ALLAAHUMAQSIM LANAA MIN KHOSY-YATIKA MAA YAHUULU BAINANAA WA BAINA MA-’AASHIIKA WA MIN THOO-‘ATIKA MAA TUBALLIGHUNAA BIHI JANNATAKA WA MINAL YAQIINI MAA TUHAWWINU BIHI ‘ALAINAA MUSHIIBAATID-DUN-YAA
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menjadi penghalang antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu. Karuniakan pula kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya Engkau menyampaikan kami ke surga-Mu. Dan anugerahkan kepada kami keyakinan yang dengannya Engkau ringankan atas kami musibah-musibah dunia.
WA MAT-TI’NAA BI ASMAA-‘INAA WA ABSHOORINAA WA QUWWATINAA MAA AHYAITANAA WAJ-‘ALHUL WAARITSA MIN-NAA WAJ-‘AL TSA’RONAA ‘ALAA MAN ZHOLAMANAA WAN-SHURNAA ‘ALAA MAN ‘AADAANAA
Berilah kami kenikmatan pada pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau masih menghidupkan kami, dan jadikanlah semuanya itu tetap melekat hingga akhir hayat kami. Jadikanlah pembalasan kami tertuju kepada orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami.
Jangan Engkau jadikan musibah terbesar kami pada agama kami, jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak cita-cita kami dan batas ilmu kami, dan jangan Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak memiliki kasih sayang kepada kami. (HR. At-Tirmidzi)
Boleh jadi Allah menundanya darimu, karena Allah menghendaki sesuatu yang jauh lebih indah daripada apa yang seandainya datang lebih cepat.
Ada doa kita yang Allah tunda waktu pengabulannya di dunia. Bukan karena terlambat, tapi Allah Maha Mengetahui kapan saat yang tepat.
Ada pula doa kita yang Allah berikan pengabulannya di akhirat, karena itulah saat yang tepat.
Tidak semua penundaan adalah penolakan.
Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…” (QS. Ghafir: 60)
Ada waktu-waktu ketika Allah menahan sesuatu, bukan karena kita tidak layak, melainkan karena yang akan datang kelak lebih matang, lebih baik, dan lebih tepat bagi kita.
Kesabaran hari ini sering kali adalah pintu bagi keindahan esok hari.
ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA HUBBAKA WA HUBBA MAN YUHIBBUKA WAL ‘AMALALLADZII YUBALLIGHUNII HUBBAKA
ALLAAHUMMAJ-‘AL HUBBAKA AHABBA ILAI-YA MIN NAFSII WA AHLII WAMINAL MAA-IL BAARID
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amal yang dapat mengantarkanku kepada cinta-Mu.
Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih aku cintai daripada diriku sendiri, keluargaku, dan bahkan daripada air dingin.
Perawi berkata: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Nabi Dawud, beliau menceritakan tentangnya seraya bersabda: “Beliau adalah manusia yang paling ahli beribadah.” (HR. At-Tirmidzi)
Dari Abdurrahman bin Abi Laila, beliau berkata: “Aku bertemu dengan Ka’ab bin Ujrah, kemudian beliau berkata: ‘Maukah kamu aku berikan hadiah yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Aku berkata: ‘Iya, hadiahkanlah itu kepadaku.’
Maka beliau berkata: ‘Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepada Anda, wahai ahlul bait? Karena Allah sudah mengajari kami bagaimana caranya mengucapkan salam.’
ALLAAHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA IBROOHIIM WA ALAA AALI IBROOHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID ALLAAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAAROKTA ‘ALAA IBROOHIIM WA ‘ALAA AALI IBROOHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID
Artinya: Ya Allah, anugerahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Sebagaimana Engkau telah menganugerahkan shalawat atas Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.'” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Shalawat Ibrahimiyah disebut shalawat terbaik karena ia langsung diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata:
وخير صيغة يقولها الإنسان في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ما اختاره النبي صلى الله عليه وسلم للصلاة عليه بها
“Sebaik-baik lafaz shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lafaz shalawat yang beliau pilih.” (Majmu Fatawa wa Rasail Fadhilatu As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin 13/230)
Ditambah pula Shalawat Ibrahimiyah ini selalu kita baca ketika tasyahud di dalam shalat.
Berikut ini video bacaan Shalawat Ibrahimiyah sebagai panduan audio visual:
Beberapa Lafaz Shalawat Ibrahimiyah
Ada beberapa lafaz Shalawat Ibrahimiyah yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara lafaz Shalawat Ibrahimiyah yang satu dengan yang lainnya hanya ada sedikit perbedaan lafaz. Selama lafaz Shalawat Ibrahimiyah itu shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia dapat diamalkan. Ia dapat diamalkan baik di dalam shalat – ketika tasyahud – maupun di luar shalat.
***
Insya Allah di lain kesempatan, saya akan melengkapi tulisan ini. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada saya.
Bacaan shalawat Nabi Allahumma sholli wa sallim ‘alaa nabiy-yinaa Muhammad (اللَّهُمَّ صَّلِ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَامُحَمَّدٍ) adalah bacaan shalawat yang sangat pendek. Bacaan ini juga mudah diucapkan. Bacaan ini boleh senantiasa kita ucapkan.
Namun, bacaan shalawat yang terbaik adalah Shalawat Ibrahimiyah, yaitu bacaan shalawat Nabi yang biasa kita baca dalam shalat ketika tasyahud. Bacaan shalawat inilah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ALLAAHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHOLLAI-TA ‘ALAA IBROOHIIM WA ‘ALAA AALI IBROOHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID ALLAAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAAROKTA ‘ALAA IBROOHIIM WA ‘ALAA AALI IBROOHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID
Inilah bacaan shalawat terbaik. Boleh kita baca di luar shalat, terlebih-lebih lagi di dalam shalat, karena ini adalah bagian dari bacaan tasyahud.
Allah memerintahkan kita untuk memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan juga ucapkanlah salam untuknya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Di antara keutamaan memperbanyak bershalawat adalah kedekatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat. Orang yang sering bershalawat ke atas junjungan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling dekat dengan beliau di hari kiamat kelak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أولَى الناسِ بِيْ يوم القيامة أكثرُهم عليَّ صلاةً
“Orang yang paling dekat dariku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi)
Mari kita senantiasa membaca shalawat untuk Nabi kita tercinta shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Artinya: “Aku meminta ampun pada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”
Kita dianjurkan untuk memperbanyak mengucapkan istighfar setiap hari. Contoh nyata dalam hal ini adalah teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali setiap hari.” (HR. Bukhari)
***
Istighfar Cara Terbaik Meraih Ampunan Allah
Istighfar adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih ampunan-Nya.
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula sungai-sungai.’” (QS. Nuh: 10-12)
Ayat ini menjelaskan bahwa istighfar tidak hanya mendatangkan ampunan Allah, tetapi juga mendatangkan keberkahan duniawi, seperti hujan, rezeki, dan keturunan. Ini adalah bukti betapa istighfar memiliki dampak yang sangat besar, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menekankan pentingnya istighfar dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:
Dari Abdullah bin Busr, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
طُوبى لمن وُجِدَ في صحيفتِه استغفار ٌكثيرٌ
“Beruntunglah orang yang di dalam catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menekankan bahwa mereka yang memperbanyak istighfar akan memperoleh kebahagiaan di akhirat. Amalan ini menjadi penghapus dosa dan penyelamat di hari kiamat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun tidak. Karena itulah, Allah dengan penuh kasih sayang membuka pintu ampunan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat.
“Dan barang siapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)
Ayat ini memberikan harapan besar bagi kita yang ingin bertaubat, bahwa setiap kesalahan akan diampuni jika kita dengan tulus memohon ampun kepada Allah.
Maka dari itu, jangan pernah meremehkan kekuatan istighfar. Mari kita biasakan memperbanyak istighfar dalam keseharian kita, bukan hanya untuk menghapus dosa-dosa kita, tetapi juga untuk meraih keberkahan dan ketenangan hidup.
Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu mengucapkan astaghfirullah wa atubu ilaih di setiap kesempatan, dan semoga kita termasuk orang-orang yang diampuni oleh-Nya.
Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu beristighfar setiap hari.
Arti “la haula wala quwwata illa billah” adalah “tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah.”
Kalimat la haula wala quwwata illa billah sungguh istimewa, di antara keistimewaannya:
La Haula Wala Quwwata Illa Billah Salah Satu Perbendaharaan Surga
La haula wala quwwata illa billah (لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ) atau biasa juga disebut “hauqalah (حوقلة)” adalah satu di antara perbendaharaan surga.
Perbendaharaan artinya: kekayaan, barang berharga, atau tempat menyimpan harta benda.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat Abdullah bin Qois,
“Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah: Laa haula wala quwwata illa billah, karena ia adalah satu di antara perbendaharaan surga.” (HR. Bukhari)
La Haula Wala Quwwata Illa Billah Salah Satu Pintu Surga
La haula wala quwwata illa billah (لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ) adalah satu di antara pintu-pintu surga.
عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ أَنَّ أَبَاهُ دَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَخْدُمُهُ قَالَ فَمَرَّ بِيَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَقَدْ صَلَّيْتُ فَضَرَبَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ.
