Shalawat Nabi: Bacaan yang Mudah dan Penuh Berkah

Bacaan shalawat Nabi Allahumma sholli wa sallim ‘alaa nabiy-yinaa Muhammad (‏اللَّهُمَّ صَّلِ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَامُحَمَّدٍ) adalah bacaan shalawat yang sangat pendek. Bacaan ini juga mudah diucapkan. Bacaan ini boleh senantiasa kita ucapkan.

Namun, bacaan shalawat yang terbaik adalah Shalawat Ibrahimiyah, yaitu bacaan shalawat Nabi yang biasa kita baca dalam shalat ketika tasyahud. Bacaan shalawat inilah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

ALLAAHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHOLLAI-TA ‘ALAA IBROOHIIM WA ‘ALAA AALI IBROOHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID ALLAAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAAROKTA ‘ALAA IBROOHIIM WA ‘ALAA AALI IBROOHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID

Inilah bacaan shalawat terbaik. Boleh kita baca di luar shalat, terlebih-lebih lagi di dalam shalat, karena ini adalah bagian dari bacaan tasyahud.

Allah memerintahkan kita untuk memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan juga ucapkanlah salam untuknya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Di antara keutamaan memperbanyak bershalawat adalah kedekatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat. Orang yang sering bershalawat ke atas junjungan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling dekat dengan beliau di hari kiamat kelak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أولَى الناسِ بِيْ يوم القيامة أكثرُهم عليَّ صلاةً

“Orang yang paling dekat dariku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi)

Mari kita senantiasa membaca shalawat untuk Nabi kita tercinta shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Banghen

Man Jadda Wajada: Kekuatan Usaha dan Tawakal

Man jadda wajada (مَنْ جَدَّ وَجَدَ) adalah salah satu pepatah Arab yang sangat terkenal di Indonesia, terutama di kalangan para santri. Pepatah ini semakin populer setelah novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi mendapat perhatian luas, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Kini, kita sering mendengar ungkapan man jadda wajada (مَنْ جَدَّ وَجَدَ).

Arti dari pepatah man jadda wajada (مَنْ جَدَّ وَجَدَ) adalah:

“Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan meraih apa yang dicita-citakannya.”

Ini adalah prinsip yang berlaku secara umum, tentu saja setelah pertolongan dari Allah. Seorang pelajar yang bersungguh-sungguh belajar, selain mendapatkan ilmu, juga akan meraih nilai yang baik serta lulus dengan prestasi gemilang.

Prinsip ini berlaku di berbagai bidang; siapa pun yang bersungguh-sungguh, akan mencapai kesuksesan.


Pepatah man jadda wajada (مَنْ جَدَّ وَجَدَ) sebenarnya mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar kerja keras. Dalam bahasa Arab, kata “jada” (جَدَّ) memiliki konotasi yang kuat akan kesungguhan, ketekunan, dan fokus yang tak tergoyahkan. Ini bukan hanya tentang berusaha, tetapi juga tentang konsistensi dan dedikasi dalam mencapai tujuan. 

Kata “wajada” (وَجَدَ) di sini berarti “menemukan” atau “mendapatkan,” yang menunjukkan bahwa hasil dari usaha tersebut bukan hanya “keberhasilan”, tetapi juga “pemahaman” dan “pencerahan”.

Pepatah ini juga erat kaitannya dengan konsep ketawakalan dalam Islam, di mana seseorang dianjurkan untuk berusaha sekuat tenaga, namun tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. 

Konsep tawakal yang melengkapi pepatah man jadda wajada juga didukung oleh beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satu ayat Al-Qur’an yang sering dijadikan pedoman dalam tawakal terdapat dalam surah Ali Imran ayat 159:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Fa idzā ’azamta fatawakkal ’alallāh, innallāha yuhibbul-mutawakkilīn.”

Artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menekankan bahwa setelah seseorang berusaha dan membuat keputusan yang matang, langkah selanjutnya adalah bertawakal kepada Allah, karena hasil akhirnya berada dalam kuasa-Nya. Ini menunjukkan keseimbangan antara usaha manusia dan penyerahan hasil kepada Allah, yang merupakan inti dari pepatah man jadda wajada.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan pentingnya usaha sebelum bertawakal:

عَنْ أَنَسٍ قال رجلٌ يا رسولَ اللهِ أعقِلُها وأتوكَّلُ أو أُطلقُها وأتوكَّلُ قال اعقِلها وتوكَّلْ

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, ada seseorang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakal, atau aku biarkan saja dan bertawakal?’ Nabi menjawab: ‘Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.’” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengandung pelajaran penting bahwa usaha manusia tetap dibutuhkan, meskipun mereka mengandalkan pertolongan Allah. 

