Bersegera Mendatangi Amal Ketaatan

Bersegera mendatangi amal ketaatan tidaklah termasuk tergesa-gesa yang dicela, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan pada kita:

“Pelan-pelan dalam sesuatu itu baik, kecuali terkait amal akhirat.” (HR. Abu Dawud).

Betapa indah sifat yang disandang Yunus bin Ubaid rahimahullah, bahwa tidaklah satu perintah Allah datang kecuali ia telah siap menjalankannya. Contohnya, ia selalu dalam kondisi suci agar tidak terlambat shalat sunnah atau shalat wajib. Ia juga zuhud di dunia. Ia telah menulis wasiatnya sebagai bentuk kesiapan menyambut mati.

Dikutip dari buku Panduan Lengkap Shalat Khusyuk, oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani

Continue reading Bersegera Mendatangi Amal Ketaatan

Amalan-Amalan Hati yang Dapat Kita Jaga

Sobatku yang baik hatinya, baru saja saya teringat perkataan Abu Bakar Al-Muzani di bawah ini.

Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu,

“Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau shalat, akan tetapi karena iman yang bersemayam di dalam hatinya.”

Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut, Ibnu ‘Aliyah mengatakan, “Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat (ingin terus memberi kebaikan) terhadap (sesama).” (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab, 1:225).

***

Sobatku, para Sahabat Nabi, mereka istimewa dari semua sisi. Salah satunya amalan-amalan hati yang mereka jaga.

Ini motivasi untuk kita, agar senantiasa menjaga amalan-amalan hati, seperti:

  1. Rasa cinta kepada Allah dan Rasul-nya.
  2. Rasa cinta kepada kaum Muslimin, dan selalu menghendaki kebaikan untuk mereka. Memudahkan urusan-urusan mereka.
  3. Menjaga pandangan mata.
  4. Menjaga hati dari hasad dan dengki.
  5. Selalu berusaha memaafkan orang lain yang menyakiti kita. Ingat kan kisah seorang Sahabat Nabi yang dijamin masuk surga? Ternyata sang Sahabat tersebut setiap hari selalu memaafkan orang lain.
  6. Menjaga hati dari ujub, sombong, dan berbangga diri.
  7. Ridha dengan takdir Allah.
  8. Qana’ah.

Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Satu hal, amalan-amalan hati sungguhlah berat, tapi seberat apa pun, apabila dilatih dan ditempa dengan keras setiap hari—sembari meminta pertolongan Allah—tentulah kita akan terbiasa dengannya.

Banghen

Satu Ciri Penghuni Surga Saat Mereka di Dunia

Sobatku yang baik hatinya…

Ada satu sifat khas penghuni surga yang telah mereka latih ketika hidup di dunia.

Sifat ini tidak lahir dari keadaan yang mudah, tetapi dari hati yang besar.

Sebelum membahasnya, mari kita renungi firman Allah Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salam:

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dia (Yusuf) berkata: Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni kalian. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 92)

Continue reading Satu Ciri Penghuni Surga Saat Mereka di Dunia

Rahasia Kebaikan Nabi Yusuf: dari Penjara ke Istana

Kami Melihatmu Termasuk Orang Baik

Orang baik itu akan selalu baik, meskipun zaman silih berganti…

Ketika Nabi Yusuf ‘alaihis salam dimasukkan ke dalam penjara, dua pemuda turut menemani beliau. Dalam keheningan jeruji itu, mereka melihat pancaran kemuliaan dari sosok Nabi Yusuf, sebuah keindahan akhlak yang memikat hati dan memberikan ketenangan jiwa. Sebelum mereka meminta Nabi Yusuf mentakwilkan mimpi mereka, dengan tulus mereka berkata:

“Kami melihatmu termasuk orang baik.” 

وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيٰنِ ۗقَالَ اَحَدُهُمَآ اِنِّيْٓ اَرٰىنِيْٓ اَعْصِرُ خَمْرًا ۚوَقَالَ الْاٰخَرُ اِنِّيْٓ اَرٰىنِيْٓ اَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِيْ خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۗنَبِّئْنَا بِتَأْوِيْلِهٖ ۚاِنَّا نَرٰىكَ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, ‘Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur,’ dan yang lainnya berkata, ‘Aku bermimpi, membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.’ Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami melihatmu termasuk orang yang baik…” (QS. Yusuf: 36)

Continue reading Rahasia Kebaikan Nabi Yusuf: dari Penjara ke Istana

Mengatasi Kebosanan dalam Pernikahan: Cara Mencari Kembali Cinta

Apakah Anda seorang suami yang merasa mulai bosan dengan istri Anda? Atau mungkin Anda seorang istri yang merasa sudah bosan dengan suami Anda?

Ummu Khalid menulis sebuah karya yang mungkin dapat memadamkan api kebosanan yang mulai membakar taman rumah tangga Anda.

Ladies, in your marriage, always choose boredom over excitement.

I’ve been married for sixteen years alhamdulillah, and my marriage is “boring.”

And I love it!

A “boring” marriage with a “predictable” man is really actually a solid, stable, secure relationship with a reliable, steady man with whom you are fully comfortable and relaxed.

Some wives are blessed enough to have this, but they find it “boring” or “meh.”

Why?

Because they’re fantasizing about the thrill of the chase, the excitement of novelty, the adventure of the unknown and unfamiliar. They crave the butterflies in the stomach, the blush that comes over the face, the sparkle of speculation in the eyes. They want the “spark” with a mystery man they just met, not the husband they’ve known for nine years.

Some people even destroy their marriage because they’re “not in love” anymore.

But these are just dreams of infatuation, romance, lust.

Not love.

Real love isn’t crazy. It isn’t unstable or hectic or messy. It isn’t confusing or heady. It isn’t really very “exciting” because there’s no drama.

Real love is comfortable, calm, peaceful. Serene and tranquil. Like in the word َسَكَن , “sakana,” “to be still, without movement.” The very same word Allah Himself uses in the Quran to describe marriage:

وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً

“And of His signs is that He created for you from yourselves mates that you may find tranquility in them; and He placed between you affection and mercy…” (Surat Ar-Rum, 21)

The first description of a spouse is in the word تسكنوا, “to find tranquility/ serenity/ peace/ stillness.” Then, after that, Allah also uses the words “affection” and “mercy.”

Real love is serene, affectionate, merciful.

It deepens over time, maturing into a beautiful blossom when the initial rush of the honeymoon fades. It settles into a cozy routine of daily life, day in and day out, predictable and dependable. It grounds us. It allows us to be fully ourselves.

But, because we are human and humans are often impatient, we grow bored with this, tired of what begins to feel like monotony. We begin to grow restless, dissatisfied, discontented.

خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ

“The human being was created from haste/ impatience…” (Surat Al-Anbiya’, 37)

وكان الإنسان عجولا

“And the human being is ever hasty.” (Surat Al-Isra’, 11)

We lack patience. We don’t have perseverance.

We see the grass as always greener on the other side.

But…the grass is greener where you water it.

So, devote your pent-up energy to your marriage. Pay closer attention to your husband. See him as though for the first time. Recreate the romance. Try to change things up a bit at home to spice up your relationship with your husband.

Never give up on your healthy marriage to a good man.

Persevere.

InshaAllah you will love the results!

Continue reading Mengatasi Kebosanan dalam Pernikahan: Cara Mencari Kembali Cinta

Ustadz, sudah saatnya kau menata hati!

Sahabatku, mungkin selama ini orang-orang di lingkaranmu memanggilmu dengan sebutan “ustadz”, ditambah dengan sikap takzimnya mereka padamu. Lama-lama panggilan itu melekat di benak dan hatimu. Jadilah engkaulah “sang ustadz”.

Pernahkah, suatu ketika ada orang yang memanggilmu dengan menyebut namamu, tanpa disertai sebutan “ustadz” di depan namamu? Ditambah pula sikap dia tak setakzim orang-orang yang memanggilmu dengan sebutan ustadz. Apa yang kau rasa? Bagaimana perasaanmu?