Dari Qais bin Sa’ad bin Ubadah, bahwa ayahnya menyerahkannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membantu dan berkhidmat kepadanya. Qais berkata, “Nabi menghampiriku saat aku sedang selesai shalat, lalu beliau menyentuhku dengan kakinya dan berkata, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu pintu surga?’ Aku menjawab, ‘Tentu saja.’ Beliau bersabda, ‘La haula wala quwwata illa billah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’” (HR. At-Tirmidzi)
La Haula Wala Quwwata Illa Billah Menjadi Bagian dari Bacaan Beberapa Doa dan Zikir
La haula wala quwwata illa billah menjadi bagian dari bacaan beberapa doa dan zikir harian, seperti:
La Haula Wala Quwwata Illa Billah Wasilah Bertawakal kepada Allah
Selain menjadi salah satu pintu surga, kalimat la haula wala quwwata illa billah juga merupakan ungkapan yang mengajarkan kita untuk senantiasa bergantung kepada Allah dalam segala keadaan.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai penolongnya.” (QS. At-Talaq: 2-3)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah akan selalu memberikan jalan keluar dan pertolongan kepada hamba-Nya yang bertakwa dan bertawakal. Kalimat la haula wala quwwata illa billah merupakan wujud dari penyerahan total kepada Allah dan kesadaran bahwa segala kekuatan berasal dari-Nya.
Maka, mari kita jadikan kalimat la haula wala quwwata illa billah sebagai zikir sehari-hari, dalam seluruh keadaan kita. Dengan mengucapkannya, kita tidak hanya memperkuat iman dan tawakal kita kepada Allah, tetapi juga mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga Allah memudahkan kita dalam mengamalkan zikir ini dan menjadikan hidup kita penuh berkah dan ketenangan.
Jazakallahu khairan adalah ungkapan terima kasih dalam bentuk doa dalam bahasa Arab. Ucapan ini bermakna lebih dalam karena tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih, tetapi juga mendoakan kebaikan bagi orang yang telah berbuat baik kepada kita.
Apabila ada seseorang yang berbuat baik kepada kita, ucapkan:
جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا
JAZAAKALLAAHU KHAIRAN
Artinya: semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.
Ucapan “jazakallahu khairan” ditujukan kepada seorang laki-laki. Jika yang diberikan doa adalah perempuan, maka ucapannya berubah menjadi jazakillahu khairan (جَزَاكِ اللهُ خَيْرًا).
Kita dianjurkan untuk mengucapkan doa ini setiap kali mendapat perlakuan yang baik dari seseorang. Doa ini menunjukkan rasa syukur sekaligus penghargaan yang mendalam kepada orang lain.
Dalil dari ucapan jazakallahu khairan adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَعَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكِ اَللَّهُ خَيْراً فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang diperlakukan baik oleh seseorang, lalu ia mengucapkan kepadanya: jazakallahu khairan, maka sungguh ia telah memberikan penghargaan sepenuhnya kepadanya.” (HR. Tirmidzi, lihat Bulughul Maram 1383)
Ucapan jazakallahu khairan ini bukan hanya sekadar ungkapan, tetapi doa yang mengandung kebaikan dan keberkahan. Dengan mengucapkannya, kita berharap Allah membalas orang tersebut dengan segala kebaikan yang lebih besar dari apa yang telah ia lakukan kepada kita.
Doa ini sangat penting karena terbangun di malam hari merupakan waktu di mana doa lebih mudah dikabulkan oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan berdoa ketika terbangun di malam hari sebagai salah satu penyebab terkabulnya doa.
Hadis yang berkaitan dengan doa ini adalah sebagai berikut:
Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang terjaga di malam hari, kemudian ia membaca:
LAA ILAAHA ILALLAAH (Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah)
WAHDAHU LAA SYARIIKALAH (Satu-Satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya)
LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU (Hanya milik-Nya kekuasaan dan pujian)
WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-ING QODIIR (Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)
ALHAMDULILLAAH (Segala puji bagi Allah)
WASUBHAANALLAAH (Maha Suci Allah)
WALAA ILAAHA ILLALLAAH (Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah)
WALLAAHU AKBAR (Allah Maha Besar)
WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)
Lalu dia berkata: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
ALLAAHUMMAGHFIRLII (Ya Allah ampuni aku)
atau ia berdoa dengan doa lainnya, maka doanya akan dikabulkan. Apabila ia berwudhu lalu shalat, maka shalatnya akan diterima.” (HR. Bukhari)
***
***
Shalat Tahajud setelah Bangun di Malam Hari
Selain menjadi waktu yang baik untuk berdoa, terjaga di malam hari juga merupakan momen yang sangat dianjurkan untuk mendirikan Shalat Tahajud. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda mengenai keutamaan waktu sepertiga malam terakhir:
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari)
Memperbanyak Istighfar di Sepertiga Malam Terakhir
Selain berdoa dan berzikir, kita dianjurkan untuk memohon ampun kepada Allah ketika terjaga di malam hari.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memperbanyak istighfar di waktu malam, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
“Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali shalat. Dan aku akan mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam. Ketika sepertiga malam berlalu, Allah turun ke langit dunia dan berkata: Apakah ada yang memohon, maka akan Aku beri? Apakah ada yang berdoa, maka Aku kabulkan? Apakah ada yang memohon ampun, maka akan Aku ampuni?”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Berdasarkan penjelasan dalam Syarh Ibnu Majah karya Mughlathay:
الراوي: أبو هريرة • علاء الدين مغلطاي • شرح ابن ماجه لمغلطاي • الصفحة أو الرقم: 2/511 • خلاصة حكم المحدث : سنده صحيح • التخريج : أخرجه أحمد (967) باختلاف يسير، والأمر بالسواك أخرجه البخاري (887)، ومسلم (252)
Hadis ini memiliki sanad yang shahih, dengan beberapa perbedaan kecil dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, serta mengenai perintah bersiwak yang juga terdapat dalam riwayat Bukhari dan Muslim. (Sumber: dorar.net)
Dengan mengamalkan doa ketika terbangun di malam hari, seseorang tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa, tetapi juga dapat mendirikan Shalat Tahajud dan memperbanyak istighfar.
Semoga Allah memudahkan kita untuk menghidupkan malam dengan doa dan zikir yang penuh khusyuk.
Saya sangat senang ketika mengetahui bahwa ada doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mudah menghafal Al-Qur’an, serta mudah membacanya dan mempelajarinya.
Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:
Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Sungguh aku tidak mampu mendapat apa pun dari Al-Qur’an (yaitu dari sisi menghafalnya, membacanya, dan mempelajarinya), jadi mohon ajarkanlah padaku sesuatu yang mencukupiku.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Katakanlah:
Artinya: “Maha Suci Allah, dan segala puji hanyalah milik Allah, dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).”
Laki-laki tersebut lantas bertanya: “Wahai Rasulullah, ini (zikir dan pujian) untuk Allah, lalu apa (doa) untukku?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Katakanlah:
Ketika laki-laki tersebut berdiri, dia berkata, “Begini…” sembari memberi isyarat dengan tangannya (yaitu dengan menggenggamnya).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sungguh laki-laki itu telah mengisi tangannya dengan kebaikan.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Shahih Abi Dawud).
***
Al-Qur’an itu Mudah Dihafal!
Al-Qur’an itu mudah dihafal, dibandingkan dengan kitab-kitab lainnya. Betapa banyak penghafal Al-Qur’an, dari anak kecil hingga orang tua. Ini adalah bukti nyata Al-Qur’an itu mudah dihafal.
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat dan dipelajari, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)
Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang bersungguh-sungguh untuk menghafal dan mempelajari Al-Qur’an akan mendapatkan kemudahan dengan izin Allah.
Orang Terbaik adalah yang Belajar dan Mempelajari Al-Qur’an
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda mengenai keutamaan seseorang yang tekun mempelajari Al-Qur’an:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027)
Hadis ini menunjukkan betapa besar pahala bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an dan berusaha untuk memahaminya, bahkan lebih baik lagi jika ia juga mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain.
Kemuliaan Penghafal Al-Qur’an
Di hadis yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang kemuliaan para penghafal Al-Qur’an, yang kemuliaan tersebut mereka dapatkan nanti di akhirat, setelah kemuliaan-kemuliaan yang mereka dapatkan di dunia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Akan dikatakan kepada ahli Al-Qur’an: Bacalah dan naiklah, serta tartilkanlah sebagaimana engkau membacanya di dunia. Maka sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud no. 1464, Tirmidzi no. 2914, dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Doa Agar Mudah Mempelajari Al-Qur’an
Selain itu, pentingnya doa dalam proses belajar tidak dapat diragukan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu.’” (QS. Taha: 114)
Doa ini sangat baik untuk diamalkan, terutama bagi orang yang ingin memperdalam ilmu agama, termasuk dalam hal menghafal dan memahami Al-Qur’an.
Dengan menggabungkan berdoa, keyakinan kepada Allah, kemudian usaha yang keras, insya Allah seseorang akan dimudahkan dalam menghafal Al-Qur’an dan memperoleh kebaikan darinya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan dalam mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an.
