Perbedaan Salat Awwabin dan Salat Malam

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan Salat al-Awwabin? Kemudian, apa beda antara Salat Tarawih, Salat Witir, Salat Tahajud, dan Salat Malam?

Syaikh Dr. Labib Najib, seorang pakar fiqih mazhab Syafi’i menjelaskan perbedaan beberapa jenis Salat Sunah tersebut.

Syaikh Dr. Labib Najib berkata:

.الفرق بين: صلاة الأوابين، وصلاة التراويح، وصلاة الوتر، وصلاة التهجد، وصلاة الليل

.صلاة الأوابين تطلق على صلاة الضحى، وعلى الصلاة بين المغرب والعشاء، وتسمى: صلاة الغفلة

 .صلاة التراويح، هي عشرون ركعة، تكون بعد فعل العشاء، وتختص برمضان، وتسن الجماعة فيها

صلاة الوتر هي سنة مؤكدة، بل آكد النوافل التي لا تسن لها الجماعة، وآكد من التراويح، وأقلها: ركعة، وأكثرها: إحدى عشرة ركعة، ولا تختص برمضان، ووقتها بعد فعل العشاء

صلاة التهجد، هي: صلاة في الليل بعد نوم، فالصلاة تشمل الفرض، فلو قضى فرضًا بعد نومٍ حصل التهجد، ويحصل التهجد ولو بسنة العشاء، أو الوتر إذا فُعل بعد نومٍ

صلاة الليل، تشمل كلَّ صلاة في الليل، ولو وترا أو تهجدا أو تراويح، فالإضافة بتقدير (في)

:ويتبين مما تقدم أنَّ العلاقة بين الوتر والتهجد علاقة عموم وخصوص وجهي

  • فلو صلى الوتر بعد النوم، فهو وتر وتهجد
  • أو صلاه قبل النوم، فهو وتر، لا تهجد
  • أو صلى غير الوتر – كنفل مطلق – بعد النوم فهو تهجدٌ لا وتر

***

Perbedaan antara Salat al-Awwabin, Salat Tarawih, Salat Witir, Salat Tahajud, dan Salat Malam:

  • Salat al-Awwabin adalah sebutan bagi Salat Duha, dan salat di antara Salat Maghrib dan Salat Isya. Salat ini juga disebut dengan Salat Ghaflah.
  • Salat Tarawih jumlah rakaatnya adalah 20 rakaat dan dilakukan setelah mendirikan Salat Isya. Salat ini hanya dilakukan pada bulan Ramadan. Pelaksanaannya disunahkan secara berjamaah.
  • Salat Witir adalah salat yang hukumnya sunah muakadah, bahkan ia lebih ditekankan pelaksanaannya daripada salat-salat sunah lain yang pelaksanaannya tidak disunahkan secara berjamaah. Ia juga lebih ditekankan daripada Salat Tarawih. Salat Witir ini jumlah minimal rakaatnya adalah satu rakaat, sedangkan maksimalnya adalah 11 rakaat. Salat ini tidak dikhususkan pelaksanaannya pada bulan Ramadan saja, dan waktu pelaksanaannya adalah setelah mendirikan Salat Isya.
  • Salat Tahajud adalah salat pada malam hari setelah bangun tidur, dan salat ini juga mencakup Salat Fardu. Jadi seandainya ada orang yang mengqadha Salat Fardu (pada malam hari) setelah bangun tidur, maka itu juga dianggap sebagai Salat Tahajud. Bahkan jika ia mengerjakan Salat Sunah Rawatib Isya atau Salat Witir setelah bangun tidur, teranggap telah melakukan Shalat Tahajud. Jadi, jika ada orang yang mengqadha Salat Fardu pada malam hari setelah bangun tidur, itu juga dianggap sebagai Salat Tahajud.
  • Sedangkan Salat Malam mencakup seluruh salat pada malam hari, meskipun itu berupa Salat Witir, Salat Tahajud, atau Salat Tarawih. Jadi frasa kata “Salat Malam” ini bermakna “di”, yakni salat di malam hari.

Berdasarkan penjelasan tersebut, jelaslah bahwa hubungan antara Salat Witir dan Salat Tahajud adalah hubungan umum dan khusus dari sudut pandangnya, yakni:

  • Seandainya seseorang mendirikan Salat Witir setelah bangun tidur, maka salat itu adalah Salat Witir dan Salat Tahajud, atau
  • Jika dia mendirikan salat itu sebelum tidur, maka itu adalah Salat Witir saja dan bukan Salat Tahajud, atau
  • Jika dia salat selain Salat Witir–seperti Salat Sunah Mutlak–setelah bangun tidur, maka itu adalah Salat Tahajud saja dan bukan Salat Witir.

Panduan Bacaan Shalawat Ibrahimiyah

Shalawat Ibrahimiyah adalah shalawat nabi yang terbaik, yang paling afdal, yang paling utama.

Dalilnya adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

وَعَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ: لَقِيَنِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ بَلَى فَأَهْدِهَا لِي 

Dari Abdurrahman bin Abi Laila, beliau berkata:
“Aku bertemu dengan Ka’ab bin Ujrah, kemudian beliau berkata: ‘Maukah kamu aku berikan hadiah yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Aku berkata: ‘Iya, hadiahkanlah itu kepadaku.’ 

فَقَالَ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُم

Maka beliau berkata: ‘Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepada Anda, wahai ahlul bait? Karena Allah sudah mengajari kami bagaimana caranya mengucapkan salam.’

قَالَ: قُولُوا اللَّهُمَّ صل عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حُمَيْدٌ مجيد اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّك حميد مجيد

Maka beliau bersabda: 

‘Katakanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

ALLAAHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA IBROOHIIM WA ALAA AALI IBROOHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID ALLAAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAAROKTA ‘ALAA IBROOHIIM WA ‘ALAA AALI IBROOHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID

Artinya: Ya Allah, anugerahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Sebagaimana Engkau telah menganugerahkan shalawat atas Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.'” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Shalawat Ibrahimiyah disebut shalawat terbaik karena ia langsung diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata:

وخير صيغة يقولها الإنسان في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ما اختاره النبي صلى الله عليه وسلم للصلاة عليه بها

“Sebaik-baik lafaz shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lafaz shalawat yang beliau pilih.” (Majmu Fatawa wa Rasail Fadhilatu As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin 13/230)

Ditambah pula Shalawat Ibrahimiyah ini selalu kita baca ketika tasyahud di dalam shalat.

Berikut ini video bacaan Shalawat Ibrahimiyah sebagai panduan audio visual:

Beberapa Lafaz Shalawat Ibrahimiyah

Ada beberapa lafaz Shalawat Ibrahimiyah yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara lafaz Shalawat Ibrahimiyah yang satu dengan yang lainnya hanya ada sedikit perbedaan lafaz. Selama lafaz Shalawat Ibrahimiyah itu shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia dapat diamalkan. Ia dapat diamalkan baik di dalam shalat – ketika tasyahud – maupun di luar shalat.

***

Insya Allah di lain kesempatan, saya akan melengkapi tulisan ini. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada saya.

***

Referensi:

Shalawat Nabi: Bacaan yang Mudah dan Penuh Berkah

Bacaan shalawat Nabi Allahumma sholli wa sallim ‘alaa nabiy-yinaa Muhammad (‏اللَّهُمَّ صَّلِ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَامُحَمَّدٍ) adalah bacaan shalawat yang sangat pendek. Bacaan ini juga mudah diucapkan. Bacaan ini boleh senantiasa kita ucapkan.

