkau kehendaki.” Dengan demikian, doa ini merupakan kesempurnaan bentuk merendahkan diri kepada Allah.

***

KESIMPULAN

وفي الحَديثِ: بيانُ ما تُفتتَحُ به صَلاةُ اللَّيلِ مِن الأذكارِ

وفيه: بيانُ أنَّه يَنْبغي للعبدِ أنْ يَطلُبَ مِن اللهِ تعالَى الهِدايةَ إلى طَريقِ الحقِّ

وفيه: بيانُ أنَّ الهِدايةَ بيَدِ اللهِ تعالَى، لا أحَدَ يَقدِرُ عليها غيْرُه سُبحانه وتعالَى

  • Hadis ini berisi penjelasan tentang bacaan iftitah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Salat Malam (Salat Tahajud).
  • Semestinya seorang hamba meminta hidayah menuju jalan kebenaran kepada Allah.
  • Hidayah itu hanyalah milik Allah. Hanya Allah yang dapat memberikan kita hidayah. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan hidayah selain Allah.
  • Doa Iftitah ini, selain dibaca pada Salat Malam (Tahajud), boleh juga dibaca pada salat yang lainnya. Hanya saja, untuk imam dianjurkan untuk tidak membaca Doa Iftitah ini ketika mengimami jamaahnya, agar makmum tidak menunggu lama (lihat Sifat Salat Nabi oleh Al-Albani).

***

DAFTAR REFERENSI

  • مصدر الشرح: الدرر السنية (https://dorar.net/hadith/sharh/23440)
  • صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم من التكبير إلى التسليم كأنك تراها – المؤلف: أبو عبد الرحمن محمد ناصر الدين

Semoga bermanfaat.

Penerjemah & Penyusun: Hendri Syahrial (Banghen)

Doa Memohon Ilmu yang Bermanfaat, Rezeki yang Halal Barokah, dan Amalan yang Diterima Allah

DOA MINTA ILMU YANG BERMANFAAT, REZEKI YANG HALAL, DAN AMALAN YANG DITERIMA

Doa ini dibaca rutin setelah Salat Subuh.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI-’AA WARIZQON THOY-YIBAA
WA-‘AMALAN MUTAQOBBALAA

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu: ilmu yang bermanfaat, rezeki yang  baik, dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)

Dari Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau radhiyallahu ‘anha mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ كَانَ يَقُولُ إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ يُسَلِّمُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap selesai Salat Subuh, beliau membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI-’AA WARIZQON THOY-YIBAA WA-‘AMALAN MUTAQOBBALAA

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu: ilmu yang bermanfaat, rezeki yang  baik, dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)

Semoga bermanfaat.

Penerjemah: Hendri Syahrial (Banghen)

Doa untuk Tetangga yang Zalim: Doa Mohon Dilindungi dari Tetangga yang Buruk Akhlaknya

DOA BERLINDUNG DARI TETANGGA YANG AKHLAKNYA BURUK

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوْءِ فِي دَارِ الْمُقَامَةِ فَإِنَّ جَارَ الْبَادِيَةِ يَتَحَوَّلُ

ALLAAHUMMA INNII A-‘UUDZUBIKA MIN JAARIS-SUU’FII DAARIL MUQOOMAH
FA-INNA JAAROL BAADIYATI YATAHAW-WAL 

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang akhlaknya buruk di tempat kediaman, karena sesungguhnya tetangga dalam perjalanan itu keburukannya hilang (bersamaan dengan selesainya perjalanan), (sedangkan tetangga di tempat kediaman selalu berdampingan sepanjang hidup).” (HR. An-Nasai, Ibnu Hibban, dll)

***

Semoga bermanfaat.

Penerjemah: Hendri Syahrial (Banghen)

Apa Beda Shalat Mu’ayyan dan Shalat Sunnah Mutlak?

Shalat mu’ayyan adalah shalat yang terikat dengan sebab atau waktu tertentu. Termasuk dalam shalat mu’ayyan ini: 

  1. Shalat fardhu lima waktu: Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh.
  2. Shalat-shalat sunnah yang terikat dengan sebab atau waktu tertentu. Contoh shalat sunnah yang terikat dengan sebab: Shalat Gerhana dengan sebab terjadinya gerhana, Shalat Istisqa dengan sebab kemarau, Shalat Istikharah dengan sebab meminta pertolongan Allah untuk menentukan pilihan terbaik, Shalat Tahiyatul Masjid dengan sebab memasuki masjid, dan lain-lain. Contoh shalat sunnah yang terikat dengan waktu: Shalat Dhuha yang dikerjakan di waktu Dhuha. Shalat Qabliyah Subuh yang dikerjakan sebelum Shalat Subuh, dan termasuk seluruh shalat rawatib lainnya.

Sedangkan shalat sunnah mutlak adalah shalat sunnah yang tidak terikat dengan sebab atau waktu tertentu. Seperti seseorang yang selesai melaksanakan Shalat Magrib dan Shalat Ba’diyah Magrib, setelah itu ia ingin melaksanakan shalat dua rakaat lagi. Shalat dua rakaat yang ia kerjakan ini dinamakan shalat sunnah mutlak. Ada banyak contoh shalat sunnah mutlak yang lainnya. Anda boleh mengerjakan shalat sunnah mutlak di luar 5 waktu terlarang shalat. Apa saja 5 waktu terlarang shalat? Silakan simak videonya di Yufid.TV:

Demikian, semoga bermanfaat.

Penyusun: Hendri Syahrial (Banghen)