Artinya: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran: 173)
Yaitu sesungguhnya Allah Yang Maha Mencukupi dalam seluruh urusan; tidak satu pun keburukan kecuali Allah Maha Kuasa untuk menjauhkannya; dan tidak pula satu kebaikan kecuali Allah Maha Kuasa untuk mendekatkannya.
***
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL
Adalah kalimat agung nan indah yang mengandung tawakal, berserah diri sepenuhnya dengan tulus kepada Allah.
***
Khasiat dan Cara Mengamalkan Hasbunallah wani’mal wakil
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL
Dianjurkan diucapkan oleh seorang muslim agar mendapatkan rahmat Allah dan berbagai kebaikan yang diinginkan. Dalilnya adalah QS. At-Taubah ayat 59:
Sekiranya mereka benar-benar rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 59)
***
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL
Juga dianjurkan untuk diucapkan oleh seorang muslim agar terhindar dari keburukan, musibah, kesulitan, dan semua hal yang dikhawatirkan.
***
Ayat dan Hadis tentang Hasbunallah wani’mal wakil
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL
Diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Selain QS. At-Taubah ayat 59 yang menjadi dalil mengucapkan hasbunallah wani’mal wakil agar mendapatkan rahmat Allah dan berbagai kebaikan yang diinginkan, ada dalil lainnya dari Al-Quran, yaitu QS. Ali-Imran ayat 173 yang menjadi dalil mengucapkannya agar terhindar dari keburukan, musibah, kesulitan, dan semua hal yang dikhawatirkan.
Ada pula dalil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mari kita baca hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut:
Dari Ibnu Abbas: Hasbunallaah wani’mal wakiil diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika dilemparkan ke dalam api. Diucapkan pula oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (perkataan) itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” [QS. Ali Imran: 173] (HR. Bukhari)
Di antara bentuk kejujuran iman seorang mukmin, ia meyakini bahwa Allah cukup untuk melindunginya dari semua yang menyusahkan dan menyakitinya. Sesungguhnya Allah Yang Maha Mencukupi untuk melindunginya. Hal ini tergambarkan dalam satu ucapan dengan penuh ketulusan:
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”
Dalam hadis di atas, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan bahwa ucapan
حَسْبُنَا اللهُ ونِعْمَ الْوَكِيلُ
HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL
diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika kaumnya melemparkannya ke dalam api, setelah Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala mereka. Kala itu, api yang seharusnya membakar Nabi Ibrahim menjadi dingin dan penyelamat bagi beliau.
Mereka berkata, “Bakarlah dia (Ibrahim) dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak berbuat.” Kami (Allah) berfirman, “Wahai api, jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS. Al-Anbiya: 68 – 69)
حَسْبُنَا اللهُ ونِعْمَ الْوَكِيلُ
HASBUNALLAAHU WANI’MAL WAKIIL
juga diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada orang-orang yang mengatakan,
“Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (perkataan) itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran: 173)
Kejadian ini setelah perang Uhud. Ketika itu dikatakan kepada beliau bahwa kaum musyrikin Quraisy akan kembali menyerang kalian untuk menuntaskan peperangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Hasbunallaahu wani’mal wakiil.” Oleh sebab itu, Allah melindungi beliau. Barang siapa yang meminta pertolongan kepada Allah, niscaya Allah menolongnya. Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.
Jadi, ada dua khasiat hasbunallahu wani’mal wakil, yaitu: (1) agar mendapatkan rahmat Allah dan berbagai kebaikan yang diinginkan, juga (2) agar terhindar dari keburukan, musibah, kesulitan, dan semua hal yang dikhawatirkan.
Kedua khasiat tersebut terhimpun di dalam surah Az-Zumar ayat 38:
Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” niscaya mereka menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Kalau begitu, terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya orang-orang bertawakal berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38)
Semoga bermanfaat.
Penyusun dan penerjemah: Hendri Syahrial (Banghen.com)
ALLAAHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MIIKAA-IILA WA ISROOFIILA FAATHIROS-SAMAAWAATI WAL ARDH ‘AALIMAL GHOIBI WASY-SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAINA ‘IBAADIKA FIIMA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN IHDINII LIMAKH-TULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK INNAKA TAHDII MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTHIM MUSTAQIIM
“Ya Allah, tuhannya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil, Zat Yang menciptakan langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata. Engkaulah hakim bagi hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan. Dengan izin-Mu, tunjukkan kebenaran padaku dalam perkara yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkau Yang memberi petunjuk menuju jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki.” (HR. Muslim)
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, beliau berkata: Aku bertanya kepada Aisyah, Ummul Mukminin, “Dengan bacaaan apa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai salat tatkala beliau bangun di malam hari?” Aisyah menjawab, “Tatkala beliau bangun di malam hari, beliau memulai salat dengan membaca:
Ya Allah, tuhannya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil, Zat Yang menciptakan langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata. Engkaulah hakim bagi hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan. Dengan izin-Mu, tunjukkan kebenaran padaku dalam perkara yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkau Yang memberi petunjuk menuju jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki.” (HR. Muslim)
***
PENJELASAN HADIS
كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يقومُ مِنَ اللَّيلِ ما شاء اللهُ له أنْ يقومَ، وكان له بعضٌ مِن السُّننِ والآدابِ في بيْتِه، وكان التَّابِعون يَحرِصون على مَعرفةِ تَفاصيلِ عِبادتِه صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم، ويَسألون عمَّا كان يَتعبَّدُ به النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في بيتِه؛ لِيَهْتَدُوا بِهَديِه، ويَسْتَنُّوا بسُنَّتِه
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam rutin bangun di malam hari untuk mengerjakan Salat Tahajud, sebagaimana yang Allah kehendaki untuk beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengamalkan sebagian sunah dan adab di rumah beliau.
Para Tabiin sangat bersemangat untuk mengetahui perincian ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sering bertanya tentang tata cara ibadah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan di rumah beliau, agar mereka mengetahui petunjuk Nabi serta meneladani sunah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
وفي هذا الحديثِ يَرْوي التَّابعي أبو سَلَمةَ بنُ عبد الرَّحمنِ بنِ عَوْفٍ أنَّه سَأل عائشةَ أمَّ المؤمنين: بأيِّ أمرٍ مِن القولِ أو الفِعل كان نَبيُّ الله صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يَفتَتِحُ صَلاتَه إذا قام مِن اللَّيلِ؟ والمعنى: كيْف استفتاحُه صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم للصَّلاةِ؟ فأجابتْه أنَّه صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم كان إذا قامَ مِن اللَّيلِ افتَتَح صَلاتَه بهذا الدُّعاءِ
Pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf ini, beliau bertanya kepada ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha tentang bacaan atau perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai Salat Tahajud, tatkala beliau bangun di malam hari. Yakni, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai salat beliau?
Ibunda Aisyah menjawab bahwa manakala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di malam hari, beliau memulai Salat Tahajud dengan membaca Doa Iftitah:
ALLAAHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MIIKAA-IILA WA ISROOFIILA
Aku berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku dan Tuhan semua makhluk yang memiliki kedudukan yang agung seperti malaikat-malaikat yang mulia tersebut (Jibril, Mikail, dan Israfil), dan Engkau ya Allah Yang paling agung daripada ketiga malaikat tersebut dan daripada seluruh makhluk ciptaan-Mu. Hanya Engkaulah yang layak mengabulkan doa.
وتَخصيصُ هؤلاء الملائكةِ بالذِّكر لِعَظِيمِ شأنِهم؛ فجِبريلُ أَمِينُ الوَحْيِ، ومِيكائيلُ أَمِينُ القَطْرِ والمَطَرِ والنَّباتِ والأرزاقِ، وهو ذُو مَكانةٍ عَليَّةٍ، ومَنزلةٍ رَفيعةٍ، وشَرفٍ عِندَ اللهِ عزَّ وجلَّ، وله أعوانٌ يَفعَلونَ ما يَأمُرُهم به بأمْرِ ربِّه سُبحانَه، وإسرافيلُ الموكَّلُ بالنَّفخِ في الصُّورِ بأمْرِ ربِّه نفْخةَ الفَزعِ والصَّعقِ، ونفْخةَ القِيامِ لربِّ العالَمينَ
Pengkhususan penyebutan ketiga malaikat tersebut dikarenakan agungnya kedudukan mereka:
Malaikat Jibril diamanahi membawa wahyu dari Allah kepada para Nabi dan Rasul.
Malaikat Mikail diamanahi mengatur dan menurunkan hujan, tumbuh-tumbuhan, dan mengurus pembagian rezeki. Mikail punya kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah. Mikail juga memiliki pembantu-pembantu yang selalu taat padanya, yaitu mereka mengerjakan segala apa yang diperintahkan kepada mereka, berdasarkan perintah dari Allah.
Malaikat Israfil bertugas meniup sangkakala berdasarkan perintah Allah, dengan tiupan pertama yang menakutkan dan mematikan seluruh mahkluk hidup, kemudian tiupan kebangkitan dari kematian untuk kemudian menuju menghadap Allah.