Namun, bacaan shalawat yang terbaik adalah Shalawat Ibrahimiyah, yaitu bacaan shalawat Nabi yang biasa kita baca dalam shalat ketika tasyahud. Bacaan shalawat inilah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

ALLAAHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHOLLAI-TA ‘ALAA IBROOHIIM WA ‘ALAA AALI IBROOHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID ALLAAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAAROKTA ‘ALAA IBROOHIIM WA ‘ALAA AALI IBROOHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID

Inilah bacaan shalawat terbaik. Boleh kita baca di luar shalat, terlebih-lebih lagi di dalam shalat, karena ini adalah bagian dari bacaan tasyahud.

Allah memerintahkan kita untuk memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan juga ucapkanlah salam untuknya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Di antara keutamaan memperbanyak bershalawat adalah kedekatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat. Orang yang sering bershalawat ke atas junjungan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling dekat dengan beliau di hari kiamat kelak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أولَى الناسِ بِيْ يوم القيامة أكثرُهم عليَّ صلاةً

“Orang yang paling dekat dariku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi)

Mari kita senantiasa membaca shalawat untuk Nabi kita tercinta shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Banghen

Man Jadda Wajada: Kekuatan Usaha dan Tawakal

Man jadda wajada (مَنْ جَدَّ وَجَدَ) adalah salah satu pepatah Arab yang sangat terkenal di Indonesia, terutama di kalangan para santri. Pepatah ini semakin populer setelah novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi mendapat perhatian luas, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Kini, kita sering mendengar ungkapan man jadda wajada (مَنْ جَدَّ وَجَدَ).

Arti dari pepatah man jadda wajada (مَنْ جَدَّ وَجَدَ) adalah:

“Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan meraih apa yang dicita-citakannya.”

Ini adalah prinsip yang berlaku secara umum, tentu saja setelah pertolongan dari Allah. Seorang pelajar yang bersungguh-sungguh belajar, selain mendapatkan ilmu, juga akan meraih nilai yang baik serta lulus dengan prestasi gemilang.

Prinsip ini berlaku di berbagai bidang; siapa pun yang bersungguh-sungguh, akan mencapai kesuksesan.


Pepatah man jadda wajada (مَنْ جَدَّ وَجَدَ) sebenarnya mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar kerja keras. Dalam bahasa Arab, kata “jada” (جَدَّ) memiliki konotasi yang kuat akan kesungguhan, ketekunan, dan fokus yang tak tergoyahkan. Ini bukan hanya tentang berusaha, tetapi juga tentang konsistensi dan dedikasi dalam mencapai tujuan. 

Kata “wajada” (وَجَدَ) di sini berarti “menemukan” atau “mendapatkan,” yang menunjukkan bahwa hasil dari usaha tersebut bukan hanya “keberhasilan”, tetapi juga “pemahaman” dan “pencerahan”.

Pepatah ini juga erat kaitannya dengan konsep ketawakalan dalam Islam, di mana seseorang dianjurkan untuk berusaha sekuat tenaga, namun tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. 

Konsep tawakal yang melengkapi pepatah man jadda wajada juga didukung oleh beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satu ayat Al-Qur’an yang sering dijadikan pedoman dalam tawakal terdapat dalam surah Ali Imran ayat 159:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Fa idzā ’azamta fatawakkal ’alallāh, innallāha yuhibbul-mutawakkilīn.”

Artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menekankan bahwa setelah seseorang berusaha dan membuat keputusan yang matang, langkah selanjutnya adalah bertawakal kepada Allah, karena hasil akhirnya berada dalam kuasa-Nya. Ini menunjukkan keseimbangan antara usaha manusia dan penyerahan hasil kepada Allah, yang merupakan inti dari pepatah man jadda wajada.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan pentingnya usaha sebelum bertawakal:

عَنْ أَنَسٍ قال رجلٌ يا رسولَ اللهِ أعقِلُها وأتوكَّلُ أو أُطلقُها وأتوكَّلُ قال اعقِلها وتوكَّلْ

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, ada seseorang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakal, atau aku biarkan saja dan bertawakal?’ Nabi menjawab: ‘Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.’” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengandung pelajaran penting bahwa usaha manusia tetap dibutuhkan, meskipun mereka mengandalkan pertolongan Allah. 

Dalam konteks man jadda wajada, seseorang harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuannya, namun tetap meyakini bahwa hasil akhirnya adalah ketetapan dari Allah.

Dalam perspektif ini, man jadda wajada mengingatkan bahwa kerja keras adalah bagian dari ikhtiar, namun keberhasilan sejati ada dalam ketetapan dan kehendak Allah. Dengan kata lain, manusia diwajibkan untuk berusaha, tetapi tidak boleh melupakan bahwa hasil akhir ada dalam tangan-Nya.

Dari sisi sejarah, pepatah ini konon telah digunakan sejak zaman kejayaan peradaban Arab-Islam, ketika para ulama dan pemikir besar Islam menerapkan prinsip ini dalam kehidupan mereka. Mereka tidak hanya berteori, tetapi benar-benar mencurahkan waktu dan tenaga dalam bidang-bidang yang mereka geluti. Prinsip man jadda wajada menjadi pedoman dalam menuntut ilmu, yang pada akhirnya mendorong mereka mencapai puncak keilmuan yang diakui dunia hingga saat ini.

Satu fakta menarik lainnya, pepatah ini juga mendapat tempat di berbagai budaya Muslim di luar Arab, termasuk Indonesia. Para ulama dan tokoh pendidikan di Indonesia menggunakan pepatah ini untuk memotivasi generasi muda agar tidak mudah menyerah dalam menuntut ilmu dan meraih cita-cita. Di beberapa pondok pesantren, pepatah ini bahkan menjadi semboyan yang tertulis di dinding-dinding kelas sebagai pengingat bahwa kesuksesan tidak datang tanpa usaha yang keras dan sungguh-sungguh.

Man jadda wajada!

Mengapa Istighfar Penting Setiap Hari?

Astaghfirullah wa atubu ilaih, tulisan arabnya:

أسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ

Artinya: “Aku meminta ampun pada Allah dan aku bertobat kepada-Nya.”

Kita dianjurkan untuk memperbanyak mengucapkan istighfar setiap hari. Contoh nyata dalam hal ini adalah teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَاللَّهِ إِنِّي لِأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سبعينَ مرَّةً

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali setiap hari.” (HR. Bukhari)

***

Istighfar Cara Terbaik Meraih Ampunan Allah

Istighfar adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih ampunan-Nya. 

Allah berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula sungai-sungai.’” (QS. Nuh: 10-12)

Ayat ini menjelaskan bahwa istighfar tidak hanya mendatangkan ampunan Allah, tetapi juga mendatangkan keberkahan duniawi, seperti hujan, rezeki, dan keturunan. Ini adalah bukti betapa istighfar memiliki dampak yang sangat besar, baik di dunia maupun di akhirat.

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menekankan pentingnya istighfar dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

Dari Abdullah bin Busr, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طُوبى لمن وُجِدَ في صحيفتِه استغفار ٌكثيرٌ

“Beruntunglah orang yang di dalam catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menekankan bahwa mereka yang memperbanyak istighfar akan memperoleh kebahagiaan di akhirat. Amalan ini menjadi penghapus dosa dan penyelamat di hari kiamat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun tidak. Karena itulah, Allah dengan penuh kasih sayang membuka pintu ampunan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat. 