Dalam konteks man jadda wajada, seseorang harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuannya, namun tetap meyakini bahwa hasil akhirnya adalah ketetapan dari Allah.

Dalam perspektif ini, man jadda wajada mengingatkan bahwa kerja keras adalah bagian dari ikhtiar, namun keberhasilan sejati ada dalam ketetapan dan kehendak Allah. Dengan kata lain, manusia diwajibkan untuk berusaha, tetapi tidak boleh melupakan bahwa hasil akhir ada dalam tangan-Nya.

Dari sisi sejarah, pepatah ini konon telah digunakan sejak zaman kejayaan peradaban Arab-Islam, ketika para ulama dan pemikir besar Islam menerapkan prinsip ini dalam kehidupan mereka. Mereka tidak hanya berteori, tetapi benar-benar mencurahkan waktu dan tenaga dalam bidang-bidang yang mereka geluti. Prinsip man jadda wajada menjadi pedoman dalam menuntut ilmu, yang pada akhirnya mendorong mereka mencapai puncak keilmuan yang diakui dunia hingga saat ini.

Satu fakta menarik lainnya, pepatah ini juga mendapat tempat di berbagai budaya Muslim di luar Arab, termasuk Indonesia. Para ulama dan tokoh pendidikan di Indonesia menggunakan pepatah ini untuk memotivasi generasi muda agar tidak mudah menyerah dalam menuntut ilmu dan meraih cita-cita. Di beberapa pondok pesantren, pepatah ini bahkan menjadi semboyan yang tertulis di dinding-dinding kelas sebagai pengingat bahwa kesuksesan tidak datang tanpa usaha yang keras dan sungguh-sungguh.

Man jadda wajada!

Mengapa Istighfar Penting Setiap Hari?

Astaghfirullah wa atubu ilaih, tulisan arabnya:

أسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ

Artinya: “Aku meminta ampun pada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”

Kita dianjurkan untuk memperbanyak mengucapkan istighfar setiap hari. Contoh nyata dalam hal ini adalah teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَاللَّهِ إِنِّي لِأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سبعينَ مرَّةً

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali setiap hari.” (HR. Bukhari)

***

Istighfar Cara Terbaik Meraih Ampunan Allah

Istighfar adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih ampunan-Nya. 

Allah berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula sungai-sungai.’” (QS. Nuh: 10-12)

Ayat ini menjelaskan bahwa istighfar tidak hanya mendatangkan ampunan Allah, tetapi juga mendatangkan keberkahan duniawi, seperti hujan, rezeki, dan keturunan. Ini adalah bukti betapa istighfar memiliki dampak yang sangat besar, baik di dunia maupun di akhirat.

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menekankan pentingnya istighfar dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

Dari Abdullah bin Busr, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طُوبى لمن وُجِدَ في صحيفتِه استغفار ٌكثيرٌ

“Beruntunglah orang yang di dalam catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menekankan bahwa mereka yang memperbanyak istighfar akan memperoleh kebahagiaan di akhirat. Amalan ini menjadi penghapus dosa dan penyelamat di hari kiamat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun tidak. Karena itulah, Allah dengan penuh kasih sayang membuka pintu ampunan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat. 

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barang siapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)

Ayat ini memberikan harapan besar bagi kita yang ingin bertaubat, bahwa setiap kesalahan akan diampuni jika kita dengan tulus memohon ampun kepada Allah.

Maka dari itu, jangan pernah meremehkan kekuatan istighfar. Mari kita biasakan memperbanyak istighfar dalam keseharian kita, bukan hanya untuk menghapus dosa-dosa kita, tetapi juga untuk meraih keberkahan dan ketenangan hidup. 

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu mengucapkan astaghfirullah wa atubu ilaih di setiap kesempatan, dan semoga kita termasuk orang-orang yang diampuni oleh-Nya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu beristighfar setiap hari.

Banghen

Arti La Haula Wala Quwwata Illa Billah

Arti “la haula wala quwwata illa billah” adalah “tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah.”

Kalimat la haula wala quwwata illa billah sungguh istimewa, di antara keistimewaannya:

La Haula Wala Quwwata Illa Billah Salah Satu Perbendaharaan Surga

La haula wala quwwata illa billah (لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ) atau biasa juga disebut “hauqalah (حوقلة)” adalah satu di antara perbendaharaan surga.