وإذا عَلِمَ الإنسانُ قدْرَ المَلائِكةِ هذا الخَلقِ العَظيمِ الكريمِ، وعَرَفَ صِفاتِهم؛ عَلِمَ عَظَمةَ خالقِهم تَبارَك وتعالَى، وعَظيمَ قُوَّتِه وسُلطانِه؛ فإنَّ عَظَمةَ المَخلوقِ مِن عَظَمةِ الخالِق، ثُمَّ شَكَرَه سُبحانَه على عِنايتِه بعِبادِه، حيثُ وكَّلَ بهم مِن هؤلاءِ الملائكةِ مَن يَحفَظُهم، ويَدْعو ويَستغفِرُ لهم ويَكتُبُ أعمالَهم، وأيضًا مَن عَرَف الملائكةَ وآمَن بهم حقًّا، أحبَّهم على ما يَقومونَ به مِن عِبادةِ اللهِ تعالَى وطاعتِه على الوَجهِ الأَكْملِ، وعلى استِغفارِهم للمُؤمنين، ونُصرتِهم لهم، وغَيرِ ذلك
Apabila manusia mengetahui kedudukan dan sifat-sifat ketiga malaikat yang mulia ini, maka tentulah mereka akan mengetahui keagungan Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi, Sang Pencipta mereka, juga mengetahui keagungan kekuatan dan kekusaan-Nya, karena keagungan yang ada pada makhluk berasal dari keagungan penciptanya. Kemudian, mereka bersyukur kepada Allah atas segala pertolongan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan cara Allah menugaskan para malaikat untuk menjaga, mendoakan, memintakan ampun, dan mencatat amal-amal mereka.
Lagi pula, barang siapa yang mengenal dan beriman dengan tulus kepada malaikat, maka dia akan semakin mencintai para malaikat, yaitu terhadap apa yang malaikat lakukan, baik itu ibadah dan ketaatannya secara sempurna kepada Allah, permohonan ampun mereka kepada Allah untuk mukmin, pertolongan mereka untuk mukmin, dan lain-lain.
Yaitu Allah Yang Maha Pencipta langit-langit dan bumi, yang tanpa pernah ada yang menciptakan keduanya sebelumnya.
***
عالِمَ الغَيْبِ والشَّهادةِ، أي: أدْعُوك يا عالِمَ الغيبِ والشَّهادةِ، فأنت تَعلَمُ ما غاب عن العِبادِ، وما شاهَدوه وظهَرَ لهم
عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
‘AALIMAL GHOIBI WASY-SYAHAADAH
Aku berdoa kepada-Mu, wahai Zat Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata, Engkau mengetahui segala yang tersembunyi dari para hamba-Mu, juga segala yang terlihat oleh mereka.
***
أنتَ تَحكُمُ، أي: تَقْضي بالثَّوابِ والعقابِ
بيْنَ عِبادِكَ يومَ القِيامةِ فيما كانوا فيه يَختلِفون فِيه مِن أمْرِ الدِّينِ في الدُّنيا، فتُعذِّبُ أهلَ المَعاصي إنْ شِئتَ، وتُثِيبُ أهلَ الطَّاعةِ، وإنَّما اخْتَلَف النَّاسُ بعْدَ أنْ كانوا على فِطرةِ الإسلامِ، فجاءتْهم الأنبياءُ والمُرْسَلون لِهدايتِهم، فاخْتَلفوا في طَريقِ الهِدايةِ والطَّريقِ المستقيمِ الَّذي جاؤوا به، وهو الحقُّ مِن ربِّهم
ANTA TAHKUMU BAINA ‘IBAADIKA FIIMA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN
Ya Allah, Engkau menjadi hakim pada hari kiamat, Yang memutuskan dengan memberi pahala atau hukuman antara hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan, pada urusan agama dan dunia mereka. Engkau mengazab pelaku maksiat jika Engkau berkehendak. Engkau juga memberi pahala untuk hamba-Mu yang taat.
Pada awalnya, semua manusia berada di atas fitrah, mereka memeluk agama Islam. Namun seiring dengan berlalunya waktu, manusia mulai menyimpang dari ajaran Islam. Oleh karena itu, datanglah para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah untuk berdakwah dan membimbing manusia agar tetap berada di atas fitrah mereka, yaitu agama Islam. Namun, manusia menyelisihi petunjuk dan ajaran Islam yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul, padahal itulah kebenaran sejati yang berasal dari Allah.
***
اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فيه مِنَ الحقِّ بإذنِكَ، أي: ثَبِّتْني وزِدْني الهِدايةَ إلى الطَّريقِ المُسْتَقِيمِ الَّذي دَعَا إليه الأنبياءُ والمرسَلَون، بتَوفيقِكَ وتَيْسِيرِكَ
Ya Allah, kokohkan aku dan tambahkan hidayah kepadaku, menuju jalan yang lurus yang diseru oleh para Nabi dan Rasul, dengan taufik dan kemudahan dari-Mu.
***
إنَّك تَهدِي مَن تشاءُ إلى صِراطٍ مُستقيمٍ وهو طَريقُ الحقِّ الَّذي لا اعوِجاجَ فيه، وهو دِينُ الإسلامِ، الَّذي أرسَلَ اللهُ به محمَّدًا صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم، وسُمِّيَ صِراطًا؛ لأنَّه مُوصِلٌ للمقصودِ كما أنَّ الطَّريقَ الحِسِّيَّ كذلك، والجُملةُ تَعليلٌ لطلَبِ الهِدايةِ منه سُبحانه وتعالَى، أي: لأنَّك تَهْدي مَن تَشاءُ، وهذا الدُّعاءُ مِن كَمالِ التَّذلُّلِ للهِ سُبحانه وتعالَى
INNAKA TAHDII MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTHIM MUSTAQIIM
Sesungguhnya Engkau, ya Allah, Yang memberi petunjuk menuju jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki, yaitu jalan kebenaran yang tidak bengkok, yaitu agama Islam yang Allah telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membawanya.
Agama Islam pada doa ini dinamakan ash-shiroth (jalan), karena ia menjadi penghubung yang mengantarkan sampai kepada tujuan. Demikian pula fungsi jalan dalam arti yang abstrak.
Kalimat ta’lil (menjelaskan alasan) untuk meminta hidayah hanya kepada Allah, yaitu:
إِنَّكَ تَهْدِي مَن تَشَاءُ
“… karena sesungguhnya Engkau Yang memberi petunjuk (menuju jalan yang lurus) bagi siapa yang Engkau kehendaki.” Dengan demikian, doa ini merupakan kesempurnaan bentuk merendahkan diri kepada Allah.
***
KESIMPULAN
وفي الحَديثِ: بيانُ ما تُفتتَحُ به صَلاةُ اللَّيلِ مِن الأذكارِ
وفيه: بيانُ أنَّ الهِدايةَ بيَدِ اللهِ تعالَى، لا أحَدَ يَقدِرُ عليها غيْرُه سُبحانه وتعالَى
Hadis ini berisi penjelasan tentang bacaan iftitah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Salat Malam (Salat Tahajud).
Semestinya seorang hamba meminta hidayah menuju jalan kebenaran kepada Allah.
Hidayah itu hanyalah milik Allah. Hanya Allah yang dapat memberikan kita hidayah. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan hidayah selain Allah.
Doa Iftitah ini, selain dibaca pada Salat Malam (Tahajud), boleh juga dibaca pada salat yang lainnya. Hanya saja, untuk imam dianjurkan untuk tidak membaca Doa Iftitah ini ketika mengimami jamaahnya, agar makmum tidak menunggu lama (lihat Sifat Salat Nabi oleh Al-Albani).