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barang siapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)

Ayat ini memberikan harapan besar bagi kita yang ingin bertaubat, bahwa setiap kesalahan akan diampuni jika kita dengan tulus memohon ampun kepada Allah.

Maka dari itu, jangan pernah meremehkan kekuatan istighfar. Mari kita biasakan memperbanyak istighfar dalam keseharian kita, bukan hanya untuk menghapus dosa-dosa kita, tetapi juga untuk meraih keberkahan dan ketenangan hidup. 

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu mengucapkan astaghfirullah wa atubu ilaih di setiap kesempatan, dan semoga kita termasuk orang-orang yang diampuni oleh-Nya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu beristighfar setiap hari.

Banghen

Arti La Haula Wala Quwwata Illa Billah

Arti “la haula wala quwwata illa billah” adalah “tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah.”

Kalimat la haula wala quwwata illa billah sungguh istimewa, di antara keistimewaannya:

La Haula Wala Quwwata Illa Billah Salah Satu Perbendaharaan Surga

La haula wala quwwata illa billah (لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ) atau biasa juga disebut “hauqalah (حوقلة)” adalah satu di antara perbendaharaan surga.

Perbendaharaan artinya: kekayaan, barang berharga, atau tempat menyimpan harta benda.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat Abdullah bin Qois,

يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah: Laa haula wala quwwata illa billah, karena ia adalah satu di antara perbendaharaan surga.” (HR. Bukhari)

La hawla wala quwwata illa billah

La Haula Wala Quwwata Illa Billah Salah Satu Pintu Surga

La haula wala quwwata illa billah (لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ) adalah satu di antara pintu-pintu surga.

عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ أَنَّ أَبَاهُ دَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَخْدُمُهُ‏ قَالَ فَمَرَّ بِيَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَقَدْ صَلَّيْتُ فَضَرَبَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى‏ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ.‏ 

Dari Qais bin Sa’ad bin Ubadah, bahwa ayahnya menyerahkannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membantu dan berkhidmat kepadanya. Qais berkata, “Nabi menghampiriku saat aku sedang selesai shalat, lalu beliau menyentuhku dengan kakinya dan berkata, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu pintu surga?’ Aku menjawab, ‘Tentu saja.’ Beliau bersabda, ‘La haula wala quwwata illa billah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’” (HR. At-Tirmidzi)

La Haula Wala Quwwata Illa Billah Menjadi Bagian dari Bacaan Beberapa Doa dan Zikir

La haula wala quwwata illa billah menjadi bagian dari bacaan beberapa doa dan zikir harian, seperti:

  1. zikir setelah shalat,
  2. bacaan zikir ketika menjawab azan,
  3. doa agar mudah menghafal al-Quran,
  4. doa apabila terbangun di malam hari,
  5. doa ketika keluar rumah, dan lain-lain.

La Haula Wala Quwwata Illa Billah Wasilah Bertawakal kepada Allah

Selain menjadi salah satu pintu surga, kalimat la haula wala quwwata illa billah juga merupakan ungkapan yang mengajarkan kita untuk senantiasa bergantung kepada Allah dalam segala keadaan. 

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهۥ مَخْرَجًۭا وَيَرْزُقْهۥ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai penolongnya.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah akan selalu memberikan jalan keluar dan pertolongan kepada hamba-Nya yang bertakwa dan bertawakal. Kalimat la haula wala quwwata illa billah merupakan wujud dari penyerahan total kepada Allah dan kesadaran bahwa segala kekuatan berasal dari-Nya.

Maka, mari kita jadikan kalimat la haula wala quwwata illa billah sebagai zikir sehari-hari, dalam seluruh keadaan kita. Dengan mengucapkannya, kita tidak hanya memperkuat iman dan tawakal kita kepada Allah, tetapi juga mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga Allah memudahkan kita dalam mengamalkan zikir ini dan menjadikan hidup kita penuh berkah dan ketenangan.

Semoga bermanfaat.

Banghen

Arti Jazakallahu khairan

Jazakallahu khairan adalah ungkapan terima kasih dalam bentuk doa dalam bahasa Arab. Ucapan ini bermakna lebih dalam karena tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih, tetapi juga mendoakan kebaikan bagi orang yang telah berbuat baik kepada kita.

Apabila ada seseorang yang berbuat baik kepada kita, ucapkan:

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

JAZAAKALLAAHU KHAIRAN

Artinya: semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.

Ucapan “jazakallahu khairan” ditujukan kepada seorang laki-laki. Jika yang diberikan doa adalah perempuan, maka ucapannya berubah menjadi jazakillahu khairan (جَزَاكِ اللهُ خَيْرًا).

Kita dianjurkan untuk mengucapkan doa ini setiap kali mendapat perlakuan yang baik dari seseorang. Doa ini menunjukkan rasa syukur sekaligus penghargaan yang mendalam kepada orang lain.

Dalil dari ucapan jazakallahu khairan adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَعَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكِ اَللَّهُ خَيْراً‏ فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang diperlakukan baik oleh seseorang, lalu ia mengucapkan kepadanya: jazakallahu khairan, maka sungguh ia telah memberikan penghargaan sepenuhnya kepadanya.” (HR. Tirmidzi, lihat Bulughul Maram 1383)

Arti jazakallaahu khairan

Ucapan jazakallahu khairan ini bukan hanya sekadar ungkapan, tetapi doa yang mengandung kebaikan dan keberkahan. Dengan mengucapkannya, kita berharap Allah membalas orang tersebut dengan segala kebaikan yang lebih besar dari apa yang telah ia lakukan kepada kita.

Semoga bermanfaat.

Banghen

Dua Kalimat Syahadat

Dua kalimat syahadat adalah persaksian atau pengakuan bahwa:

  1. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah.
  2. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah (Rasulullah).

Bacaan dua kalimat syahadat adalah sebagai berikut:

أَشْهَدُ
 أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
 وَأَشْهَدُ
 أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ 

ASY-HADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH
WA ASY-HADU ANNA MUHAMMADDAR-RASUULULLAAH

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Di antara dalil yang menjelaskan dua kalimat syahadat adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tercantum dalam kitab Arba’in An-Nawawi, yaitu hadis ke-2. Hadis ini dikenal sebagai Hadis Jibril, di mana malaikat Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam bentuk seorang laki-laki yang tidak dikenal oleh para sahabat.

Hadis ini panjang, namun berikut ini adalah penggalan yang berkaitan dengan rukun Islam, terutama rukun yang pertama: mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم ذَاتَ يَوْمٍ إذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ

“Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam; tidak tampak padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Lalu dia duduk di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyandarkan lututnya pada lutut Nabi dan meletakkan tangannya di atas pahanya.”

وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إنْ اسْتَطَعْت إلَيْهِ سَبِيلًا

“Lalu dia berkata, ‘Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah; engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah jika mampu.’” (HR. Muslim)

Dua kalimat syahadat adalah fondasi dari Islam. Dengan mengucapkan dan meyakininya, seseorang memasuki agama Islam dan berkomitmen untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Banghen

Doa Apabila Terbangun di Tengah Malam

Doa ini sangat penting karena terbangun di malam hari merupakan waktu di mana doa lebih mudah dikabulkan oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan berdoa ketika terbangun di malam hari sebagai salah satu penyebab terkabulnya doa.