Perbendaharaan artinya: kekayaan, barang berharga, atau tempat menyimpan harta benda.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat Abdullah bin Qois,

يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah: Laa haula wala quwwata illa billah, karena ia adalah satu di antara perbendaharaan surga.” (HR. Bukhari)

La hawla wala quwwata illa billah

La Haula Wala Quwwata Illa Billah Salah Satu Pintu Surga

La haula wala quwwata illa billah (لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ) adalah satu di antara pintu-pintu surga.

عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ أَنَّ أَبَاهُ دَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَخْدُمُهُ‏ قَالَ فَمَرَّ بِيَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَقَدْ صَلَّيْتُ فَضَرَبَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى‏ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ.‏ 

Dari Qais bin Sa’ad bin Ubadah, bahwa ayahnya menyerahkannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membantu dan berkhidmat kepadanya. Qais berkata, “Nabi menghampiriku saat aku sedang selesai shalat, lalu beliau menyentuhku dengan kakinya dan berkata, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu pintu surga?’ Aku menjawab, ‘Tentu saja.’ Beliau bersabda, ‘La haula wala quwwata illa billah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’” (HR. At-Tirmidzi)

La Haula Wala Quwwata Illa Billah Menjadi Bagian dari Bacaan Beberapa Doa dan Zikir

La haula wala quwwata illa billah menjadi bagian dari bacaan beberapa doa dan zikir harian, seperti:

  1. zikir setelah shalat,
  2. bacaan zikir ketika menjawab azan,
  3. doa agar mudah menghafal al-Quran,
  4. doa apabila terbangun di malam hari,
  5. doa ketika keluar rumah, dan lain-lain.

La Haula Wala Quwwata Illa Billah Wasilah Bertawakal kepada Allah

Selain menjadi salah satu pintu surga, kalimat la haula wala quwwata illa billah juga merupakan ungkapan yang mengajarkan kita untuk senantiasa bergantung kepada Allah dalam segala keadaan. 

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهۥ مَخْرَجًۭا وَيَرْزُقْهۥ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai penolongnya.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah akan selalu memberikan jalan keluar dan pertolongan kepada hamba-Nya yang bertakwa dan bertawakal. Kalimat la haula wala quwwata illa billah merupakan wujud dari penyerahan total kepada Allah dan kesadaran bahwa segala kekuatan berasal dari-Nya.

Maka, mari kita jadikan kalimat la haula wala quwwata illa billah sebagai zikir sehari-hari, dalam seluruh keadaan kita. Dengan mengucapkannya, kita tidak hanya memperkuat iman dan tawakal kita kepada Allah, tetapi juga mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga Allah memudahkan kita dalam mengamalkan zikir ini dan menjadikan hidup kita penuh berkah dan ketenangan.

Semoga bermanfaat.

Banghen

Arti Jazakallahu khairan

Jazakallahu khairan adalah ungkapan terima kasih dalam bentuk doa dalam bahasa Arab. Ucapan ini bermakna lebih dalam karena tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih, tetapi juga mendoakan kebaikan bagi orang yang telah berbuat baik kepada kita.

Apabila ada seseorang yang berbuat baik kepada kita, ucapkan:

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

JAZAAKALLAAHU KHAIRAN

Artinya: semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.

Ucapan “jazakallahu khairan” ditujukan kepada seorang laki-laki. Jika yang diberikan doa adalah perempuan, maka ucapannya berubah menjadi jazakillahu khairan (جَزَاكِ اللهُ خَيْرًا).

Kita dianjurkan untuk mengucapkan doa ini setiap kali mendapat perlakuan yang baik dari seseorang. Doa ini menunjukkan rasa syukur sekaligus penghargaan yang mendalam kepada orang lain.

Dalil dari ucapan jazakallahu khairan adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَعَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكِ اَللَّهُ خَيْراً‏ فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang diperlakukan baik oleh seseorang, lalu ia mengucapkan kepadanya: jazakallahu khairan, maka sungguh ia telah memberikan penghargaan sepenuhnya kepadanya.” (HR. Tirmidzi, lihat Bulughul Maram 1383)

Arti jazakallaahu khairan

Ucapan jazakallahu khairan ini bukan hanya sekadar ungkapan, tetapi doa yang mengandung kebaikan dan keberkahan. Dengan mengucapkannya, kita berharap Allah membalas orang tersebut dengan segala kebaikan yang lebih besar dari apa yang telah ia lakukan kepada kita.

Semoga bermanfaat.

Banghen

Dua Kalimat Syahadat

Dua kalimat syahadat adalah persaksian atau pengakuan bahwa:

  1. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah.
  2. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah (Rasulullah).