***
DAFTAR REFERENSI
مصدر الشرح: الدرر السنية (https://dorar.net/hadith/sharh/23440)
صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم من التكبير إلى التسليم كأنك تراها – المؤلف: أبو عبد الرحمن محمد ناصر الدين
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu: ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)
Dari Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau radhiyallahu ‘anha mengatakan,
أَنَّ النَّبِيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ كَانَ يَقُولُ إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ يُسَلِّمُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap selesai Salat Subuh, beliau membaca doa:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang akhlaknya buruk di tempat kediaman, karena sesungguhnya tetangga dalam perjalanan itu keburukannya hilang (bersamaan dengan selesainya perjalanan), (sedangkan tetangga di tempat kediaman selalu berdampingan sepanjang hidup).” (HR. An-Nasai, Ibnu Hibban, dll)
أحمد، 28/ 338، برقم 17114، و28/ 356، برقم 17133، والترمذي، كتاب الدعوات، باب منه، برقم 3407، والنسائي، كتاب السهو، نوع آخر من الدعاء، برقم 1304، ومصنف ابن أبي شيبة، 10/ 271، برقم 29971، والطبراني في المعجم الكبير بلفظه، برقم 7135، وبرقم 7157، و7175، ورقم 7176، و7177، و7178، و7179، و7180، وأخرجه ابن حبان في صحيحه، 3/ 215، برقم 935، و5/ 310، برقم 1974، وحسنه شعيب الأرنؤوط في صحيح ابن حبان، 5/ 312، وحسنه بطرقه محققو المسند، 28/ 338، وذكره الألباني سلسلة الأحاديث الصحيحة في المجلد السابع، برقم 3228، وفي صحيح موارد الظمآن، برقم 2416، 2418، وقال صحيح لغيره
ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKATS TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI WA AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIKA WA ‘AZAA-IMA MAGHFIROTIKA WA AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA WA HUSNA ‘IBAADATIKA WA AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN WA LISAANAN SHOODIQON WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU WA A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAMU INNAKA ANTA ‘AL-LAAMUL-GHUYUUB
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan dan keteguhan hati di atas kebenaran. Aku juga mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang dan ampunan-Mu. Aku juga mohon kepada-Mu rasa syukur atas semua nikmat yang Engkau berikan dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Aku juga mohon kepada-Mu hati yang selamat dan lisan yang jujur. Aku juga mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui, dan aku mohon ampunan-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang gaib.” (HR. At-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)
***
***
Ini adalah doa yang agung, berkah, dan sangat penting, yang berisi permintaan-permintaan terbesar dalam agama, dunia, dan akhirat. Doa ini mengandung Jawami al-Kalim (susunan kalimat yang pendek, tetapi padat maknanya) yang tidak akan dapat dikupas secara mendalam pada tulisan singkat ini dikarenakan ia begitu agung. [Al-Allamah al-Hafiz Ibnu Rajab al-Hanbali telah mensyarah doa ini dalam kitab khusus beliau, lihat Majmu ar-Rasail]
Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Syaddad bin Aus dan para sahabat agar memperbanyak membaca doa ini. Nabi mengatakan dengan kalimat terindah dan sarat dengan makna yang terbaik:
يا شداد بن أوس، إذا رأيت الناس قد اكتنزوا الذهب والفضة, فاكنز هؤلاء الكلمات
“Wahai Syaddad bin Aus, apabila engkau melihat orang-orang mengumpulkan emas dan perak, maka cukuplah engkau membaca doa ini sebanyak-banyaknya …” (HR. At-Thabarani di al-Mu’jam al-Kabir)
Pada lafaz hadis yang lain:
… إذا اكتنز الناس الدنانير والدراهم, فاكتنزوا الكلمات
“… apabila orang-orang mengumpulkan dinar dan dirham, maka cukuplah kalian membaca kalimat doa ini sebanyak-banyaknya …” (HR. Ibnu Hibban)
Di antara bukti yang menunjukkan pentingnya doa yang tayibah ini: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini dalam salat. Dalam hadis riwayat Ibnu Hibban, Thabarani, dan lafaz hadis ini terdapat pada riwayat an-Nasai:
عن شداد رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم [كان يقول في صلاته]: اللهم إني أسألك الثبات
“Dari Syaddad radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salat, beliau membaca:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ
ALLAHUMMA INNI AS-ALUKATS TSABAATA …
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan …”
Maksudnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membaca doa ini dalam ibadah terbaik, yaitu dalam salat.
[Telah disebutkan berulang kali bahwa fi’il mudhari yang terletak setelah kana (كان) menunjukkan perbuatan yang rutin dan terus menerus dikerjakan]
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فأكثروا
“… maka kalian baca sebanyak-banyaknya! …”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar membacanya sebanyak-banyaknya, karena manfaatnya langgeng dan tidak terputus, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia, tetapi amal kebaikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al-Kahfi: 46)
Doa yang berkah ini mengandung beberapa tujuan dan permohonan penting dalam berbagai urusan agama, dunia, dan akhirat:
Memohon kepada Allah agar teguh di atas petunjuk-Nya dalam setiap urusan.
Memohon taufik agar beramal saleh secara sempurna.
Memohon agar senantiasa bersyukur, siang dan malam, atas segala nikmat.
Memohon perbaikan terhadap amalan hati dan badan.
Memohon agar senantiasa sukses dalam setiap kebaikan dan keadaan.
Memohon keselamatan dari setiap keburukan, pada setiap keadaan dan waktu.
Memohon ampunan atas segala dosa di masa lalu, sekarang, dan di masa mendatang.
***
PENJELASAN ISTILAH-ISTILAH
Al-Kanzu (الكنز): makna asal al-Kanzu adalah harta benda yang terpendam di dalam tanah. Apabila telah ditunaikan kewajiban zakatnya, maka statusnya bukan lagi harta terpendam, walaupun masih dalam keadaan terpendam.
Jadi, al-Kanzu adalah perbendaharaan (harta) yang sangat berharga dan tersimpan.
Istilah al-Kanzu juga ada dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لا حول ولا قوة إلا باللهِ كنز من كنوز الجنة
“Kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan surga.” (HR. Bukhari)
Maksudnya, kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah harta simpanan milik orang yang mengucapkannya. Ia diibaratkan dengan harta simpanan, sebagaimana orang itu menyimpan hartanya.
Al-‘Azimah(العزيمة): al-‘Azmu(العزم)(tekad) atau al-‘Azimah(العزيمة)(niat dan kemauan kuat) adalah keteguhan hati (عقد القلب) untuk menyelesaikan suatu urusan.
Seperti 3 ungkapan berikut:
عزمتُ الأمر
“Aku bertekad menyelesaikan urusan itu.”
و عزمت عليه
“Aku bertekad mengerjakannya.”
واعتزمت
“Aku berniat melakukannya.” (al-Mufradat)
Ar-Rusydu (الرشد): Kebenaran. Antonim dari kata al-Ghoi (الغي) yang artinya kesesatan.
Jadi, ar-Rusydu artinya: kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran. (Tuhfatu adz-Dzakirin)
Al-Qalbu as-Salim (القلب السليم): Hati yang selamat, yaitu hati yang bersih dari kesyirikan, kekafiran, kemunafikan, dosa, dan seluruh sifat tercela.
Ya Allah, aku mohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan,
Maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah agar diberi keteguhan di atas petunjuk-Nya dalam setiap urusan. Lafaz doa ini umum, yaitu dalam semua urusan: dunia, agama, dan akhirat. (Tuhfatu adz-Dzakirin)
Keteguhan ini dapat terwujud dikarenakan adanya taufik (pertolongan) dari Allah, dengan berusaha istiqamah dan menempuh jalan yang benar. Yang terpenting dari semuanya itu adalah keteguhan dalam: (1) agama, (2) ketaatan, (3) dan istiqamah di atas petunjuk Allah.
Keadaan seorang hamba paling membutuhkan istiqamah adalah ketika ia menghadapi godaan setan saat sakratulmaut, saat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, dan saat melewati sirat. Allah menghimpun semua urusan ini dalam firman-Nya:
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, di dunia dan akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)
***
وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ
WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI
dan keteguhan hati di atas kebenaran.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon keteguhan hati dalam menempuh jalan yang benar, yaitu kesungguhan hati dalam setiap urusan, dalam rangka mencapai dan menyempurnakan setiap kebaikan dalam setiap urusannya, baik dunia maupun akhirat. (Tuhfatu adz-Dzakirin)
Ar-Rusydu—sebagaimana dijelaskan di atas—artinya kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran. Oleh karena itu, keteguhan hati dalam kebenaran adalah titik awal dari kebaikan, karena seseorang terkadang tahu kebenaran, namun tidak memiliki keteguhan hati untuk menempuhnya. Namun, apabila ia bertekad bulat untuk menempuhnya, maka ia akan sukses.
Al-Azimah adalah niat yang kuat, yang berkesinambungan dengan perbuatan, yaitu keteguhan hati untuk menyelesaikan suatu urusan. Seorang hamba tiada kuasa menyelesaikannya, kecuali dengan pertolongan Allah. Oleh karena itu, yang terpenting adalah memohon kepada Allah agar diberi keteguhan hati dalam kebenaran. Untuk itulah, Nabi mengajari seorang sahabat untuk berdoa:
“Katakan: Ya Allah, jagalah aku dari keburukan diriku sendiri, dan berikanlah aku keteguhan hati untuk menentukan yang terbaik pada urusanku.” (HR. Ahmad)
Maka dari itu, seorang hamba perlu (1) meminta tolong kepada Allah, (2) dan bertawakal kepada-Nya untuk memperoleh (a) keteguhan hati (b) dan mengamalkan konsekuensinya setelah keteguhan hati itu diperoleh.
Allah berfirman,
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“… Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad (meneguhkan hati), maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)
Ar-Rusydu (kebaikan, kesuksesan, dan kebenaran) adalah dengan menaati Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah,
“… Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. al-Hujurat: 7)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah beliau:
من يطع الله ورسوله فقد رشد ومن يعصي الله ورسوله فقد غوى
“Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka dia di atas kebenaran. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka dia di atas kesesatan.” (HR. Muslim)
Ar-Rusydu (kebenaran) antonim dari al-Ghoi (kesesatan). Allah berfirman,
قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَي
“… sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara kebenaran dan kesesatan …” (QS. al-Baqarah: 256)
Seseorang yang tidak mendapat petunjuk (mengikuti jalan yang benar), maka ia bisa jadi adalah seorang yang lalai atau tersesat.
Al-‘Azmu (keteguhan hati) terbagi dua:
Pertama:
Keteguhan hati berupa kesediaan untuk memasuki jalan kebenaran. Ini adalah tahap awal.