Hadis yang berkaitan dengan doa ini adalah sebagai berikut:

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang terjaga di malam hari, kemudian ia membaca: 

لاَ إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ الْحَمْدُ لِلهِ وَسُبْحَانَ اللهِ وَلاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

LAA ILAAHA ILALLAAH
(Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah)

WAHDAHU LAA SYARIIKALAH
(Satu-Satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya)

LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU
(Hanya milik-Nya kekuasaan dan pujian)

WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-ING QODIIR
(Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)

ALHAMDULILLAAH
(Segala puji bagi Allah)

WASUBHAANALLAAH
(Maha Suci Allah)

WALAA ILAAHA ILLALLAAH 
(Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah)

WALLAAHU AKBAR
(Allah Maha Besar)

WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
(Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)

Lalu dia berkata:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

ALLAAHUMMAGHFIRLII
(Ya Allah ampuni aku)

atau ia berdoa dengan doa lainnya, maka doanya akan dikabulkan. Apabila ia berwudhu lalu shalat, maka shalatnya akan diterima.” (HR. Bukhari)

***

***

Shalat Tahajud setelah Bangun di Malam Hari

Selain menjadi waktu yang baik untuk berdoa, terjaga di malam hari juga merupakan momen yang sangat dianjurkan untuk mendirikan Shalat Tahajud. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةًۭ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًۭا مَّحْمُودًۭا

“Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda mengenai keutamaan waktu sepertiga malam terakhir:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَىٰ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَىٰ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari)

Memperbanyak Istighfar di Sepertiga Malam Terakhir

Selain berdoa dan berzikir, kita dianjurkan untuk memohon ampun kepada Allah ketika terjaga di malam hari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memperbanyak istighfar di waktu malam, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

‎لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ، وَلَأَخَّرْتُ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَإِذَا مَضَى ثُلُثُ اللَّيْلِ نَزَلَ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَلَا يَزَالُ يَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ، هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟

“Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali shalat. Dan aku akan mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam. Ketika sepertiga malam berlalu, Allah turun ke langit dunia dan berkata: Apakah ada yang memohon, maka akan Aku beri? Apakah ada yang berdoa, maka Aku kabulkan? Apakah ada yang memohon ampun, maka akan Aku ampuni?”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Berdasarkan penjelasan dalam Syarh Ibnu Majah karya Mughlathay:

‎الراوي: أبو هريرة • علاء الدين مغلطاي • شرح ابن ماجه لمغلطاي • الصفحة أو الرقم: 2/511 • خلاصة حكم المحدث : سنده صحيح • التخريج : أخرجه أحمد (967) باختلاف يسير، والأمر بالسواك أخرجه البخاري (887)، ومسلم (252)

Hadis ini memiliki sanad yang shahih, dengan beberapa perbedaan kecil dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, serta mengenai perintah bersiwak yang juga terdapat dalam riwayat Bukhari dan Muslim. (Sumber: dorar.net)

Dengan mengamalkan doa ketika terbangun di malam hari, seseorang tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa, tetapi juga dapat mendirikan Shalat Tahajud dan memperbanyak istighfar.

Semoga Allah memudahkan kita untuk menghidupkan malam dengan doa dan zikir yang penuh khusyuk.

Banghen

4 Teknik untuk Meningkatkan Storytelling Anda – Oleh Sun Yi

Berikut adalah beberapa teknik yang dapat meningkatkan kemampuan storytelling dan penulisan Anda. Namun, perlu diingat, tidak peduli seberapa canggih tulisan Anda, cerita yang buruk tidak dapat diperbaiki hanya dengan teknik menulis. Tanpa cerita yang kuat, Anda berisiko terdengar seperti seorang politisi yang menghindari pertanyaan dengan “memuntahkan” serangkaian kata tanpa benar-benar menjawab esensinya.

Jika Anda benar-benar ingin menghasilkan cerita yang hebat, saya telah menyusun rangkaian latihan untuk membantu Anda berpikir secara kritis, mengenal diri Anda lebih baik, dan menyampaikan ide-ide Anda ke dunia. Saya yakin, setelah mengikuti berbagai kursus storytelling, belum ada program yang seefektif Night Owl Nation.

Baiklah, mari kita mulai pelajaran hari ini:

1. Menulis Kail yang Kuat

Semakin spesifik, semakin baik
Semakin spesifik tulisan Anda, semakin nyata dan dapat dicapai oleh audiens. Contoh ini menunjukkan bagaimana menjadi sangat spesifik membuatnya terasa lebih realistis:

  • Tidak spesifik: Cara meningkatkan pengikut dengan cepat.
  • Spesifik: Tingkatkan pengikut sebanyak 200% dalam 90 hari.
  • Sangat spesifik: Tingkatkan pengikut sebanyak 206% dalam 87 hari.

Semakin sedikit informasi, semakin baik
Jangan ungkapkan akhir cerita di awal. Buatlah misteri yang membuat audiens penasaran untuk terus membaca hingga mendapatkan jawabannya.

  • Terlalu banyak informasi: Hidup seperti pecandu narkoba yang pulih dengan menjadi diri yang otentik dapat membuat Anda menjadi pemimpin yang lebih baik.
  • Misterius: Pemimpin hebat hidup seperti pecandu narkoba.

Bersikaplah dengan sengaja dalam penggunaan kata-kata Anda
Setiap kata harus punya tujuan. Dalam contoh ini, “tidak peduli” terasa lebih membebaskan daripada “tidak peduli dengan pendapat orang.” Kata “halus” menunjukkan bahwa ini mungkin rahasia. Kata “seni” menandakan bahwa ini keterampilan yang perlu dipelajari.

  • Langsung: Bagaimana tidak peduli dengan pendapat orang.
  • Sengaja: Seni halus untuk tidak peduli.

2. Teknik Storytelling

Gunakan waktu sekarang
Menggunakan waktu sekarang membuat audiens merasa seperti berada dalam cerita secara langsung.

  • Past Tense: Dia berjalan ke mejaku, jadi saya menatapnya. Kemudian dia berkata… (He walked over to my desk, so I looked up at him. Then he said…)
  • Present Tense: Dia berjalan ke mejaku, jadi saya menatapnya. Kemudian dia berkata… (He walks over to my desk, so I look up at him. Then he says…)

Berikan nama pada karakter Anda
Memberi nama karakter membantu audiens melacak siapa yang berbicara dan membuat cerita lebih hidup.

  • Tanpa Nama: Bosku bertanya kepada rekan kerjaku apakah bisa dilakukan lebih cepat. Dia bilang bisa. Kemudian dia berbalik padaku dan mulai berteriak.
  • Dengan Nama: Bosku Jerry bertanya kepada rekan kerjaku Dan apakah bisa dilakukan lebih cepat. Dan bilang bisa. Kemudian Jerry berbalik padaku dan mulai berteriak.

Gunakan Dialog
Daripada menjelaskan percakapan, gambarkan adegan menggunakan dialog agar lebih hidup.

  • Tanpa Dialog: Dia bilang suaminya juga bermain bola dan bertanya apakah saya mau melihat koleksi bolanya.
  • Dengan Dialog: “Suamiku juga bermain bola!” katanya, dengan wajah penuh kejutan. Lalu dia bertanya, “Mau lihat koleksi bolanya?”

Deskripsikan Emosi Fisik
Deskripsi emosi fisik membuat pembaca bisa ikut merasakan emosi tersebut.

  • Tanpa Emosi Fisik: Saya lelah. Begitu saya duduk di sofa, saya tidak bisa menahan dorongan untuk tetap terjaga.
  • Emosi Fisik: Begitu saya duduk di sofa, bantal lembut memeluk bahu dan leher saya. Saya mencoba tetap terjaga, tapi kelopak mata saya semakin berat.