Bacaan dua kalimat syahadat adalah sebagai berikut:

أَشْهَدُ
 أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
 وَأَشْهَدُ
 أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ 

ASY-HADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH
WA ASY-HADU ANNA MUHAMMADDAR-RASUULULLAAH

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Di antara dalil yang menjelaskan dua kalimat syahadat adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tercantum dalam kitab Arba’in An-Nawawi, yaitu hadis ke-2. Hadis ini dikenal sebagai Hadis Jibril, di mana malaikat Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam bentuk seorang laki-laki yang tidak dikenal oleh para sahabat.

Hadis ini panjang, namun berikut ini adalah penggalan yang berkaitan dengan rukun Islam, terutama rukun yang pertama: mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم ذَاتَ يَوْمٍ إذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ

“Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam; tidak tampak padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Lalu dia duduk di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyandarkan lututnya pada lutut Nabi dan meletakkan tangannya di atas pahanya.”

وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إنْ اسْتَطَعْت إلَيْهِ سَبِيلًا

“Lalu dia berkata, ‘Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah; engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah jika mampu.’” (HR. Muslim)

Dua kalimat syahadat adalah fondasi dari Islam. Dengan mengucapkan dan meyakininya, seseorang memasuki agama Islam dan berkomitmen untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Banghen

Doa Apabila Terbangun di Tengah Malam

Doa ini sangat penting karena terbangun di malam hari merupakan waktu di mana doa lebih mudah dikabulkan oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan berdoa ketika terbangun di malam hari sebagai salah satu penyebab terkabulnya doa.

Hadis yang berkaitan dengan doa ini adalah sebagai berikut:

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang terjaga di malam hari, kemudian ia membaca: 

لاَ إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ الْحَمْدُ لِلهِ وَسُبْحَانَ اللهِ وَلاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

LAA ILAAHA ILALLAAH
(Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah)

WAHDAHU LAA SYARIIKALAH
(Satu-Satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya)

LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU
(Hanya milik-Nya kekuasaan dan pujian)

WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-ING QODIIR
(Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)

ALHAMDULILLAAH
(Segala puji bagi Allah)

WASUBHAANALLAAH
(Maha Suci Allah)

WALAA ILAAHA ILLALLAAH 
(Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah)

WALLAAHU AKBAR
(Allah Maha Besar)

WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
(Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)

Lalu dia berkata:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

ALLAAHUMMAGHFIRLII
(Ya Allah ampuni aku)

atau ia berdoa dengan doa lainnya, maka doanya akan dikabulkan. Apabila ia berwudhu lalu shalat, maka shalatnya akan diterima.” (HR. Bukhari)

***

***

Shalat Tahajud setelah Bangun di Malam Hari

Selain menjadi waktu yang baik untuk berdoa, terjaga di malam hari juga merupakan momen yang sangat dianjurkan untuk mendirikan Shalat Tahajud. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةًۭ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًۭا مَّحْمُودًۭا

“Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda mengenai keutamaan waktu sepertiga malam terakhir:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَىٰ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَىٰ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari)

Memperbanyak Istighfar di Sepertiga Malam Terakhir

Selain berdoa dan berzikir, kita dianjurkan untuk memohon ampun kepada Allah ketika terjaga di malam hari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memperbanyak istighfar di waktu malam, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

‎لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ، وَلَأَخَّرْتُ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَإِذَا مَضَى ثُلُثُ اللَّيْلِ نَزَلَ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَلَا يَزَالُ يَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ، هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟

“Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali shalat. Dan aku akan mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam. Ketika sepertiga malam berlalu, Allah turun ke langit dunia dan berkata: Apakah ada yang memohon, maka akan Aku beri? Apakah ada yang berdoa, maka Aku kabulkan? Apakah ada yang memohon ampun, maka akan Aku ampuni?”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Berdasarkan penjelasan dalam Syarh Ibnu Majah karya Mughlathay:

‎الراوي: أبو هريرة • علاء الدين مغلطاي • شرح ابن ماجه لمغلطاي • الصفحة أو الرقم: 2/511 • خلاصة حكم المحدث : سنده صحيح • التخريج : أخرجه أحمد (967) باختلاف يسير، والأمر بالسواك أخرجه البخاري (887)، ومسلم (252)

Hadis ini memiliki sanad yang shahih, dengan beberapa perbedaan kecil dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, serta mengenai perintah bersiwak yang juga terdapat dalam riwayat Bukhari dan Muslim. (Sumber: dorar.net)

Dengan mengamalkan doa ketika terbangun di malam hari, seseorang tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa, tetapi juga dapat mendirikan Shalat Tahajud dan memperbanyak istighfar.

Semoga Allah memudahkan kita untuk menghidupkan malam dengan doa dan zikir yang penuh khusyuk.

Banghen