Kedua:
Keteguhan hati untuk senantiasa taat setelah memasuki jalan kebenaran, dan senantiasa bergerak dari keadaan yang sempurna menuju keadaan yang lebih sempurna. Inilah titik akhirnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan lima pemuka para rasul dengan nama Ulil ‘Azmi, yang merupakan rasul-rasul terbaik.
Dengan keteguhan hati yang pertama, memungkinkan seseorang memasuki semua pintu kebaikan dan menjauhi segala keburukan. Dengannya pula, memungkinkan orang kafir keluar dari kekafiran menuju Islam dan pelaku maksiat menjauhi kemaksiatan menuju ketaatan. Apabila niatnya itu benar-benar jujur, dia bertekad bulat, dan berupaya keras sekeras-kerasnya mengalahkan hawa nafsunya dan setan yang menggodanya, kemudian dia mengerjakan amalan-amalan ketaatan yang diperintahkan, maka dia pasti menang.
Pertolongan Allah untuk seorang hamba sesuai dengan kadar kuat dan lemahnya keteguhan hatinya. Barang siapa yang bertekad menginginkan kebaikan, maka Allah akan menolong dan meneguhkannya.
Barang siapa yang tulus keteguhan hatinya, setan putus asa menggodanya. Namun, tatkala dia ragu-ragu, maka setan semakin tamak menggodanya, membuatnya menunda-nunda dan berangan-angan.
Sebagian salaf saleh ditanya, “Kapankah dunia pergi menjauh dari hati?”
Ia menjawab, “Apabila keteguhan hati telah tiba, maka dunia pergi menjauh dari hati, lalu hati berjalan di kerajaan langit. Namun, apabila keteguhan hati tak kunjung tiba, maka hati akan tergoncang dan kembali ke dunia.” (Majmu Rasail Ibnu Rajab)
***
وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ
WA AS-ALUKA MUUJIBAATI ROHMATIKA
Aku juga mohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang-Mu,
مُوجِبَاتِ
(huruf jimnya berharakat kasrah)
adalah bentuk jamak dari:
مُوجِبَةٌ
artinya segala hal yang mendatangkan kasih sayang (rahmat) Allah untuk orang yang mengucapkannya, berupa qurbah, yaitu segala perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, arti kalimat doa ini: Kami memohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan kasih sayang-Mu dan memasukkan kami ke dalam surga yang merupakan rahmat-Mu teragung, baik itu berupa perbuatan, perkataan, dan sifat. (Tuhfatu adz-Dzakirin)
“Dan adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka berada dalam rahmat Allah (surga), mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali Imran: 107)
***
وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ
WA ‘AZAA-IMA MAGHFIROTIKA
dan segala hal yang mendatangkan ampunan-Mu.
العزائم
adalah bentuk jamak dari:
عزيمة
yaitu keteguhan hati untuk menyelesaikan suatu urusan, sebagaimana sudah dijelaskan di atas.
Maksudnya, saya memohon kepada-Mu agar memberikan karunia kepada kami, baik itu berupa amalan, perkataan, dan perbuatan yang dapat mendatangkan dan merealisasikan ampunan-Mu.
Doa ini merupakan bagian dari Jawami al-Kalim nabawi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama-tama, beliau memohon kepada Allah segala hal yang mendatangkan rahmat-Nya. Barang siapa yang melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan rahmat Allah maka sungguh dengan sebab itu dia termasuk ke dalam rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu, juga termasuk ke dalam golongan dan jajaran orang-orang yang berhak mendapatkannya.
Kemudian, beliau memohon kepada Allah keteguhan hati dalam berbuat baik agar mendapatkan ampunan-Nya, karena barang siapa yang diampuni dosa-dosanya, lalu dikaruniakan rahmat kepadanya, sungguh dia beruntung mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, dan berhak mendapat penjagaan Allah dalam hidup dan matinya, sebab dia telah dibersihkan dari kekeruhan dosa-dosanya. (Tuhfah adz-Dzakirin)
Dua permohonan ini (meminta rahmat dan ampunan Allah), terdapat dalam banyak doa dalam al-Quran dan Hadis, karena pada ampunan Allah ada pembebasan dari seluruh dosa dan efeknya, yaitu pembersihan dan pemurnian dari bekas noda-noda dan keburukannya, di dunia dan akhirat. Sedangkan rahmat (kasih sayang) adalah perhiasan, yang dengannya terwujudlah kenikmatan dan kesenangan, dan dengan sebabnya pula tercapailah kebahagiaan yang abadi di surga yang penuh dengan kenikmatan (jannatun-na’im).
***
وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ
WA AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA
Aku juga mohon kepada-Mu rasa syukur atas semua nikmat yang Engkau berikan,
Yaitu aku mohon petunjuk kepada-Mu agar mensyukuri segala nikmat dari-Mu yang tidak terhitung, karena mensyukuri nikmat dapat mendatangkan tambahan nikmat, menjaganya, dan melanggengkan nikmat tersebut pada seorang hamba yang bersyukur. Sebagaimana firman Allah,
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Bersyukur dapat dilakukan: dengan hati, lisan, dan anggota badan.
Bersyukur dengan hati dengan cara selalu mengingat nikmat dan tidak melupakannya.
Bersyukur dengan lisan dengan cara menyanjung dan memuji Allah atas nikmat-nikmat yang Allah berikan, menyebutnya, menghitungnya, dan membicarakannya.
Bersyukur dengan anggota badan dengan cara meminta pertolongan Allah agar dapat menggunakan nikmat yang diberikan-Nya dalam ketaatan kepada-Nya, bukan dalam bermaksiat kepada-Nya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab)
***
وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ
WA HUSNA ‘IBAADATIKA
dan beribadah dengan baik kepada-Mu.
Yaitu dengan menyempurnakan dan mengerjakan ibadah sebaik-baiknya. Hal itu dapat terwujud dengan dua rukun:
Pertama:
Ikhlas karena Allah dalam beramal.
Kedua:
Mengikuti al-Quran yang penuh hikmah dan Hadis Nabi pilihan yang baik hati dan penyayang shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebaikan terbesar dalam ibadah adalah mencapai kedudukan al-ihsan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الإحسان أن تعبد اللَّه كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
“Al-Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari)
Hadis di atas menunjukkan dua tingkatan al-Ihsan:
Pertama:
Beribadah kepada Allah dengan meyakini bahwa Allah melihatnya, dekat dengannya, dan memperhatikannya. Dengan demikian, dia mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, bersungguh-sungguh menyempurnakan dan memperbaiki ibadahnya.
Kedua:
Beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat Allah dengan hatinya, seolah-olah Allah hadir di hadapannya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab)
Dengan demikian, seorang yang berdoa semestinya menghadirkan makna-makna ini ketika ia berdoa kepada Allah.
***
وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا
WA AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN
Aku juga mohon kepada-Mu hati yang bersih,
Yaitu hati yang bersih dari dosa-dosa dan aib-aib, yang tidak ada sesuatu pun padanya yang dibenci oleh Allah.
Termasuk hati yang selamat adalah: (1) Hati yang selamat dari syirik, baik yang nyata maupun yang samar. (2) Selamat dari hawa nafsu, bid’ah, kefasikan, dan maksiat, baik yang besar maupun yang kecil, yang terlihat maupun tersembunyi, seperti riya, ujub, dendam, curang, benci, dengki, dll.
Pada hari kiamat, tidak ada yang bermanfaat selain hati yang selamat.
“(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara: 88 – 89)
Apabila hati telah selamat, maka tidak ada padanya, kecuali Allah. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab)
***
وَلِسَانًا صَادِقًا
WA LISAANAN SHOODIQON
dan lisan yang jujur.
Yaitu lisan yang terjaga dari dusta dan ingkar janji. Nabi memohon lisan yang jujur kepada Allah karena itu salah satu karunia terbesar. Ia adalah jalan pertama menuju derajat ash-Shiddiq yang merupakan derajat paling tinggi setelah kenabian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عليكم بالصدق, فإن الصدق يهدي إلى البر، وإن البر يهدي إلى الجنة, وما يزال الرَّجُل يصدق, ويتحرى الصدق, حتى يكتب عند اللهِ صديقاً
“Kalian harus jujur, karena jujur itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun menuju surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan memilih jalan kejujuran, sehingga ia dicatat sebagai seorang yang jujur di sisi Allah …” (HR. Bukhari)
***
وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ
WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU
Aku juga mohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui,
Ini adalah permohonan kebaikan yang mencakup seluruh kebaikan yang diketahui dan tidak diketahui oleh seorang hamba. Semua kebaikan tercakup di dalamnya. Oleh sebab itu, Nabi menyandarkannya kepada Allah yang Mahatinggi lagi Maha Mengetahui, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; alam nyata dan gaib. Permohonan yang umum setelah yang khusus untuk meminta kebaikan ini masuk dalam kaidah “penyebutan umum setelah yang khusus”. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab)
***
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ
WA A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU
dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui,
Istiazah ini meliputi permohonan perlindungan kepada Allah dari seluruh kejelekan, baik yang kecil maupun besar, baik yang nyata maupun yang samar, yang mana istiazah ini dikaitkan dengan seluruh kejelekan yang diketahui oleh Allah, karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ini adalah kalimat istiazah yang sangat halus dan penuh dengan adab dan pengagungan kepada Allah tatkala berdoa kepada-Nya.