Jika kau rasa “beda” di hatimu, atau jika kau merasa sedikit “direndahkan”, atau jika kau merasa “kurang ditinggikan”, maka sudah saatnya kau menata hatimu!

Sahabatku, kita ini sama di hadapan Allah, yang membedakan hanyalah ketakwaan kita. Jangan kau tertipu dengan panggilan takzim orang-orang di hadapanmu. Selamatkan hatimu.

Banghen

Lebih Baik Keliru Berbaik Sangka

Jika “berbaik sangka” adalah sebuah benda, maka ia adalah benda yang sangat penting dalam kehidupan. Telanlah ia! Agar menyatu dalam dirimu, sehingga ia tak mudah hilang.

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr berkata:

لَأَنْ يَكُونَ خَطَأُكَ مَعَ أَخِيكَ فِي بَابِ إِحْسَانِ الظَّنِّ
 خَيْرٌ لَكَ مِنْ
 أَنْ يَكُونَ خَطَأُكَ مَعَ أَخِيكَ فِي بَابِ إِسَاءَةِ الظَّنِّ

“Sungguh, kekeliruanmu dalam berbaik sangka terhadap saudaramu lebih baik daripada kekeliruanmu dalam berburuk sangka terhadapnya.” (via Yufid.TV)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan, memata-matai, mendengki, membelakangi, atau membenci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563)

Berbaik sangka, atau husnuzan, merupakan sifat yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama dalam menjaga hubungan antar sesama. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini memperingatkan kita agar tidak mudah berprasangka buruk, karena prasangka buruk dapat menimbulkan dosa dan merusak hubungan persaudaraan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tergoda untuk menilai orang lain berdasarkan asumsi dan informasi yang tidak jelas, padahal hal itu bisa menyebabkan kesalahpahaman dan permusuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menekankan pentingnya menjaga hubungan baik di antara sesama. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Amr:

إنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عليه وسلَّمَ لَمْ يَكُنْ فاحِشًا ولا مُتَفَحِّشًا. وقالَ: إنَّ مِن أحَبِّكُمْ إلَيَّ أحْسَنَكُمْ أخْلاقًا. وقالَ: اسْتَقْرِئُوا القُرْآنَ مِن أرْبَعَةٍ؛ مِن عبدِ اللَّهِ بنِ مَسْعُودٍ، وسالِمٍ مَوْلى أبِي حُذَيْفَةَ، وأُبَيِّ بنِ كَعْبٍ، ومُعاذِ بنِ جَبَلٍ

الراوي: عبدالله بن عمرو • البخاري، صحيح البخاري (٣٧٥٩) • [صحيح] • أخرجه مسلم (٢٣٢١) باختلاف يسير. والحديث الثاني: أخرجه مسلم (٢٤٦٤) باختلاف يسير

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata kasar dan tidak pernah sengaja berbuat keji. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang paling dicintai olehku di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. Dan beliau bersabda: ‘Ambillah bacaan Al-Qur’an dari empat orang: dari Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’b, dan Mu’adz bin Jabal.'”

Periwayat hadis: Abdullah bin Amr. Hadis ini tercatat dalam Shahih Bukhari (no. 3759) dan Shahih Muslim (no. 2321 dan no. 2464) dengan sedikit perbedaan.

Maka dari itu, salah satu bentuk akhlak yang baik adalah berbaik sangka kepada sesama. Dengan selalu berusaha berbaik sangka, kita dapat menghindari prasangka buruk yang hanya akan membawa kepada kebencian dan perpecahan.

Semoga kita selalu diberi kekuatan oleh Allah untuk senantiasa berbaik sangka terhadap saudara-saudara kita, sehingga tercipta kehidupan yang penuh dengan persaudaraan, kasih sayang, dan kedamaian.

Sedekah yang Dibungkus Martabat

Seorang wanita bertanya, “Berapa harga telur yang Anda jual?”

Penjual tua itu menjawab dengan tenang, “50 sen per butir, Nyonya.”

Wanita itu merespons dengan nada mendikte, “Saya beli enam butir untuk $2,50 atau saya pergi.”