3. Teknik Menulis

Gunakan jeda dramatis
Menambahkan spasi atau jeda di momen penting cerita membuatnya lebih dramatis.

  • Tanpa Jeda: Setelah menjelaskan, saya yakin Kevin akan memecat saya. Tapi kemudian dia berkata, “Terima kasih karena sudah jujur.”
  • Dengan Jeda: Setelah menjelaskan, saya yakin Kevin akan memecat saya. Tapi kemudian… Sebuah keajaiban terjadi. Dia berkata, “Terima kasih karena sudah jujur.”

Ubah sudut pandang
Menggunakan satu sudut pandang saja bisa terasa monoton. Campur sudut pandang orang pertama, kedua, dan ketiga untuk variasi.

  • Hanya Orang Pertama: Saya mendengar bel pintu berbunyi. Saya melihatnya masuk. Saya kaget.
  • Perspektif Campuran: Bel pintu berbunyi. Dia masuk. Mungkin Anda akan terkejut mendengar bahwa saya tidak panik.

Gunakan pertanyaan
Menggunakan pertanyaan membuat tulisan terasa lebih seperti percakapan dan kurang menggurui.

  • Pernyataan (Ceramah): Orang-orang itu jahat. Mereka selalu mencoba menurunkan Anda.
  • Pertanyaan (Percakapan): Pernahkah Anda merasa orang-orang itu jahat? Seperti mereka selalu mencoba menurunkan Anda?

4. Teknik Editing

Bacalah ceritamu dengan suara keras
Ketika Anda membaca cerita dengan suara keras, Anda bisa mendengar bagian mana yang tidak lancar. Ini membantu menjaga alur cerita agar tetap mulus dan menarik.

Tulis untuk anak kelas 7
Rata-rata orang Amerika membaca di tingkat kelas 7. Verifikasi tulisan Anda sehingga mudah dipahami oleh pembaca umum. Anda bisa menggunakan aplikasi seperti Hemingway App untuk menguji tingkat keterbacaan.

Bilas dan ulangi
80% dari proses menulis adalah editing. Setelah draf pertama selesai, teruslah menulis ulang cerita Anda dengan teknik yang disebutkan di atas hingga terasa sempurna.


Sumber: Sun Yi

Doa Mustajab agar Mudah Menghafal Al-Quran

Saya sangat senang ketika mengetahui bahwa ada doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mudah menghafal Al-Qur’an, serta mudah membacanya dan mempelajarinya.

Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan:

Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Sungguh aku tidak mampu mendapat apa pun dari Al-Qur’an (yaitu dari sisi menghafalnya, membacanya, dan mempelajarinya), jadi mohon ajarkanlah padaku sesuatu yang mencukupiku.” 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Katakanlah: 

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
 وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
 وَلَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ
 إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

SUBHAANALLAAH WALHAMDULILLAAH WALAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM.”

Artinya: “Maha Suci Allah, dan segala puji hanyalah milik Allah, dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah,  Allah Maha Besar, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).”

Laki-laki tersebut lantas bertanya: “Wahai Rasulullah, ini (zikir dan pujian) untuk Allah, lalu apa (doa) untukku?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Katakanlah: 

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي
 وَعَافِنِي وَاهْدِنِي

ALLAAHUMMARHAMNII WARZUQNII WA ‘AAFINII WAHDINII.”

Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat, rezeki, jagalah aku, dan berilah petunjuk padaku.”

Ketika laki-laki tersebut berdiri, dia berkata, “Begini…” sembari memberi isyarat dengan tangannya (yaitu dengan menggenggamnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sungguh laki-laki itu telah mengisi tangannya dengan kebaikan.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Shahih Abi Dawud).

***

Al-Qur’an itu Mudah Dihafal!

Al-Qur’an itu mudah dihafal, dibandingkan dengan kitab-kitab lainnya. Betapa banyak penghafal Al-Qur’an, dari anak kecil hingga orang tua. Ini adalah bukti nyata Al-Qur’an itu mudah dihafal.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat dan dipelajari, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang bersungguh-sungguh untuk menghafal dan mempelajari Al-Qur’an akan mendapatkan kemudahan dengan izin Allah.

Orang Terbaik adalah yang Belajar dan Mempelajari Al-Qur’an

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda mengenai keutamaan seseorang yang tekun mempelajari Al-Qur’an:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027)

Hadis ini menunjukkan betapa besar pahala bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an dan berusaha untuk memahaminya, bahkan lebih baik lagi jika ia juga mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain.

Kemuliaan Penghafal Al-Qur’an

Di hadis yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang kemuliaan para penghafal Al-Qur’an, yang kemuliaan tersebut mereka dapatkan nanti di akhirat, setelah kemuliaan-kemuliaan yang mereka dapatkan di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Akan dikatakan kepada ahli Al-Qur’an: Bacalah dan naiklah, serta tartilkanlah sebagaimana engkau membacanya di dunia. Maka sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud no. 1464, Tirmidzi no. 2914, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Doa Agar Mudah Mempelajari Al-Qur’an

Selain itu, pentingnya doa dalam proses belajar tidak dapat diragukan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu.’” (QS. Taha: 114)

Doa ini sangat baik untuk diamalkan, terutama bagi orang yang ingin memperdalam ilmu agama, termasuk dalam hal menghafal dan memahami Al-Qur’an.

Dengan menggabungkan berdoa, keyakinan kepada Allah, kemudian usaha yang keras, insya Allah seseorang akan dimudahkan dalam menghafal Al-Qur’an dan memperoleh kebaikan darinya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan dalam mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an.

Banghen

Gak bisa tiba-tiba anak kita jadi saleh

“Gak bisa tiba-tiba anak kita itu jadi saleh dalam waktu singkat. Anak kita itu butuh proses sampai ia menjadi saleh.”

Demikian satu di antara pesan seorang ustadz panutan saya dalam mendidik anak. Beliau kemudian meneruskan ceritanya. Saya hanya diam mendengarkan cerita dan nasihat beliau. Sesekali saya bertanya.

Beliau seorang ustadz yang tentu saja sangat paham teori mendidik anak, ditambah lagi pengalaman beliau mendidik 10 orang anak-anak beliau. Teori yang lengkap ditambah pengalaman 20 tahun mendidik 10 orang anak-anak beliau. Kepada beliau, dan kepada ustadz semisal beliau, saya banyak belajar.

Teori mendidik anak itu gampang, akan tetapi penerapannya susah-susah gampang. Susahnya dua kali, gampangnya sekali. Jika hanya berteori, orang yang pandai bicara akan terkesan ahli, padahal belum tentu. Teori yang dia miliki harus dibuktikan dalam dunia nyata. Ibarat pelaut, semua pelaut tentulah paham teori melaut, akan tetapi seorang pelaut tangguh adalah pelaut yang telah berpengalaman menghadapi badai ombak di lautan.

Ketika anak kita masih kecil, teori-teori itu masih gampang kita terapkan kepada mereka. Namun, ketika anak sudah mulai mendekati remaja, akan muncul berbagai problematika. Itu baru satu orang anak. Bagaimana jika 5 orang anak? Bagaimana jika 10 orang anak?

Banghen

Ustadz, sudah saatnya kau menata hati!

Sahabatku, mungkin selama ini orang-orang di lingkaranmu memanggilmu dengan sebutan “ustadz”, ditambah dengan sikap takzimnya mereka padamu. Lama-lama panggilan itu melekat di benak dan hatimu. Jadilah engkaulah “sang ustadz”.