***
وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ
WA ASTAGHFIRUKA LIMAA TA’LAMU
dan aku mohon ampunan-Mu atas dosa yang Engkau ketahui.
Nabi menutup doa ini dengan istighfar yang merupakan maksud dan pokok dari doa ini, karena ia merupakan penutup amal saleh, sebagaimana dalam banyak ibadah.
Istighfar ini mencakup permohonan ampun terhadap seluruh dosa yang dilakukan oleh seorang hamba pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, karena di antara dosa ada yang sama sekali tidak disadari oleh seorang hamba. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakar,
… يا أبا بكر لَلشرك فيكم، أخفى من دبيب النمل
“Wahai Abu Bakar, sungguh kesyirikan di tengah-tengah kalian lebih samar dibandingkan rayapan semut …” (diriwayatkan imam Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod)
Sebagian dosa ada yang dilupakan seorang hamba dan tidak ia ingat tatkala beristighfar. Oleh karena itu, ia membutuhkan istighfar yang umum atas semua dosa-dosanya, baik yang ia ketahui maupun yang tidak. Sungguh Allah mengetahui dan menghitung semua dosa-dosanya. (Majmu ar-Rasail Ibnu Rajab)
Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup doanya dengan sebaik-baik penutup, yaitu dengan menyebut sifat-sifat Allah yang agung:
إِنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
INNAKA ANTA ‘AL-LAAMUL-GHUYUUB
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang gaib.
Dengan menyebut nama Allah yang merupakan al-asma’ al-mudhofah: ‘al-laam (Maha Mengetahui) digabung dengan kata al-ghuyuub (semua perkara yang gaib), yang menunjukkan sangat luasnya ilmu-Nya, karena kata علَّام (‘al-laam) dalam bahasa Arab merupakan sighah mubalaghah yang menunjukkan arti sangat banyak dan luasnya cakupan ilmu Allah.
Ini merupakan bentuk tawasul yang agung. Dalam keadaan yang mulia ini, padanya terdapat adab dan pengagungan yang sangat tinggi terhadap Allah yang Mahamulia; yaitu Nabi menegaskan doanya dengan menggunakan kata إنَّ (inna = sesungguhnya), setelahnya ada kata ganti أنت (anta = Engkau), yang dalam bahasa Arab menunjukkan makna: at-Ta’kid (penegasan), al-Hasyr (pembatasan), dan al-Qosr (pengkhususan), dalam pengkhususan Allah dengan ilmu yang sangat luas, dan termasuk di dalamnya adalah orang yang berdoa meminta berbagai permohonan yang tinggi ini, baik dalam urusan agama, dunia, dan akhirat.
Anda—semoga Allah menjagamu—dapat melihat keagungan kalimat-kalimat dalam doa ini; dari tujuan, permohonan, dan kandungannya yang sangat penting. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memperbanyak membaca doa ini, karena ia adalah kekayaan sejati yang akan terus berkembang dengan bertambahnya kebaikan di dunia dan tabungan pahala di akhirat.
***
Artikel diterjemahkan dengan penyesuaian dari: https://kalemtayeb.com/safahat/item/3185
Dari Aisyah Ummul Mukminin, beliau—radhiallahu ‘anha—menceritakan, bahwa apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang sakit, atau orang sakit dibawa kepada beliau, beliau berdoa:
Sayyidul Istighfar adalah bacaan istighfar terbaik yang diajarkan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Barang siapa membaca Sayyidul Istighfar di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal pada hari itu sebelum sore hari, maka ia termasuk penghuni surga.
Barang siapa membaca Sayyidul Istighfar di malam hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal sebelum pagi hari, maka ia termasuk penghuni surga.
Doa untuk orang sakit ini adalah bacaan doa yang dapat Anda ucapkan ketika menjenguk orang sakit. Ada 2 doa untuk orang yang sakit yang akan kita bahas kali ini. Kedua doa menjenguk orang sakit ini sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena berasal dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.
***
***
Syafakillah & Syafakallah
Seringkali kita dengar ucapan doa untuk orang sakit: “syafakillah” atau “syafakallah”. Ucapan syafakillah dan syafakallah sangat populer di kalangan pelajar, mahasiswa, anak ngaji, bahkan di kalangan ibu-ibu.
Syafakillah artinya apa?
Syafakillah artinya “semoga Allah menyembuhkanmu”. Syafakallah artinya “semoga Allah menyembuhkanmu.”
Kok sama saja ya artinya? Trus apa bedanya?
Bedanya, syafakillah adalah ucapan doa yang diucapkan kepada seorang perempuan yang sakit. Sedangkan, syafakallah diucapkan kepada seorang laki-laki yang sakit. Jadi, jangan sampai keliru ya!
Namun, selain ucapan doa “syafakillah” dan “syafakallah” ini ada doa untuk orang sakit yang sejak 1.400 tahun lalu diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Insya Allah, di bawah ini kita akan mempelajari dua doa tersebut. Setelah kita tahu, selanjutnya kita mengamalkan dua tersebut, ya! Insya Allah berpahala karena mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
***
Keutamaan Menjenguk Orang yang Sakit
Sebelum kita belajar dua doa untuk menjenguk orang sakit tersebut. Mari kita baca hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sungguh indah dan sangat menginspirasi ini:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan surga sampai dia duduk. Apabila dia sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila dia menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar mendapat rahmat hingga sore tiba. Apabila dia menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar diberi rahmat hingga pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih)
Lihatlah, sungguh besar pahala dan keutamaan menjenguk saudara kita sesama muslim yang sedang sakit. Apalagi ketika menjenguk saudara yang sedang sakit, Anda ucapkan dua doa menjenguk orang sakit yang diajarkan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
***
Doa untuk orang sakit yang pertama:
لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَآءَ اللهُ
LAA BA’SA THOHUURUN INSYAA-ALLAH
“Tidak apa-apa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, insya Allah.” (HR. al-Bukhari)
“Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, agar menyembuhkan penyakitmu.” (HR. at-Tirmidzi, dan Abu Daud)
***
Semoga ucapan doa untuk orang yang sakit ini bermanfaat untuk saya dan Anda. Mudah-mudahan doa untuk orang sakit ini dapat kita amalkan ketika menjenguk orang yang sakit, terutama saudara-saudara kita sesama muslim.
Cara mengatasi marah menurut Islam ini adalah kumpulan 7 tips mengontrol marah dan cara meredam emosi diri sendiri. Anda akan menemukan pula di tulisan ini tentang cara mengendalikan emosi agar tidak mudah marah, juga agar tidak mudah tersinggung.
7 tips cara mengatasi marah menurut Islam ini dapat Anda gunakan untuk menghadapi orang yang sedang marah, dengan cara menasehati dan menuntun mereka tentang cara meredam amarah mereka. Bagi Anda seorang istri, 7 tips meredam emosi ini pun dapat Anda gunakan sebagai cara mengatasi marah pada suami. Bagi Anda seorang ibu, 7 cara ini dapat Anda gunakan sebagai cara mengatasi marah pada anak. Dengan mengetahui ilmu dan hikmah yang terkandung pada 7 cara menahan emosi ini, insya Allah dapat digunakan sebagai cara agar tidak mudah marah pada anak.
***
Sobatku, baarokallahu fiik…
Jika Anda sekarang sedang marah. Dan Anda sekarang sangat ingin melepaskan emosi Anda hingga Anda puas.
Maka dengarkan nasehat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini untuk Anda:
لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الـجَنَّة
“Jangan marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab Shahih at-Targhib no. 2749)
Anda dengar kan hadisnya tadi?
Jika Anda menahan amarah Anda dengan ikhlas karena Allah, maka imbalan untuk Anda adalah surga. Sungguh imbalan yang sangat indah dan tak ternilai harganya.
***
Menahan marah adalah satu diantara karakter dan sifat penghuni surga
Diantara ciri khas penghuni surga ketika mereka di dunia adalah mereka “menahan marah”.
Di surat Ali Imran ayat 133 dan ayat 134, Allah memuji orang yang menahan amarah sebagai orang yang bertakwa. Allah juga memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada orang yang menahan marah, yaitu berupa surga yang abadi.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali Imran: 133)
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)
Beberapa Tips & Cara Mengatasi Marah Menurut Islam
Syaikh Abdul Aziz as-Sadhan pada salah satu tweet beliau, memberikan beberapa tips dan cara mengatasi marah menurut Islam:
Sebenarnya 7 tips cara mengatasi marah yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Aziz as-Sadhan tersebut adalah tips yang 1400 tahun yang lalu sudah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Dari sahabat Sulaiman bin Shurod radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah memerah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ
Sungguh saya mengetahui satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini maka marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awwudz: A’-uudzu bil-lahi minasy syaithanir rojiim, marahnya akan hilang. (HR. al-Bukhari dan Muslim) via https://konsultasisyariah.com/17964-doa-ketika-marah.html
2. Diam
Setelah Anda membaca ta’awwudz “A’-uudzu bil-lahi minasy syaithanir rojiim”. Maka hendaknya Anda diam. Diam. Diam. Diam. Diam.