Penjual tua itu menatapnya sejenak lalu menjawab dengan sabar, “Belilah dengan harga yang Anda inginkan, Nyonya. Ini awal yang baik untuk saya hari ini. Saya belum menjual apa pun, dan saya membutuhkan ini untuk hidup.”

Dengan perasaan puas, wanita itu membeli telur tersebut dengan harga murah. Ia meninggalkan tempat itu dengan keyakinan bahwa ia telah memenangkan “negosiasi.”

Setelah itu, ia masuk ke mobil mewahnya dan pergi ke restoran mahal bersama seorang temannya. Mereka memesan makanan sesuka hati, menyantap sedikit, dan meninggalkan banyak sisa makanan di atas meja. Ketika tagihan datang, totalnya mencapai $150. Wanita itu memberikan $200 dan berkata kepada pemilik restoran, “Ambil saja kembaliannya.”

Cerita ini mungkin terasa biasa saja bagi pemilik restoran mahal itu, tapi bagi penjual telur, ini adalah gambaran ketidakadilan yang nyata.

Pertanyaan yang muncul adalah:

Mengapa kita sering merasa perlu menunjukkan kekuasaan kita saat membeli dari mereka yang membutuhkan?

Dan mengapa kita justru bermurah hati kepada mereka yang sebenarnya tidak membutuhkan kemurahan hati kita?

Ada sebuah kisah yang pernah saya baca. Seorang ayah memiliki kebiasaan membeli barang-barang dari orang miskin dengan harga yang lebih tinggi dari yang diminta. Bahkan terkadang ia membayar lebih meskipun tidak benar-benar membutuhkan barang itu.

Suatu hari, anaknya bertanya, “Ayah, kenapa Ayah melakukan ini?”

Dengan senyum bijak, sang ayah menjawab, “Ini adalah sedekah yang terbungkus dengan martabat, Nak.”

Kisah ini mengajarkan kita untuk memandang setiap transaksi lebih dari sekadar angka atau harga. Dalam setiap rupiah yang kita keluarkan, ada pilihan: apakah kita ingin membantu atau hanya sekadar mengambil keuntungan?

Mari kita tantang diri kita untuk menjadi lebih baik.

Kita bisa memulai hari ini, dengan memberikan harga yang layak pada mereka yang berjuang untuk hidup, dan mengingat bahwa kebaikan kecil bisa memberikan dampak besar.

***

TEKS ARTIKEL ASLI BERBAHASA INGGRIS:

A lady asks: “How much do you sell your eggs for?”

The old vendor replies “50¢ an egg, madam.” The lady says, “I’ll take 6 eggs for $2.50 or I’m leaving.”

The old salesman replies “Buy them at the price you want, Madam. This is a good start for me because I haven’t sold a single egg today and I need this to live.”

She bought her eggs at a bargain price and left with the feeling that she had won.  

She got into her fancy car and went to a fancy restaurant with her friend. She and her friend ordered what they wanted. They ate a little and left a lot of what they had asked for.  

They paid the bill, which was $150. The ladies gave $200 and told the fancy restaurant owner to keep the change as a tip…

This story might seem quite normal to the owner of the fancy restaurant, but very unfair to the egg seller…

The question it raises is:

𝙒𝙝𝙮 𝙙𝙤 𝙬𝙚 𝙖𝙡𝙬𝙖𝙮𝙨 𝙣𝙚𝙚𝙙 𝙩𝙤 𝙨𝙝𝙤𝙬 𝙩𝙝𝙖𝙩 𝙬𝙚 𝙝𝙖𝙫𝙚 𝙥𝙤𝙬𝙚𝙧 𝙬𝙝𝙚𝙣 𝙬𝙚 𝙗𝙪𝙮 𝙛𝙧𝙤𝙢 𝙩𝙝𝙚 𝙣𝙚𝙚𝙙𝙮? 
𝗔𝗻𝗱 𝘄𝗵𝘆 𝗮𝗿𝗲 𝘄𝗲 𝗴𝗲𝗻𝗲𝗿𝗼𝘂𝘀 𝘁𝗼 𝘁𝗵𝗼𝘀𝗲 𝘄𝗵𝗼 𝗱𝗼𝗻’𝘁 𝗲𝘃𝗲𝗻 𝗻𝗲𝗲𝗱 𝗼𝘂𝗿 𝗴𝗲𝗻𝗲𝗿𝗼𝘀𝗶𝘁𝘆?