Pernahkah, suatu ketika ada orang yang memanggilmu dengan menyebut namamu, tanpa disertai sebutan “ustadz” di depan namamu? Ditambah pula sikap dia tak setakzim orang-orang yang memanggilmu dengan sebutan ustadz. Apa yang kau rasa? Bagaimana perasaanmu?

Jika kau rasa “beda” di hatimu, atau jika kau merasa sedikit “direndahkan”, atau jika kau merasa “kurang ditinggikan”, maka sudah saatnya kau menata hatimu!

Sahabatku, kita ini sama di hadapan Allah, yang membedakan hanyalah ketakwaan kita. Jangan kau tertipu dengan panggilan takzim orang-orang di hadapanmu. Selamatkan hatimu.

Banghen

Lebih Baik Keliru Berbaik Sangka

Jika “berbaik sangka” adalah sebuah benda, maka ia adalah benda yang sangat penting dalam kehidupan. Telanlah ia! Agar menyatu dalam dirimu, sehingga ia tak mudah hilang.

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr berkata:

لَأَنْ يَكُونَ خَطَأُكَ مَعَ أَخِيكَ فِي بَابِ إِحْسَانِ الظَّنِّ
 خَيْرٌ لَكَ مِنْ
 أَنْ يَكُونَ خَطَأُكَ مَعَ أَخِيكَ فِي بَابِ إِسَاءَةِ الظَّنِّ

“Sungguh, kekeliruanmu dalam berbaik sangka terhadap saudaramu lebih baik daripada kekeliruanmu dalam berburuk sangka terhadapnya.” (via Yufid.TV)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan, memata-matai, mendengki, membelakangi, atau membenci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563)

Berbaik sangka, atau husnuzan, merupakan sifat yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama dalam menjaga hubungan antar sesama. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini memperingatkan kita agar tidak mudah berprasangka buruk, karena prasangka buruk dapat menimbulkan dosa dan merusak hubungan persaudaraan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tergoda untuk menilai orang lain berdasarkan asumsi dan informasi yang tidak jelas, padahal hal itu bisa menyebabkan kesalahpahaman dan permusuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menekankan pentingnya menjaga hubungan baik di antara sesama. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Amr:

إنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عليه وسلَّمَ لَمْ يَكُنْ فاحِشًا ولا مُتَفَحِّشًا. وقالَ: إنَّ مِن أحَبِّكُمْ إلَيَّ أحْسَنَكُمْ أخْلاقًا. وقالَ: اسْتَقْرِئُوا القُرْآنَ مِن أرْبَعَةٍ؛ مِن عبدِ اللَّهِ بنِ مَسْعُودٍ، وسالِمٍ مَوْلى أبِي حُذَيْفَةَ، وأُبَيِّ بنِ كَعْبٍ، ومُعاذِ بنِ جَبَلٍ

الراوي: عبدالله بن عمرو • البخاري، صحيح البخاري (٣٧٥٩) • [صحيح] • أخرجه مسلم (٢٣٢١) باختلاف يسير. والحديث الثاني: أخرجه مسلم (٢٤٦٤) باختلاف يسير

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata kasar dan tidak pernah sengaja berbuat keji. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang paling dicintai olehku di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. Dan beliau bersabda: ‘Ambillah bacaan Al-Qur’an dari empat orang: dari Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’b, dan Mu’adz bin Jabal.'”

Periwayat hadis: Abdullah bin Amr. Hadis ini tercatat dalam Shahih Bukhari (no. 3759) dan Shahih Muslim (no. 2321 dan no. 2464) dengan sedikit perbedaan.

Maka dari itu, salah satu bentuk akhlak yang baik adalah berbaik sangka kepada sesama. Dengan selalu berusaha berbaik sangka, kita dapat menghindari prasangka buruk yang hanya akan membawa kepada kebencian dan perpecahan.

Semoga kita selalu diberi kekuatan oleh Allah untuk senantiasa berbaik sangka terhadap saudara-saudara kita, sehingga tercipta kehidupan yang penuh dengan persaudaraan, kasih sayang, dan kedamaian.

Tips Latihan (Drills) Bahasa Arab

Bagi Anda yang sedang menekuni bahasa apa pun, bisa Anda praktikkan metode ini. Misalnya, Anda sedang menekuni bahasa Arab. Minimal setiap hari:

PERTAMA

13 menit mendengar ceramah syaikh yang fasih bahasa Arab fusha-nya. Saya sendiri mendengar Syaikh Labib Najib, Syaikh Sa’id al-Kamali, Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar, Syaikh Shalih al-Ushaimi, Syaikh Muhammad al-Ma’yuf, Syaikh Hasan al-Bukhari, Syaikh Shalih Sindi, Syaikh Muhammad al-Fajr (Mastering Arabic). Terkadang menonton video Muhammad Ghanayim (Youtuber), dan beberapa YouTuber lainnya yang berbahasa Arab fusha. Ditambah dengan mendengarkan materi kuliah yang memang berbahasa Arab.

KEDUA

7 menit membaca teks berbahasa Arab. Ketika membaca, usahakan Anda keraskan suara. Baca dengan 2 versi: setiap huruf akhir diharokati dan juga disukun. Membaca dengan keras ini adalah faidah yang saya dapatkan dari ustadz Fajar ketika dulu saya kuliah di Ma’had Ali, ini membantu melincahkan lidah dan bibir dalam mengucapkan kalimat.

Usahakan Anda tiru style dari Syaikh yang Anda biasa dengar. Anda tiru saja habis-habisan agar Anda terbiasa berbicara seperti layaknya orang Arab berbicara.

KETIGA

5 menit menulis yang sudah Anda dengar dan baca (lihat poin 1 dan 2 di atas). Catat seluruh ungkapan dan kosa kata baru yang Anda sudah peroleh setiap hari.

KEEMPAT

5 menit Anda ngobrol dengan bahasa Arab. Kalau saya, di rumah ngobrol dengan istri yang kebetulan dia thalibah dan senang bahasa Arab. Jika Anda tidak punya partner untuk diajak ngobrol, maka Anda bisa ngobrol dengan dirimu sendiri, rekam suaramu, kemudian nanti dengarkan lagi, dst.. atau Anda ajak istri Anda ngobrol dengan bahasa Arab kemudian Anda terjemahkan ke bahasa Indonesia, dst…

Ketika ngobrol, usahakan Anda siapkan kamus, pakai aplikasi kamus saja. Ketika obrolanmu mentok karena tidak tahu kosa katanya, segera lihat kamus, lalu ulang kembali percakapannya.

Banghen

Membuat Tulisan yang Sedap

Jika kamu mau tulisanmu berkualitas tinggi, ada satu tahapan penting yang harus kamu lalui, yaitu mengumpulkan bahan mentah (gathering raw materials). Kamu harus benar-benar memahami subjek dan objek tulisanmu. Kamu paham orang, benda, dan tempat yang kamu tulis (subjek), dan kamu menguasai topik yang akan kamu angkat menjadi tulisan (objek). Semakin banyak bahan mentah yang kamu kumpulkan, maka semakin banyak amunisi untuk tulisanmu. Ini akan berdampak pada kualitas tulisanmu nanti.

Semua bahan mentah yang kamu kumpulkan tadi, kemudian kamu racik menjadi tulisan yang sedap disantap. Pembaca tulisanmu akan merasakan lezatnya. Mereka akan memujimu dan tulisanmu.