Dengarkan nasehat sederhana nan penuh makna dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib al-Arnauth menilainya hasan lighairih)
Coba Anda ingat dan renungkan kembali janji berupa surga untuk Anda, jika Anda dapat menahan amarah Anda karena Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الـجَنَّة
“Jangan marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab Shahih at-Targhib no. 2749)
Anda masih ingat kan surat Ali Imran ayat 133 dan ayat 134 yang saya bacakan tadi?
Surga adalah janji untuk Anda yang dapat menahan marah karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3 & 4. Duduk, jika marahnya sambil berdiri. Berbaring, jika marahnya sambil duduk.
Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka itu sudah cukup). Namun jika masih marah maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Abu Daud, no. 4782. al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini shahih)
5. Berwudhu
Dari Athiyyah as-Sa’di radhiallahu anhu, beliau berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya marah itu berasal dari setan dan setan itu diciptakan dari api. Api dapat dipadamkan dengan air. (Oleh karena itu) Apabila salah seorang diantara kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784. al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)
6. Sholat sunnah 2 rakaat
Setelah Anda selesai berwudhu, Anda langsung segera lanjutkan dengan melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat. Hal ini berdasarkan anjuran dari Nabi dan teladan kita; Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidaklah seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu dia sholat dua rakaat dengan sepenuh hati melainkan sangat pantas baginya untuk mendapatkan surga.” (HR. Muslim, no. 234)
Cara sholat sunnah 2 rakaat ini tidak ada cara khusus dan tidak ada bacaan khusus. Sama seperti sholat sunnah 2 rakaat lainnya yang biasa kita lakukan.
Semenjak tadi, kita sudah membaca ayat al-Quran dan beberapa Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang betapa besarnya pahala dan ganjaran yang akan kita dapatkan jika kita menahan marah dengan niat ikhlas taat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Saya akan tambahkan satu Hadis lagi untuk Anda. Semoga setelah membaca Hadis ini semakin menambah takwa kita kepada Allah. Semakin membulatkan tekad kita untuk menahan amarah kita karena cinta dan taat kita kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang menahan amarahnya padahal sebenarnya dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para mahluk kelak nanti pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Abu Daud, no. 4777; Ibnu Majah, no. 4186. al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa Hadis ini sanadnya hasan)
***
Alhamdulillah, semoga 7 tips cara mengatasi marah menurut Islam ini bermanfaat untuk saya dan kita semua.
Ingat, ilmu dan amalkan.
Saya Banghen.
Wassalamu’alaikum
***
REFERENSI CARA MENGATASI DAN MENAHAN MARAH MENURUT ISLAM
Kalimat Laa hawla wa laa quwwata illa billaah (لا حول ولا قوة إلا بالله), yang sering disebut hauqalah, adalah salah satu dzikir agung dalam Islam. Kalimat ini ringkas, namun memiliki makna yang mendalam dan keutamaan yang luar biasa.
Secara umum, kalimat ini diterjemahkan sebagai:
“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Namun, makna ini mencakup lebih dari sekadar terjemahan literal, seperti yang dijelaskan oleh para ulama:
Penjelasan Ulama tentang Makna Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billaah
“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat kecuali dengan perlindungan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk taat kepada Allah kecuali dengan pertolongan Allah.” (Riwayat ini dikutip oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 17:26-27)
2. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan:
معنى لا حول ولا قوة إلا بالله؟
السؤال: ما معنى لا حول ولا قوة إلا بالله؟
الجواب: الشيخ: معنى لا حول ولا قوة إلا بالله، لا تحول من حال إلى حال، الحول بمعنى التحول؛ يعني: لا أحد يملك أن يتحول من حال إلى حال، ولا أحد يقوى على ذلك إلا بالله عزَّ وجلَّ؛ يعني إلا بتذكير الله، والاستعانة به. ولهذا نجد الإنسان يريد الشيء، ثم يحاول أن يحصل عليه، ولا يحصل؛ لأن الله لم يرد ذلك، ونرى أيضاً كثيراً من الناس إذا أراد الشيء واستعان بالله، وفوض الأمر إليه فإن الله تعالى يعينه وييسر له الأمر.
ومن ثم كان ينبغي للإنسان إذا أجاب المؤذن أن يقول عند قول المؤذن: حي على الصلاة حي على الفلاح لا حول ولا قوة إلا بالله؛ يعني لا أستطيع أن أتحول من حالي التي أنا عليها إلى الصلاة، ولا أقوى على ذلك إلا بالله عزَّ وجلَّ، فهي كلمة استعانة يستعين بها الإنسان على مراده
Pertanyaan:
Apa arti dari Laa hawla wa laa quwwata illa billaah?
Jawaban Syaikh Utsaimin rahimahullah:
Makna dari Laa hawla wa laa quwwata illa billaah adalah: “Tidak ada perubahan dari suatu keadaan menuju keadaan lainnya (al-hawl dalam kalimat ini bermakna perubahan atau peralihan dari satu kondisi ke kondisi yang lain), dan tidak ada kekuatan untuk melakukannya kecuali dengan izin dan pertolongan Allah yang Maha Agung.”
Artinya, tidak ada seorang pun yang mampu mengubah kondisinya atau memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan tanpa bantuan dari Allah. Oleh karena itu, seseorang memerlukan dzikir kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya.
Kita sering mendapati seseorang yang menginginkan sesuatu, lalu ia berusaha untuk mendapatkannya, namun tetap tidak berhasil. Hal ini karena Allah tidak mengizinkan terwujudnya keinginannya. Di sisi lain, banyak juga orang yang ketika mereka menginginkan sesuatu, mereka memohon kepada Allah, menyerahkan sepenuhnya urusan mereka kepada-Nya. Akhirnya, Allah menolong dan mempermudah segala urusan mereka.
Oleh sebab itu, sangat dianjurkan bagi seseorang untuk mengucapkan Laa hawla wa laa quwwata illa billaahketika mendengar seruan adzan“Hayya ‘alash sholaah” (marilah mendirikan shalat) dan “Hayya ‘alal falaah” (marilah meraih kemenangan).
Pengucapan kalimat ini adalah bentuk pengakuan bahwa seseorang tidak memiliki kemampuan untuk berpindah dari kondisinya saat ini menuju shalat, atau kekuatan untuk melaksanakannya, kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Agung.
Dengan demikian, Laa hawla wa laa quwwata illa billaah adalah kalimat dzikir yang digunakan seseorang untuk memohon pertolongan Allah agar dimudahkan dalam mencapai tujuan atau cita-citanya.
(Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Darb, Kaset No. 224)
Poin Penting dari Penjelasan Syaikh al-Utsaimin:
Kalimat ini mengajarkan ketergantungan penuh kepada Allah dalam setiap urusan.
Kalimat ini adalah bentuk doa dan permohonan pertolongan kepada Allah.
Sangat dianjurkan untuk mengucapkannya saat menjawab adzan sebagai pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Allah.
Keutamaan Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billaah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan banyak keutamaan kalimat ini, di antaranya:
1. Sebagai Simpanan Surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah Laa hawla wa laa quwwata illa billaah, karena ia adalah satu di antara simpanan-simpanan surga.” (HR. Bukhari, no. 7386)
2. Pintu Menuju Surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu:
ألا أدلك على باب من أبواب الجنة؟ قلت بلى، قال: لا حول ولا قوة إلا بالله
“Maukah engkau aku tunjukkan salah satu pintu surga? Beliau bersabda: Laa hawla wa laa quwwata illa billaah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 2610)
3. Mempermudah Urusan dan Mendatangkan Pertolongan Allah
Dengan mengucapkan kalimat ini, seseorang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, memohon pertolongan-Nya agar dimudahkan dalam menjalani kehidupan dan melawan rintangan.
Waktu dan Tempat Mengucapkan Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billaah
Kalimat ini dianjurkan diucapkan dalam beberapa keadaan, di antaranya:
1. Saat menjawab adzan, khususnya ketika mendengar seruan:
Hayya ‘alash sholaah (Marilah mendirikan sholat) dan Hayya ‘alal falaah (Marilah meraih kemenangan).
2. Doa dan Dzikir Setelah Sholat Fardhu
Dalam dzikir yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah sholat, kalimat ini juga menjadi bagian penting:
Pelajaran Penting dari Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billaah
1. Ketergantungan kepada Allah
Kalimat ini mengingatkan kita bahwa segala kekuatan, kemampuan, dan usaha kita tidak akan berarti tanpa izin dan pertolongan Allah.
2. Kunci Kesabaran dan Keikhlasan
Dengan memahami makna kalimat ini, seorang muslim akan lebih mudah menerima takdir, bersabar, dan berserah diri kepada Allah dalam setiap keadaan.
3. Tabungan Pahala di Surga
Sebagai salah satu simpanan surga, kalimat ini menjadi bekal yang sangat berharga bagi seorang muslim untuk akhiratnya.
Penutup
Kalimat Laa hawla wa laa quwwata illa billaah adalah dzikir yang sederhana namun penuh makna. Dengan mengamalkannya, seorang muslim dapat meraih keutamaan di dunia dan akhirat. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi kita semua untuk lebih banyak berdzikir kepada Allah.
***
Video tentang arti la hawla wala quwwata illa billah