I once read this somewhere ,that a father used to buy goods from poor people at high prices, even though he didn’t need the things. Sometimes he paid more for them. 

I was amazed. One day his son asked him “Why are you doing this Dad?” His father replied: “It’s charity wrapped in dignity, son.”

I want to challenge each one of us to do better. We can do that. 

Sumber: Facebook Jonas Troyer https://www.facebook.com/photo/?fbid=3518063768464055&set=a.1385697861700667

Jangan Paksa agar Nasihatmu Diterima!

Ibnu Hazm Al-Andalusi rahimahullah mengatakan,

لَا تَنْصَحُ عَلَى شَرْطِ الْقَبُوْلِ مِنْكَ، فَإِنْ تَعَدَّيْتَ هَذِهِ الْوُجُوهَ، فَأَنْتَ ظَالِمٌ لَا نَاصِحٌ، وَطَالِبُ طَاعَةٍ لَا مُؤَدِّي حَقِّ دِيَانَةٍ وأُخُوَّةٍ، وَلَيْسَ هَذَا حُكْمَ الْعَقْلِ وَلَا حُكْمَ الصَّدَاقَةِ، وَلَكِنْ حُكْمَ الْأَمِيْرِ مَعَ رَعِيَّتِهِ وَالسَّيِّدِ مَعَ عَبِيْدِهِ

“Janganlah engkau menasihati orang lain dengan mengharuskannya menerima nasihatmu. Jika engkau berbuat demikian, berarti engkau menzalimi, bukan menasihati; engkau minta ditaati, bukan menunaikan hak agama dan ukhuah. Yang demikian itu bukanlah kearifan orang yang berbudi dan welas asih, melainkan paksaan seorang penguasa terhadap rakyatnya dan tuan terhadap budaknya.” (Rasail Ibnu Hazm)

*) Terjemahan di atas adalah hasil diskusi saya dengan ustadz Agus Waluyo, ustadz Bayu Pratomo, dan ustadz Daris Musthofa.

Husnuzan yang Hilang

حسن الظن بالناس للشيخ عبد المالك بن أحمد رمضاني

Di antara akhlak mulia yang dibawa oleh agama kita adalah berprasangka baik dengan manusia (husnuzan). Ia adalah akhlak luhur yang mencerminkan jiwa yang baik. Ciri jiwa yang baik adalah jernihnya pikiran dan tulusnya hati terhadap saudara seiman. Apabila ia berinteraksi dengan lemah lembut dan lisan yang terjaga, maka sungguh telah sempurna akhlaknya, karena jika hati baik maka baik pula seluruh perbuatannya. Ibarat pohon, bila akarnya baik, maka baik pula buahnya. Sebaliknya, prasangka-prasangka buruk bersumber dari hati yang buruk. (Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani) – LINK DOWNLOAD PDF: https://ia801309.us.archive.org/22/items/tvpf5/tvpf5.pdf

***

Husnuzan ini salah satu akhlak mulia yang hilang. Betapa banyak pertikaian, permusuhan, saling tuding, ghibah, dan mencari-cari kesalahan saudaranya tanpa hak, disebabkan hilangnya akhlak yang mulia ini.

Munculnya sentimen negatif terhadap seseorang, seringkali karena hilangnya husnuzan ini. Apabila sejak awal dia sudah sentimen dengan seseorang, maka selanjutnya, pikirannya dan penilaiannya diliputi suuzan terhadap orang itu. Terjadilah kezaliman demi kezaliman.

Seandainya kita selalu teringat dengan kematian, alam kubur, dan hari ketika kita menghadap Allah, sanggupkah kita membayangkan apa hujah kita di hadapan Allah, ketika Allah menanyakan apa alasan kita sampai tega berbuat zalim terhadap saudara kita?

Penyusun dan penerjemah: Hendri Syahrial (Banghen)