Sebaliknya, jika kamu ingin tulisanmu jelek, cobalah sembarang menulis, terburu-buru, tak usahlah kamu tahu apa pun tentang apa yang kamu tulis. Sajikan tulisanmu apa adanya. Hasilnya, kamu dan tulisanmu akan mendapat celaan dari pembacanya. Mereka akan menyebutmu sebagai penulis yang jelek.

Intinya, kamu harus punya pengetahuan terhadap apa yang kamu tulis. Berilmu dulu sebelum menulis.

Banghen.com

***

TIPS MENULIS DAHLAN ISKAN

Ini tips menulis yang enak dibaca dan perlu dari Pak Dahlan Iskan, terutama bagi Anda seorang penulis:

Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan deskripsi. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele, tapi sebenarnya penting. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, begitu saya mengajarkan, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual.

Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Kalimat pendek, begitu saya mengajar, akan membuat tulisan menjadi lincah. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. Semakin pendek sebuah kalimat, semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Kutipan itu–direct quotation–juga harus pendek-pendek. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Tapi, dengan selingan kutipan-kutipan pendek, tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita. (Ganti Hati, Dahlan Iskan)

Filosofi Memecahkan Batu

Satu paragraf tulisan di buku Atomic Habits oleh James Clear ini barangkali menginspirasi hidupmu. Saya tuliskan ulang dengan maknanya:

***

Seorang tukang batu berusaha memecahkan batu cadas yang besar. Ia mengayunkan martilnya berkali-kali ke batu tersebut, mungkin sudah seratus kali, tapi batu besar itu tidak retak sedikit pun. Pada ayunan yang ke-101, batu tersebut terbelah dua. Tentu saja batu besar tersebut terbelah tidak hanya disebabkan oleh satu kali hantaman yang ke-101 tersebut, tapi disebabkan oleh 101 kali hantaman bertubi-tubi.

***

Filosofi seperti ini dapat diterapkan di seluruh lini kehidupan. Misalnya, seseorang yang ingin menguasai satu bidang ilmu, maka ia harus berletih-letih belajar, sebagaimana tukang batu tadi yang berletih-letih menghantamkan 101 kali hantaman ke batu besar. Selain itu, ia harus sabar menjalani prosesnya karena butuh waktu yang tidak sebentar. Jika ia istiqamah, maka ia akan memetik hasilnya, dengan izin Allah.

Saya teringat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:

إنما العلم بالتعلم وإنما الحلم بالتحلم

“Sesungguhnya ilmu itu hanyalah didapat dengan berpayah-payah belajar, sedangkan sifat lemah lembut diperoleh dengan berpayah-payah berusaha bersikap lembut.” (HR. Thabrani)

التعلم dan التحلم dalam ilmu Sharaf berwazan تفعّل yang salah satu faidahnya menunjukkan تكلّف (takalluf) yaitu bermakna “bersusah-payah”.

Oleh karena itu, siapa pun yang ingin sukses dalam hal apa pun, maka ia mestilah bersusah payah menggapainya.

Semoga bermanfaat.

Banghen.com

***

*) Buku 100 Ringkasan dan Kesimpulan Buku Atomic Habits: Summary Lengkap dengan Penjelasan Ringkas dan Contoh Aplikatif yang Mudah Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-Hari dapat Anda beli di Google Play Books.

Sedekah yang Dibungkus Martabat

Seorang wanita bertanya, “Berapa harga telur yang Anda jual?”

Penjual tua itu menjawab dengan tenang, “50 sen per butir, Nyonya.”

Wanita itu merespons dengan nada mendikte, “Saya beli enam butir untuk $2,50 atau saya pergi.”

Penjual tua itu menatapnya sejenak lalu menjawab dengan sabar, “Belilah dengan harga yang Anda inginkan, Nyonya. Ini awal yang baik untuk saya hari ini. Saya belum menjual apa pun, dan saya membutuhkan ini untuk hidup.”

Dengan perasaan puas, wanita itu membeli telur tersebut dengan harga murah. Ia meninggalkan tempat itu dengan keyakinan bahwa ia telah memenangkan “negosiasi.”

Setelah itu, ia masuk ke mobil mewahnya dan pergi ke restoran mahal bersama seorang temannya. Mereka memesan makanan sesuka hati, menyantap sedikit, dan meninggalkan banyak sisa makanan di atas meja. Ketika tagihan datang, totalnya mencapai $150. Wanita itu memberikan $200 dan berkata kepada pemilik restoran, “Ambil saja kembaliannya.”

Cerita ini mungkin terasa biasa saja bagi pemilik restoran mahal itu, tapi bagi penjual telur, ini adalah gambaran ketidakadilan yang nyata.

Pertanyaan yang muncul adalah:

Mengapa kita sering merasa perlu menunjukkan kekuasaan kita saat membeli dari mereka yang membutuhkan?

Dan mengapa kita justru bermurah hati kepada mereka yang sebenarnya tidak membutuhkan kemurahan hati kita?

Ada sebuah kisah yang pernah saya baca. Seorang ayah memiliki kebiasaan membeli barang-barang dari orang miskin dengan harga yang lebih tinggi dari yang diminta. Bahkan terkadang ia membayar lebih meskipun tidak benar-benar membutuhkan barang itu.

Suatu hari, anaknya bertanya, “Ayah, kenapa Ayah melakukan ini?”

Dengan senyum bijak, sang ayah menjawab, “Ini adalah sedekah yang terbungkus dengan martabat, Nak.”

Kisah ini mengajarkan kita untuk memandang setiap transaksi lebih dari sekadar angka atau harga. Dalam setiap rupiah yang kita keluarkan, ada pilihan: apakah kita ingin membantu atau hanya sekadar mengambil keuntungan?

Mari kita tantang diri kita untuk menjadi lebih baik.

Kita bisa memulai hari ini, dengan memberikan harga yang layak pada mereka yang berjuang untuk hidup, dan mengingat bahwa kebaikan kecil bisa memberikan dampak besar.

***

TEKS ARTIKEL ASLI BERBAHASA INGGRIS:

A lady asks: “How much do you sell your eggs for?”

The old vendor replies “50¢ an egg, madam.” The lady says, “I’ll take 6 eggs for $2.50 or I’m leaving.”

The old salesman replies “Buy them at the price you want, Madam. This is a good start for me because I haven’t sold a single egg today and I need this to live.”

She bought her eggs at a bargain price and left with the feeling that she had won.  

She got into her fancy car and went to a fancy restaurant with her friend. She and her friend ordered what they wanted. They ate a little and left a lot of what they had asked for.  

They paid the bill, which was $150. The ladies gave $200 and told the fancy restaurant owner to keep the change as a tip…

This story might seem quite normal to the owner of the fancy restaurant, but very unfair to the egg seller…

The question it raises is:

𝙒𝙝𝙮 𝙙𝙤 𝙬𝙚 𝙖𝙡𝙬𝙖𝙮𝙨 𝙣𝙚𝙚𝙙 𝙩𝙤 𝙨𝙝𝙤𝙬 𝙩𝙝𝙖𝙩 𝙬𝙚 𝙝𝙖𝙫𝙚 𝙥𝙤𝙬𝙚𝙧 𝙬𝙝𝙚𝙣 𝙬𝙚 𝙗𝙪𝙮 𝙛𝙧𝙤𝙢 𝙩𝙝𝙚 𝙣𝙚𝙚𝙙𝙮? 
𝗔𝗻𝗱 𝘄𝗵𝘆 𝗮𝗿𝗲 𝘄𝗲 𝗴𝗲𝗻𝗲𝗿𝗼𝘂𝘀 𝘁𝗼 𝘁𝗵𝗼𝘀𝗲 𝘄𝗵𝗼 𝗱𝗼𝗻’𝘁 𝗲𝘃𝗲𝗻 𝗻𝗲𝗲𝗱 𝗼𝘂𝗿 𝗴𝗲𝗻𝗲𝗿𝗼𝘀𝗶𝘁𝘆?

I once read this somewhere ,that a father used to buy goods from poor people at high prices, even though he didn’t need the things. Sometimes he paid more for them. 

I was amazed. One day his son asked him “Why are you doing this Dad?” His father replied: “It’s charity wrapped in dignity, son.”

I want to challenge each one of us to do better. We can do that. 

Sumber: Facebook Jonas Troyer https://www.facebook.com/photo/?fbid=3518063768464055&set=a.1385697861700667

Mengapa Teori dan Praktik Belajar Bahasa itu Penting?

“Ilmu tanpa praktik seperti pohon tanpa buah.”

Ungkapan ini terdengar sederhana, namun membawa pesan mendalam bagi siapa saja yang sedang belajar, khususnya dalam bidang bahasa seperti nahwu, shorof, balaghah, atau ‘arudh. Banyak orang terjebak dalam pola pikir bahwa menguasai teori saja sudah cukup, tanpa menyadari bahwa teori yang tidak dipraktikkan bisa menjadi penghalang dalam mencapai kefasihan berbahasa.

Mari kita renungkan pernyataan Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berikut:

لَوْ أَرَادَ الإِنْسَانُ أَنْ يُرَاعِيَ كُلَّ هَذِهِ القَوَاعِدِ فِي كَلاَمِهِ لَمَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَتَكَلَّمَ

“Andaikan manusia ingin menjaga semua kaidah ini dalam setiap ucapannya, maka pasti dia tidak mampu berucap.” (Syarh al-Balaghah, hlm. 194)

Teori: Fondasi yang Sangat Penting, Tapi Tidak Cukup

Teori adalah fondasi dalam pembelajaran bahasa, seperti nahwu yang mengajarkan struktur kalimat, shorof yang membimbing kita memahami perubahan kata, serta balaghah yang memoles keindahan bahasa.

Namun, apa yang terjadi jika teori ini hanya dikuasai tanpa pernah dipraktikkan?

1. Kekakuan dalam Berbicara

Seseorang yang terlalu fokus pada teori nahwu dan shorof, sering kali kaku saat berbicara. Ia ragu karena takut salah menerapkan kaidah, seperti khawatir salah dalam i’rab (tanda akhir kata). Padahal, bahasa adalah alat komunikasi, bukan sekadar kumpulan aturan.

Seseorang yang terlalu fokus pada teori nahwu–berdasarkan pengalaman pribadi–sering kali “fanatik” pada teori yang dikuasainya. Pokoknya dia tidak ingin salah dan tidak ingin terlihat salah ketika berbicara, karena baginya itu sama saja menjatuhkan reputasinya dalam ilmu nahwu.

Bicara saja! Tidak apa-apa Anda salah bicara. Itu adalah salah yang tidak dosa. Semakin banyak Anda salah, semakin banyak pula Anda belajar. Karena pelajaran dari kesalahan itu lebih melekat ke dalam hati dan pikiran, ia lebih berkesan.

2. Minimnya Keberanian untuk Berbicara

Tanpa praktik, seseorang cenderung tidak percaya diri untuk berbicara. Ia merasa belum siap atau takut dikoreksi. Misalnya, pembelajar bahasa Arab yang terus menunda-nunda mencoba berbicara dengan alasan “teori saya belum sempurna.”

3. Tidak Mengenal Konteks Nyata

Konteks bahasa sering kali berbeda dari kaidah formal. Dalam percakapan sehari-hari, penutur asli mungkin menggunakan frasa atau ungkapan yang tidak diajarkan dalam teori. Contoh, ungkapan bahasa Arab seperti:

• كيف الحال؟ (Kaifal haal? – Bagaimana kabarmu?)

• الحمد لله على كل حال (Alhamdulillah ‘alaa kulli haal – Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan).

Mengapa Praktik Itu Wajib?

Praktik adalah cara untuk menghidupkan teori. Ini seperti belajar berenang—Anda tidak akan bisa berenang hanya dengan membaca buku panduan. Anda harus mencoba masuk ke air dan melatih gerakan.

Berikut beberapa manfaat praktik:

1. Melatih Kefasihan

Ketika Anda berlatih berbicara, otak dan lidah akan terbiasa dengan pola-pola bahasa tersebut. Misalnya, Anda akan lebih mudah memahami kapan harus menggunakan fi’il madhi (kata kerja lampau) atau fi’il mudhari’ (kata kerja sekarang/masa depan).

2. Meningkatkan Kepercayaan Diri

Praktik memberi Anda keberanian untuk mencoba. Kesalahan dalam berbicara bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar. Contohnya, saat memulai belajar berbicara:

• أريد أن أتعلم اللغة العربية (Uriidu an ata’allama al-lughah al-‘Arabiyyah – Saya ingin belajar bahasa Arab).

3. Memahami Nuansa Bahasa:

Bahasa tidak hanya soal tata bahasa (gramatikal), tetapi juga nuansa dan konteks. Sebagai contoh, frasa ما شاء الله (Ma syaa Allah) memiliki arti pujian atas keindahan atau kehebatan sesuatu, tetapi penggunaannya berbeda dalam situasi formal dan non-formal.

Tips dan Trik: Menerapkan Teori ke Praktik

1. Berlatih Bicara Setiap Hari

Mulailah dengan percakapan sederhana. Jangan takut salah!

2. Gunakan Bahasa Arab dalam Keseharian

Latih diri Anda untuk mengganti beberapa istilah harian ke dalam bahasa Arab. Contoh:

• Untuk “piring,” ucapkan صحن (shohn).

• Untuk “meja,” ucapkan طاولة (thaa-wilah).

3. Rekam Suara Anda

Rekam ketika Anda membaca teks bahasa Arab atau berbicara spontan. Dengarkan kembali untuk memperbaiki pelafalan dan intonasi.

4. Baca dan Tuliskan Ayat Al-Qur’an:

Membaca Al-Qur’an tidak hanya membantu Anda melafalkan huruf hijaiyah dengan benar, tetapi juga melatih kefasihan. Cobalah tuliskan ayat pendek seperti:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

(Inna ma’al-‘usri yusroo – Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).

5. Belajar dengan Penutur Asli atau Guru

Berkomunikasi dengan penutur asli atau seorang guru dapat memberikan Anda pengalaman langsung. Ini juga membantu Anda memahami ekspresi yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya Praktik

Stephen Krashen dalam Second Language Acquisition (1982) menjelaskan bahwa bahasa paling efektif dipelajari melalui konteks nyata dan interaksi langsung. Fokus pada praktik membuat pembelajar lebih cepat memahami pola dan struktur bahasa.

Jadikan Teori sebagai Dasar, Praktik sebagai Tujuan

Teori adalah fondasi, tetapi praktik adalah jembatan menuju kefasihan. Jangan biarkan ketakutan akan kesalahan menghentikan langkah Anda. Mulailah dengan hal kecil. Gunakan bahasa Arab dalam doa, percakapan sehari-hari, atau bahkan tulisan pendek.

“Bahasa bukan hanya soal kesempurnaan, tetapi soal keberanian untuk memulai.”